BI sebut sinergi TPID mampu tekan inflasi Kaltim

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur menyebutkan bahwa sinergi dan komunikasi intensif antara Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) provinsi dengan kabupaten, pemerintah, dan pihak terkait terbukti mampu menekan inflasi di daerah.

"Koordinasi dalam kerangka TPID di wilayah Kaltim terus dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga, sehingga inflasi terkendali," ujar Kepala BI Perwakilan Provinsi Kaltim Ricky Perdana Gozali di Samarinda, Jumat.

Pada bulan Agustus 2022, dilaksanakan koordinasi TPID wilayah Kaltim dalam rangka membahas kegiatan temu tani, operasi pasar, serta pasar murah untuk mendukung Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Baca juga: Tito ingatkan pemda jangan anggap enteng isu inflasi

Rapat koordinasi juga dilakukan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat melalui Rakornas Pengendalian Inflasi 2022 bersama Presiden Joko Widodo serta Kemendagri, untuk menetapkan pengendalian inflasi sebagai perhatian utama pemerintah pusat dan daerah.

Selain itu, dalam rangka mendorong peningkatan pasokan pangan lokal, TPID Kota Samarinda melaksanakan kegiatan gerakan tanam padi (P400 dan kegiatan panen padi IP300 di Kecamatan Sambutan.

Berbagai upaya lain seperti pemantauan harga secara harian, kemudian membangun kerja sama antardaerah dengan wilayah sentra produksi, khususnya terkait komoditas penyumbang inflasi, termasuk untuk mendukung stabilisasi inflasi Kaltim menuju rentang target inflasi nasional.

Ia menjelaskan, di antara hasil sinergi TPID selama, setidaknya dapat dilihat sepanjang Agustus 2022, yakni Kaltim mengalami deflasi 0,26 persen, setelah bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,61 persen.

Baca juga: Presiden Jokowi minta kepala daerah cermati penyebab inflasi tinggi

Berdasarkan kelompok pengeluarannya, deflasi pada Agustus 2022 bersumber dari penurunan harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau, serta kelompok transportasi.

Kelompok transportasi mengalami penurunan harga setelah beberapa bulan sebelumnya mengalami inflasi, yakni kelompok transportasi tercatat mengalami deflasi 1,49 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 1,21 persen.

"Deflasi disebabkan terutama oleh normalisasi permintaan masyarakat setelah berakhirnya libur sekolah dan Idul Adha bulan sebelumnya. Komoditas utamanya yang mendorong deflasi kelompok transportasi merupakan tarif angkutan udara yang mengalami penurunan harga sebesar 10,87 persen pada Agustus," kata Ricky.