Biar Gak Termakan Hoax, Cek Fakta Seputar Covid-19 dan Vaksin, Yuk!

·Bacaan 5 menit

VIVA – Kasus positif Covid-19 di Indonesia memang belum mereda, bahkan saat ini muncul varian baru yang membuat kasus Covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan.

Makin merebaknya kasus Covid-19 di Indonesia juga memicu berbagai macam informasi sehingga masyarakat cukup sulit membedakan mana informasi yang harus dipercaya mana yang hoax. Untuk itu Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) meluncurkan segmen Dear Doctor untuk mengedukasi masyarakat terkait pandemi dan Covid-19.

Dear Doctor kali ini menghadirkan dr. Suzy Maria, Sp.PD, KAI sebagai Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi. Dalam kesempatan ini dr. Suzy mengajak para pemirsanya atau yang biasa disebut healthizen untuk menanyakan pertanyaan seputar Covid-19 dan vaksin Covid-19.

Sebelumnya, dr. Suzy membuat polling yang berisi pertanyaan seputar vaksin Covid-19. Dari hasil polling tersebut sebanyak 73 persen menjawab masih takut divaksin.

“Untuk yang takut divaksin, ditanya kenapa ya kok takut divaksin? Sebanyak 42 persen jawab ga mau divaksin aja katanya, sedangkan 34 persen jawabannya karena belum yakin sama vaksinnya,” jelas dr.Suzy dalam program Dear Doctor yang ditayangkan KPCPEN melalui channel Youtube FMB9-IKP.

Masih dalam polling yang sama, untuk yang menjawab mau divaksin alasannya pun cukup unik. “Lalu, untuk yang jawabannya mau divaksin, kok mau divaksin? Sebanyak 52 persen menjawab supaya bisa kumpul-kumpul lagi dan ada jawaban lucu, yaitu 14 persen menjawab biar bisa update di sosial media,” jelas dr.Suzy.

Menanggapi hasil polling tersebut dr.Suzy pun membagikan penjelasannya mengenai vaksin Covid-19.

“Sebelum vaksin digunakan di masyarakat, vaksin harus melewati serangkaian uji klinis yang berstandar internasional untuk membuktikan bahwa vaksin ini aman dan efektif. Setelah melewati pengkajian uji klinis, barulah BPOM di Indonesia dan juga WHO atau organisasi kesehatan dunia memberikan ijin untuk digunakan di masyarakat,” jelasnya.

Nah, karena polling tersebut juga dr.Suzy pun mendapat beberapa pertanyaan dari netizen seputar Covid-19 dan vaksin Covid-19. Berikut pertanyaan yang muncul dari para netizen dan penjelasannya dari dr.Suzy.

Fakta seputar masker dua lapis

Dear doctor,

Dok, aku sering banget liat orang-orang pakai masker itu double, apa itu lebih aman dok? Kalau itu lebih aman berarti aku yang cuma pakai satu masker, mulai sekarang harus pakai double atau gimana ya dok? Hehehe

dr.Suzy menjelaskan bahwa aspek terpenting dalam menggunakan masker adalah justru bagaimana memakai masker yang benar.

“Memakai masker yang benar itu harus menutup seluruh hidung dan mulut dan tidak boleh ada celah di tepi-tepi masker. Dengan adanya celah, maka droplet dapat bisa sampai ke saluran nafas kita dan terhirup oleh kita. Jadi kalau kita menggunakan masker 2 lapis, yang dianjurkan adalah penggunaan masker medis bedah di sisi dalam, dan penggunaan masker kain di sisi luar,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa perlu diperhatikan tidak dianjurkan untuk menggunakan masker medis bedah 2 lapis karena masker medis bedah tidak didesain untuk menempel rapat di wajah.

“Jadi tidak akan ada guna tambahannya atau manfaat tambahannya kalau kita mengombinasikan 2 buah masker medis. Selain itu juga tidak dianjurkan untuk menggunakan respirator N95 bila dilapisi lagi dengan masker lain di luarnya. Itu juga tidak ada manfaat tambahan. Jadi, healthizen jangan sampai salah ya, kalau ingin memakai masker 2 lapis, cara yang benar adalah masker medis bedah di sisi dalam dan masker kain di sisi luar.”

Fakta efektifitas vaksin Covid-19

Dear doctor,

Jujur aku kepo bangettt seberapa efektif vaksin itu buat kita? Kalau nanti semua sudah suntik vaksin berarti kita sudah tidak pakai masker lagi yaa dok?

Vaksinasi menurut penjelasan dr.Suzy adalah salah satu upaya pencegahan penyakit infeksi. Vaksin dengan protokol kesehatan akan saling melengkapi.

