BI yakin defisit transaksi berjalan tahun ini menyusut dibanding 2018

Faisal Yunianto

Bank Indonesia meyakini defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) pada tahun ini akan lebih rendah dibanding realisasi 2018 yang sebesar 2,98 persen dari Produk Domestik Bruto atau 31,1 miliar dolar AS.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Jakarta, Jumat, mengatakan keyakinan tersebut didorong berbagai perkembangan ekonomi terakhir. Salah satunya, realisasi CAD hingga kuartal III 2019 yang sebesar 2,7 persen PDB atau 7,7 miliar dolar AS. Angka itu membaik dibandingkan kuartal II 2019 yang sebesar 2,9 persen PDB atau 8,2 miliar dolar AS.

Jika dibandingkan secara tahunan di periode sama, CAD kuartal III juga lebih baik karena pada kuartal III 2018 CAD mencapai 8,6 miliar dolar AS atau 3,28 persen terhadap PDB.

"Kita lihat di triwulan IV dengan gambaran seperti ini kami cukup yakin harusnya akan lebih baik," kata Dody.

Baca juga: BI akan genjot ekspor manufaktur tekan defisit transaksi berjalan

Dody memperkirakan total CAD pada 2019 akan berkisar pada 2,5 persen sampai tiga persen dari PDB. Secara spesifik, dia mengungkapkan keyakinannya bahwa CAD tahun ini tidak akan melampaui CAD 2018 sebesar 2,98 persen dari PDB.

"Kita melihat CAD masih di 2,5 - 3 persen PDB, dan akan di bawah 2018 yang sebesar 2,98 persen PDB," ujar dia.

Dia memandang perkembangan di kuartal III 2019 ini sudah menunjukkan perbaikan pada beberapa sektor ekonomi, antara lain, industri manufaktur, industri subsektor kendaraan, dan emas.

Baca juga: Sri Mulyani sebut akan gunakan instrumen fiskal tekan defisit

Hal tersebut juga yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III 2019 mencapai 5,02 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meskipun pertumbuhan itu melambat jika dibandingkan kuartal yang sama di 2018, Dody menilai angka tersebut sudah relatif baik. Pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2019 yang sebesar 5,02 persen juga di atas ekspektasi banyak pelaku pasar.

Dengan perkembangan CAD yang membaik di kuartal III 2019, maka kuartal IV 2019, data transaksi berjalan berpeluang bisa lebih baik. Hal ini dipicu juga mulai berdampaknya pemangkasan suku bunga acuan yang sudah dilakukan empat kali pada tahun ini menjadi lima persen.

"Selain itu, pada 2020 sektor riil akan lebih signifikan pertumbuhannya, sentimen ekspektasi positif sudah akan tercermin di kuartal IV 2019 nanti, dan memberikan gambaran PDB kita bisa jauh lebih baik," kata Dody.

Baca juga: BI masih yakin defisit transaksi berjalan turun ke 2,8 persen