BI turunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI jadi 5,1 persen

Budi Suyanto
·Bacaan 1 menit

Bank Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan tahun 2021 yaitu akan berada pada kisaran 4,1 persen sampai 5,1 persen dari perkiraan sebelumnya 4,3 persen sampai 5,3 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan revisi proyeksi ini didasarkan oleh konsumsi swasta yang masih terbatas hingga Maret 2021 sejalan dengan pembatasan mobilitas manusia dalam rangka upaya pemerintah mengakselerasi program vaksinasi.

“Kita melihat pada triwulan I dan II meski terjadi vaksinasi tentu ada pembatasan. Pembatasan mobilitas manusia itu menyebabkan kenapa tingkat kenaikan konsumsi swasta tidak setinggi yang diperkirakan,” katanya dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Gubernur BI: Indonesia lebih optimis dibanding proyeksi IMF

Perry mengatakan sebenarnya konsumsi mengalami peningkatan yang terlihat dari berbagai indikator seperti ekspektasi konsumen dan penjualan ritel namun kenaikan tersebut masih lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Meski demikian, Perry menuturkan perbaikan ekonomi masih akan terus berlanjut hingga triwulan IV yang didukung oleh perbaikan kinerja ekspor, berlanjutnya stimulus fiskal, dan perbaikan investasi sebagaimana tercermin pada peningkatan PMI manufaktur.

Ia menyebutkan kinerja ekspor diprakirakan terus membaik dan lebih tinggi dari proyeksi awal tahun terutama didorong oleh komoditas CPO, bijih logam, pulp and waste paper, serta kendaraan bermotor dan besi baja.

Baca juga: Menko Airlangga proyeksi ekonomi 2021 "rebound" kisaran 5,5 persen

Peningkatan ekspor tersebut ditopang oleh kenaikan permintaan dari negara mitra dagang utama khususnya China.

Secara spasial, kinerja ekspor yang membaik terjadi di wilayah Jawa dan Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua).

Sementara itu, Perry mengatakan stimulus fiskal pemerintah dalam bentuk bantuan sosial, belanja barang dan belanja modal juga terus meningkat lebih tinggi dari perkiraan.

“Implementasi vaksinasi dan disiplin dalam penerapan protokol COVID-19 tetap diperlukan untuk mendukung percepatan perbaikan permintaan domestik,” tegasnya.