Biden Disebut Mau Tunjuk Obama Jadi Dubes di Inggris Bikin Gempar

Ezra Sihite, Dinia Adrianjara
·Bacaan 2 menit

VIVA – Calon Presiden Amerika Serikat terpilih Joe Biden disebut-sebut akan mencalonkan Presiden ke-44 AS Barack Obama untuk menjabat sebagai duta besar AS di Inggris. Informasi ini berdasarkan laporan media The Sunday Times, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.

"Saya mendengar ada kemungkinan bahwa Obama bisa diminta untuk posisi tersebut, sebagai ucapan terima kasih," kata sumber itu seperti dikutip Sputniknews. Biden pernah menjabat sebagai wakil presiden di era kepemimpinan Obama, antara tahun 2009 dan 2017.

Media Inggris menyebut langkah untuk menunjuk Obama sebagai duta besar mungkin terbilang memalukan bagi Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson. Hal ini disebut demikian mengingat pernyataan Johnson sebelumnya yang dicap tidak ramah bila menyoal Barack Obama.

Pada 2016 misalnya, ketika Johnson masih menjabat sebagai wali kota London, dia pernah mengomentari keputusan pencopotan patung PM Inggris Winston Churchill dari Oval Office, tak lama setelah Obama menjadi presiden.

Sementara itu, mantan jubir Presiden Obama, Tommy Vietor, dalam cuitannya pekan lalu mengatakan, mereka tidak akan pernah melupakan komentar rasis yang dilontarkan Johnson tentang Obama dan "pengabdiannya" yang berlebihan terhadap Donald Trump.

Biden telah menyatakan diri sebagai presiden terpilih, tak lama setelah dia diproyeksikan oleh sebagian besar jaringan media di AS telah memenangi suara. Sementara itu, petahana Donald Trump bersikeras bahwa pemilu masih jauh dari selesai dan menegaskan akan mengajukan lebih banyak tuntutan hukum.

Sementara itu, calon petahana Presiden Donald Trump belum mau mengaku kalah. Konstitusi AS secara jelas menyatakan bahwa masa jabatan presiden berakhir "pada tengah hari, 20 Januari".

Joe Biden diproyeksikan menang di sejumlah negara bagian yang membuatnya dapat meraih 270 suara dalam sistem Electoral College. Dengan demikian, dia punya hak untuk menjabat presiden selama empat tahun mendatang.

Adapun Donald Trump masih memiliki kewenangan sah yang dapat dia gunakan untuk menggugat hasil pemilu.

Namun, jika tidak ada peristiwa dramatis di pengadilan dalam waktu dekat dan bukti kejanggalan dalam pemilu yang dia sebut-sebut ternyata nihil, presiden baru akan mulai menjabat pada 20 Januari dan Trump harus lengser.