Biaya Kargo Naik Tajam Akibat COVID-19

Bayu Nugraha, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVAKementerian Perhubungan menyatakan Pandemi COVID-19 telah membawa dampak terhadap industri pelayaran. Biaya pengangkutan peti kemas, atau biaya kargo, secara global telah naik tajam.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo mengatakan, kenaikan biaya tersebut berpengaruh pada upaya perbaikan kinerja industri pelayaran dan perekonomian nasional.

"Dampaknya, hampir di semua negara harga sea freight dengan kontainer naik signifikan, waktu pelayaran lebih lama, terjadi penumpukan kontainer di pelabuhan, dan bongkar muat di pelabuhan pun lebih lama," kata dia seperti dikutip dari siaran pers, Minggu 3 Januari 2021.

Untuk itu dia menyatakan, akan mengambil sejumlah langkah supaya COVID-19 tidak terus menekan industri pelayaran. Pertama dengan melakukan pengawasan bongkar muat di pelabuhan.

"Sehingga peti kemas dapat segera didistribusikan dan kapal bisa berlayar kembali. Kedua, kami juga akan mempercepat peti kemas segera keluar dari pelabuhan sehingga kontainer segera dapat kembali ke depo dengan cepat," tegas dia.

Agar langkah tersebut lebih efektif, Kementerian Perhubungan dikatakannya berharap supaya kementerian dan lembaga negara terkait, melakukan percepatan yang sama.

Adapun operator pelayaran jalur utama diharapkan tetap dapat memberi ruang muat dari Indonesia, untuk tujuan ekspor. main line operator (MLO) diharapkan dapat menyediakan petikemas 40 High Cube.

"Berikutnya kami minta perusahaan pelayaran dalam negeri, khususnya yang tergabung dalam INSA, mengambil peluang utk memanfaatkan ruang muat pelayaran luar negeri yang berkurang. Kami juga menghimbau perusahaan eksportir melakukan subtitusi dengan memakai peti kemas 20 feet," ucap Agus.

Sebagaimana diketahui sejumlah negara telah menjalankan kebijakan penutupan atau lockdown akibat pandemi sejak awal tahun ini. Hal ini mengakibatkan terjadinya pembatasan pergerakan orang, barang, hingga pergerakan kapal.

Tak sedikit perusahaan pelayaran yang mengurangi kegiatan kapalnya, untuk menekan biaya operasional dan menstabilkan ongkos pengangkutan. Industri pelayaran global mulai menggeliat mulai Juli lalu, ketika China mulai menaikkan frekuensi ekspor.

Hanya saja, aktivitas di China ini tak serta-merta memulihkan industri pelayaran global. Sebab, pengiriman kontainer masih terbatas lantaran sejumlah negara masih menjalankan kebijakan penutupan. Sumber daya manusia untuk menjalankan aktivitas bongkar muat pun masih terbatas, sehingga keterlambatan dalam pengiriman dan pengumpulan kontainer pun terjadi.

Baca juga: Eks Menkop Subiakto Tjakrawerdaja Meninggal Dunia karena COVID-19