Biaya Transfer Uang ke Jepang dan Turki Enggak Sampai Rp70 Ribu

·Bacaan 2 menit

VIVA – Bank Dunia atau World Bank melaporkan meskipun saat ini dunia sedang mengalami pandemi COVID-19, hal ini tidak berpengaruh terhadap bisnis remitansi dunia. Bahkan, bisnis layanan pembayaran dan pengiriman uang itu menjadi tumpuan ekonomi bagi sejumlah negara.

Namun, saat ini masih banyak yang terkendala dalam melakukan transfer uang ke luar negeri di Indonesia, terutama karena biaya cukup mahal yang dibebankan oleh bank konvensional dan juga waktu pengiriman yang cukup lama.

Baca: Fitur Pembayaran WhatsApp Dibuka Lagi

Melihat potensi tersebut, Flip, aplikasi penyedia layanan transfer antarbank menambahkan daftar negara baru, seperti Jepang dan Turki. "Saat ini pengguna Flip sudah dapat melakukan transfer ke Jepang dan Turki dengan biaya Rp65 ribu saja," kata Head of Business Development Flip Wiena Brawijaya, Rabu, 26 Mei 2021.

Flip merupakan perusahaan teknologi keuangan atau fintech yang memiliki fitur remitansi yang bernama Flip Globe. Adapun fitur Flip Globe dapat melakukan transfer uang ke 12 negara di dunia seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Turki, Jepang, dan Australia.

Wiena mengaku jika Flip saat ini juga sudah memiliki lebih 3 juta pelanggan, dan telah melakukan transfer uang sebanyak triliunan rupiah setiap bulannya."Flip sudah memiliki lisensi dari Bank Indonesia yang membuat seluruh transaksi yang terjadi pada aplikasi maupun website Flip," jelasnya.

Flip yang sejak awal berdiri sangat customer centric, selalu berusaha memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam melakukan transaksi finansial secara digital bagi penggunanya.

Dalam era digital yang menghilangkan batas internasional, Flip berusaha memenuhi kebutuhan pengguna dalam mengirimkan uang ke luar negeri dengan layanan mudah dan dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dan biaya relatif lebih murah. "Kami berikan layanan terbaik dan tercepat," tutur Wiena.

Sebagai informasi, didirikan pada 2016, Flip sudah dapat melayani transfer beda bank ke 16 bank di Indonesia dan juga transfer ke 12 negara di dunia. Layanan pembayaran dan pengiriman uang atau remitansi secara digital terdongkrak pandemi COVID-19.

Namun, pelaku usaha di sektor ini menghadapi setidaknya empat tantangan yakni biaya tinggi, lambatnya pengiriman, proses yang rumit, dan transparansi. Survei terbaru dari perusahaan teknologi remitansi global, Wise menunjukkan bahwa 70 persen responden mengeluhkan biaya tinggi saat mengirim uang ke luar negeri.

Kemudian, 77 persen menilai proses transfer lambat, khususnya dalam menunggu kiriman uang tiba di negara tujuan. Sebanyak 75 persen merasa tidak nyaman, karena harus bepergian ke kantor fisik selama jam kerja dan proses verifikasi identitas yang lama jika mengirimkan uang ke luar negeri. Lalu, 71 persen mengeluhkan rendahnya transparansi.