“Dengan vaksinasi, tubuh kita berkenalan dengan kuman penyebab penyakit, misalnya dalam hal ini virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Jadi tubuh kita berkenalan membentuk respon kekebalan tubuh atau respon imun sehingga suatu hari kita kemasukan virusnya, tubuh kita sudah akan siap untuk melawan penyakit sehingga kita tidak mengalami sakit Covid-19. Jadi untuk sementara ini, walaupun sudah menerima vaksin tetap harus taati protokol kesehatan.”

Vaksin dan mutasi virus Covid-19 yang baru

Dear doctor,

Dok kan sekarang lagi rame kalau covid itu bermutasi, nah itu kenapa bisa mutasi kalau kayak gitu vaksin yang sekarang ampuh gak dok sama mutasi virus yang baru?

“Virus ketika berkembang biak dapat mengalami sedikit perubahan, itu adalah proses yang alamiah dan memang biasa terjadi,” kata dr.Suzy. Perubahan atau mutasi, lanjut dr.Suzy bisa saja tidak ada dampaknya sama sekali, bisa melemahkan virus dan bisa juga memperkuat virus.

“Tentunya virus yang menjadi kuat ini akan menjadi bertahan dan kemudian semakin berkembang biak. Vaksin Covid-19 yang tersedia saat ini memang efektifitasnya untuk varian Covid-19 yang baru agak sedikit menurun akan tetapi masih memenuhi standar dari WHO jadi bukan berarti vaksin sama sekali tidak efektif untuk mencegah Covid-19 varian yang baru. Jadi, sementara para peneliti terus mengembangkan vaksin Covid-19 yang baik agar dapat mengontrol juga varian virus Covid-19 yang baru, tugas kita para healthizen adalah untuk memutus rantai penularan Covid-19. Jangan berikan kesempatan kepada virus untuk terus bermutasi,” jelasnya.

Fakta seputar vaksin dan lansia

Dear doctor,

Dok ibu saya udah lansia tapi masih takut buat divaksin karena katanya punya darah tinggi dan diabetes, emang bener ya dok kalau punya penyakit bawaan ga bisa divaksin? Jadi syarat lansia yang boleh ikut vaksin Covid-19 apa dok?

Justru orang dengan penyakit penyerta dan lansia harus dilindungi dari Covid-19 dengan cara vaksinasi, kata dr.Suy, kenapa? “Karena kelompok ini justru berisiko tinggi bila terinfeksi Covid-19 secara alamiah mereka akan mengalami Covid-19 yang berat dan akan berisiko mengalami kematian. Tentunya dalam pelaksanaan vaksinasi kita ingin menghasilkan kekebalan optimal dengan efek samping yang minimal. Oleh karena itu jika memiliki penyakit penyerta, misalnya ada diabetes, hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru dan lain-lain sudah harus dalam keadaan diobati dan dalam keadaan stabil artinya tidak baru saja mengalami komplikasi akut akibat penyakit tersebut,” katanya.

Fakta seputar anak kecil dan imun yang lebih kuat

Dear doctor,

Dok, katanya anak kecil itu lebih kebal imunnya jadi ga mudah tertular tapi dia bisa menjadi pembawa virus/carrier. Itu benar ga sih dok? Kalau pembawa virus gitu dia tuh dinyatakan positif atau enggak sih dok?

dr.Suzy menjelaskan bahwa bukan anak kecil lebih kebal dari Covid-19 tapi seringkali anak kecil yang terinfeksi Covid-19 tidak bergejala. “Karena dia tidak bergejala tidak dilakukan pemeriksaan sehingga tidak terdiagnosis, bahayanya anak-anak yang tidak bergejala ini akan terus beraktivitas normal, berinteraksi dengan banyak orang, teman-temannya, keluarganya, sehingga dia bisa menularkan penyakit pada orang-orang sekitarnya tersebut,” jelasnya.

dr.Suzy juga menambahkan bahwa kasus positif Covid-19 terkonfirmasi kalau didapatkan pemeriksaan PCR ataupun antigen virus SARS-CoV-2 yang positif. Itu dapat ditemukan dalam keadaan tanpa gejala ataupun ada gejala Covid-19. “Jadi anak-anak bila didapatkan bagian dari virus disaluran nafasnya melalui pemeriksaan antigen atau PCR tetap disebut sebagai Covid positif,” jelas dr.Suzy.

Tidak lupa juga dr.Suzy mengingatkan para healthizen untuk terus menaati dan melaksanakan protokol kesehatan dan melaksanakan program vaksin Covid-19. “Ayo kita dukung pemerintah untuk melaksanakan program vaksin Covid-19 dan jangan lupa tetap taat melakukan protokol kesehatan,” tutupnya.

Untuk menonton tayangan lengkap Dear Doctor bersama dr.Suzy Suzy Maria, Sp.PD, KAI, kamu bisa menontonnya di sini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel