BI Wanti-wanti Gejolak Pasar Keuangan Saat Ini Merembet ke Sektor Riil

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVABank Indonesia (BI) mengungkapkan kondisi pasar keuangan dunia saat ini mengalami gejolak akibat percepatan pemulihan ekonomi yang tidak merata antar negara. Akibatnya, aliran dana para investor pergi ke negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menjelaskan, kondisi ini menyebabkan adanya sinyal bahaya dalam pasar keuangan Indonesia. Terutama, ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan kembalinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level bawah 6.000.

"Yang lebih berbahaya adalah terjadinya penurunan dari harga saham karena sebagian investor terutama yang asing sekarang merasa lebih aman, oke tempatkan saja ke AS karena AS ekonominya nya tumbuh lebih cepat dari negara lain," kata dia secara virtual, Selasa, 6 April 2021.

Oleh sebab itu, dia menekankan, terjadinya fenomena pada saat ini di mana di tengah membaiknya kondisi ekonomi dunia dari dampak Pandemi COVID-19, khususnya AS, nilai tukar negara-negara berkembang dan indeks bursa saham cenderung mengalami pelemahan.

"Ini bisa dilihat rupiah kita hari ini di kisaran cukup tinggi Rp14.500, IHSG sedikit menurun di bawah 6.000, yakni 5.970-an. Itu yang memberikan tantangan ke kita di awal tahun ini yang kita meyakini akan segera pulih," tegas Dody.

Dengan gejolak yang terjadi di sektor keuangan ini, Dody berharap supaya tidak ada rembetan di sektor riil. Sebab, sebagaimana di ketahui, sektor riil saat ini masih tertekan akibat dampak Pandemi COVID-19 yang menyebabkan daya beli menurun sehingga tidak ada konsumsi.

"Kalau gejolak di sektor keuangan ini terjadi harapannya jangan merambat ke sektor riilnya, jangan sampai kenaikan yield, pelemahan rupiah, penurunan IHSG, pelepasan surat berharga, itu terdampak ke sektor riil, ke sektor ekonomi lainnya," ungkapnya.

Berdasarkan pengamatan sejauh ini, Dody menekankan belum ada rembetan dari gejolak pasar keuangan saat ini ke sektor riil. Tercermin dari beberapa indikator cepat seperti mobilitas masyarakat, penjualan eceran hingga ke ekspektasi usaha.

Kondisi ini lebih disebabkan adanya faktor psikologis positif dari proses vaksinasi COVID-19 yang terus berlangsung dan adanya penurunan tren penyebaran wabah COVID-19, kematian hingga naiknya tingkat kesembuhan di Indonesia.

"Ini mudah-mudahan terus terjadi karena bagaimanapun kasus COVID itu relatif menurun, dari sisi vaksinasi terus berlangsung, ini yang kita yakin pemerintah mencapai target herd immmunity sekitar 60-70 persen pada Maret 2022," ucap Dody.