BI-TPID pantau komoditas penyebab inflasi di Aceh hingga akhir tahun

Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Aceh mulai memantau harga beberapa komoditas yang berpotensi menjadi penyumbang inflasi di wilayah Aceh hingga akhir tahun 2022.

Kepala Perwakilan BI Aceh Achris Sarwani di Banda Aceh, Selasa, mengatakan saat ini pengendalian inflasi di Aceh sudah cukup baik. Inflasi pada September 2022 (month-to-month) dapat ditekan menjadi 0,77 persen, dari perkiraan mencapai 0,93 persen karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Dan (keberhasilan) ini menurut kami sebuah upaya bersama-sama yang harus dilanjutkan oleh provinsi maupun kota,” kata Achris di Kota Banda Aceh.

Saat ini, secara tahunan inflasi Aceh sebesar 7,38 persen (year on year) dan inflasi tahun kalender berada di 5,32 persen (year to date). Angka itu berada lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional 4,48 persen (year to date) dan 5,95 persen (yaer on year).

Pengukuran inflasi Aceh dilakukan di tiga daerah yakni Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Barat. Sebab itu, stok komoditas di tiga daerah tersebut harus terjaga dengan baik sejak sekarang hingga akhir tahun mendatang.

Baca juga: Ekspedisi rupiah, BI edarkan Rp3,5 miliar ke lima pulau di Aceh

Baca juga: Survei BI: Optimisme konsumen di Aceh terjaga selama Ramadhan

“Jadi pasokan tiga bulan ke depan ini menjadi sangat krusial,” kata Achris.

Terutama, lanjut dia, stok komoditas ikan. Hal ini menjadi penting mengingat masa panen ikan berakhir pada awal Desember, dan selanjutnya akan memasuki masa paceklik, dimana nelayan akan susah mendapatkan ikan tangkap akibat pengaruh iklim.

Kemudian, kata Achris, Aceh juga sudah harus bersiap menjaga persediaan beras, yang diperkirakan menjadi penyumbang inflasi. Hal itu terjadi karena banyak beras Aceh yang dijual ke luar daerah saat panen, sehingga akan kekurangan stok pada masa-masa tertentu.

“Karena struktur bisnis di Aceh tidak memungkinkan seluruh beras diolah di Aceh, sehingga saat waktu tertentu malah perlu membeli (beras) dari luar Aceh,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga sudah harus bersiap menjaga pasokan komoditas yang memang angka produksi sangat rendah di Aceh yakni seperti bawang merah, telur ayam, daging ayam, sehingga diperlukan langkah antisipasi mulai sekarang.

Oleh sebab itu, kata dia, semua kabupaten/kota di Aceh menjadi daerah penyangga, dengan meningkatkan produksi masing-masing potensi komoditas yang ada daerah.

“Misalnya cabai ada di Aceh Tengah, Bener Meriah, bahkan ada di juga Aceh Jaya jadi tinggal mengatur pola tanam. Jadi sudah business matching juga dengan pedagang sehingga bisa menjaga ketersediaan pasokan,” katanya.

BI mencatat ada 10 komoditas yang memberikan andil besar terhadap inflasi pada tahun 2022 sampai dengan September yaitu cabai merah, bensin, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, sewa rumah, beras, rokok kretek filter, cabai hijau, angkutan antar kota dan lontong sayur.

Baca juga: BI: Keyakinan konsumen menguat di Aceh

Baca juga: BI Aceh katakan investasi butuh komitmen dan sinergi lintas sektor