Bibit Konflik PKS Dimulai Pada Pemilu 2009

TEMPO.CO, Jakarta - Pada 2002, Partai Keadilan resmi berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Selain mengubah nama, PKS juga mengubah imej partai, dari semula eksklusif menjadi lebih terbuka.

Perubahan strategi ini membawa suasana baru bagi partai politik berbasis dakwah ini. Apalagi ketika mereka berhasil meraih 7,34 persen suara pada pemilu legislatif 2004.

Menurut Burhanuddin Muhtadi dalam buku Dilema PKS: Suara dan Syariah, kesuksesan itu hasil dari strategi elektoral dua arah yang dianut PKS. Partai ini, kata Burhanuddin, secara sadar merangkul kaum Islamis dan non-Islamis, secara bersamaan.

Strategis Islamis, kata Burhanudin, penting bagi PKS untuk mempertahankan basis konstituennya yang berdomisili di daerah perkotaan, terdidik, muda, dan ortodoks.

"Sementara jalur non-Islamis dipakai PKS dengan mengangkat isu universal, seperti anti-korupsi dan pemerintahan bersih," tulis Burhanuddin.

Pada Pemilu 2009, PKS kembali mencoba mendongkrak perolehan suaranya dengan strategi serupa. Kali ini, PKS bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan diri sebagai partai terbuka. Dalam iklan kampanye PKS di televisi, PKS berani menampilkan sosok anak punk serta perempuan tak berjilbab.

Tak hanya itu, PKS berani menyodorkan calon legislator yang non-Muslim. Ini perubahan yang cukup mendasar bagi sebuah partai yang semula berangkat dari gerakan Tarbiyah di kampus-kampus.

Tapi jalan yang dipilih ini belakangan terbukti jadi pisau bermata dua bagi PKS. Di satu sisi, kampanye massif PKS sebagai partai terbuka berhasil meningkatkan basis dukungan elekoral dari wilayah-wilayah yang sebelumnya bukan lumbung suara mereka. PKS mendulang suara signifikan di  Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah.

Namun di pihak lain, kampanye itu menjadi masalah tersendiri di internal partai. Tidak semua basis PKS setuju dengan strategi politik itu.

"Memang ada pertentangan dalam tubuh PKS di kampanye 2009," tulis Burhanuddin. Tapi hasil pemilu yang melambungkan suara PKS dari 7,34 persen menjadi 7,9 persen, membuat konflik ini tak terlalu mengemuka. Apalagi kursi PKS di DPR pun naik dari 45 kursi menjadi 57 kursi. Lewat Pemilu 2009, PKS resmi menjadi partai keempat terbesar di Indonesia.

CORNILA DESYANA

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.