Biden raih nominasi Demokrat untuk hadapi Trump pada pemilihan 2020

Washington (AFP) - Joe Biden, Jumat, mengatakan ia telah mengamankan dukungan dari sejumlah delegasi yang diperlukan untuk meraih nominasi Demokrat dan menghadapi Donald Trump dalam pemilihan presiden AS pada November.

"Teman-teman, malam ini kami mengamankan 1.991 delegasi yang diperlukan untuk memenangi nominasi Demokrat," kata mantan wakil presiden itu di Twitter.

"Saya setiap hari akan berjuang untuk mendapatkan suara kalian sehingga bersama-sama kita bisa memenangkan pertarungan bagi jiwa bangsa ini."

Biden melewati ambang batas 1.991 untuk mengamankan nominasi di partainya sementara penghitungan berlanjut dari putaran pemilihan pendahuluan Demokrat pada Selasa.

Biden telah dianggap sebagai penantang dari Demokrat sejak Senator Vermont Bernie Sanders mundur dari persaingan pada April. Sanders kemudian mendukung saingannya itu, yang pernah menjabat di Gedung Putih.

Biden mencapai ambang dukungan yang ditentukan saat negara sedang dilanda protes atas kematian warga Afrika-Amerika, George Floyd, di tangan polisi.

Kematian Floyd telah menyalakan kembali amarah yang sekian lama dirasakan atas pembunuhan orang-orang Afrika-Amerika oleh polisi. Pembunuhan itu juga menimbulkan gelombang kerusuhan sipil secara nasional, yang selama ini tidak pernah terjadi di AS sejak pembunuhan Martin Luther King Jr pada 1968.

"Ini adalah masa yang sulit dalam sejarah Amerika. Dan politik Donald Trump yang penuh kemarahan dan memecah belah bukanlah jawaban," tulis Biden dalam sebuah unggahan di Medium.

"Negara ini menyerukan kepemimpinan. Kepemimpinan yang dapat menyatukan kita. Kepemimpinan yang dapat membawa kita bersatu."

Tanggapan Biden terhadap protes tersebut sangat berbeda dengan Trump, yang mengancam akan mengerahkan militer terhadap warga Amerika.

Dalam pidato pertamanya di depan publik sejak masuk ke isolasi pada pertengahan Maret karena wabah virus, Biden menyebut kematian Floyd sebagai "peringatan untuk bangsa kita" dan menuduh Trump mengubah AS menjadi "medan perang yang dipenuhi oleh kebencian lama dan ketakutan baru."

Biden, yang berusia 77 tahun dan selama delapan tahun menjabat sebagai wakil presiden kulit hitam pertama Amerika, Barack Obama, telah berjanji untuk menangani "rasisme sistemis" jika ia terpilih ke Gedung Putih.

"Kita membutuhkan keadilan yang setara -dan kesempatan yang sama- bagi setiap warga Amerika sekarang. Kita membutuhkan seorang presiden yang peduli untuk membantu kita sembuh -sekarang," tulisnya.

Pencalonan Biden dalam nominasi Demokrat sebelumnya mengalami bencana setelah ia mengalami kekalahan awal di Iowa, New Hampshire dan Nevada dari Sanders, saingannya yang berapi-api.

Tetapi kekuatannya muncul kembali saat pemilihan pendahuluan pada akhir Februari berkat kekuatan dukungan luar biasa dari kalangan pemilih Afrika-Amerika, basis penting dukungan Demokrat.

Biden sekarang diharapkan akan menyebutkan pasangannya, setelah berjanji untuk memilih seorang perempuan.

Senator Kamala Harris, mantan jaksa agung California berusia 55 tahun, dianggap sebagai salah satu calon terkuat untuk menjadi wakil presiden Biden.

Harris, yang merupakan keturunan Jamaika dan India, sempat dianggap sebagai pesaing utama dalam pencalonan presiden dari Demokrat tetapi ia mundur pada Desember setelah gagal menembus persaingan ketat.

Dalam rata-rata jajak pendapat, RealClearPolitics memberi Biden keunggulan 7,1 poin atas Trump dalam pemilihan.

bur-mtp/rma