Biden tuduh Trump menyerah dalam perang melawan Covid

·Bacaan 4 menit

Washington (AFP) - Calon presiden AS Joe Biden pada Minggu menuduh Donald Trump menyerah dalam perang melawan Covid-19 ketika presiden itu menghadapi wabah baru dalam timnya, melonjaknya infeksi di seluruh negeri dan pengakuan yang tidak nyaman dari kepala stafnya.

Sembilan hari sebelum pemungutan suara -dan setelah kematian akibat virus corona AS yang dilaporkan telah melampaui total suram 225.000 orang- kepala staf Trump Mark Meadows mengakui Minggu bahwa "kita tak akan mengendalikan pandemi", yang katanya hanya bisa dilakukan lewat "vaksin, obat, dan wilayah-wilayah mitigasi lainnya. "

Pengendalian tidak praktis, kata dia, karena "ini adalah virus yang menular seperti flu."

Biden segera menyergap pernyataan Meadows ketika dia kembali mengecam pemerintah terkait virus yang sudah mencatat rekor baru kasus dalam beberapa hari terakhir dengan hampir 90.000 terinfeksi pada Sabtu.

"Itu adalah pengakuan jujur tentang strategi Presiden Trump sejak awal krisis ini: mengibarkan bendera putih kekalahan dan berharap dengan mengabaikannya, virus akan hilang begitu saja," kata mantan wakil presiden itu dalam satu pernyataan.

"Tidak, dan tidak akan."

Trump pada Minggu melanjutkan kampanye sengitnya untuk masa jabatan kedua di Gedung Putih, dengan singgah di New Hampshire dan Maine.

Usahanya yang berulang kali menyepelekan parahnya pandemi atau mengalihkan perhatian pemilih ke bidang lain telah menemui kabar buruk terus-menerus mengenai virus tersebut.

Contoh terbaru adalah kepala staf Wakil Presiden Mike Pence Marc Short, dan dilaporkan beberapa pembantunya, dites positif Covid, membengkakkan daftar staf pemerintahan yang terjangkit virus.

Juru bicara kampanye Tim Murtaugh mengatakan Minggu bahwa Pence akan terus, dengan persetujuan dokter, safari ke seluruh negeri pada hari-hari kampanye yang memudar. Baik Pence maupun istrinya dinyatakan negatif, kata dia.

"Orang-orang dalam stafnya berada di karantina, dan dia mengandalkan nasihat medis yang sangat tepat dari unit medis Gedung Putih," kata Murtaugh kepada Fox News.

Keputusan Pence yang merupakan ketua satuan tugas virus corona Gedung Putih dalam mengabaikan nasihat tetap para ahli kesehatan agar mengkarantina diri memicu kecaman dari pasangan Biden, Kamala Harris, yang juga mengkritik Meadows karena menyamakan virus corona dengan flu.

"Ini kegagalan terbesar dari pemerintah presiden mana pun dalam sejarah Amerika," kata dia.

Pada Minggu, Trump kembali berusaha mengesampingkan himpitan berita Covid yang buruk dengan mengatakan kepada pendukungnya di New Hampshire:

"Kita tengah membalikkan keadaan, kita tengah mengakhiri tikungan, kita punya vaksin, kita memiliki segalanya, kita tengah mengakhiri tikungan. Bahkan tanpa vaksin, kita mengakhiri tikungan."

Belum ada vaksin yang disetujui untuk virus itu, dan para pakar kesehatan mengingatkan timbulnya ribuan kematian lagi dalam bulan-bulan mendatang.

Trump dan para pembantunya sudah berulang kali menyerang tingkat energi Biden dan apa yang mereka sebuat catatan prestasinya yang tipis.

Murtaugh mengecam Biden karena jadwal kampanyenya yang ringan, dengan mengatakan calon presiden dari Demokrat itu "merasakan panas" dan "mengambil lima dari enam hari libur" sebelum debat calon presiden terakhir pada Kamis.

Pernyataan itu kontras dengan kecepatan kampanye yang dipertahankan Trump (74), ketika Biden merancang arah yang lebih hati-hati, lebih jarang berbicara dan kepada kelompok-kelompok lebih kecil dan mempraktikkan jaga jarak sosial.

Biden (77) pada Minggu berencana hanya akan mengambil bagian dalam konser virtual, kata kampanyenya.

Tetapi wakil manajer kampanyenya dengan penuh semangat membela dia dengan mengatakan kepada program NBC "Meet the Press," bahwa "kami berkampanye dengan luar biasa keras."

"Perbedaan antara apa yang kami lakukan dengan apa yang dilakukan Donald Trump," kata Kate Bedingfield, adalah "kami melakukannya dengan aman."

Menjelang pemilu 3 November dan dengan lebih dari 57 juta warga Amerika sudah memberikan suaranya secara dini- kedua tim kampanye berebut menyampaikan argumen penutup mereka.

Pada Sabtu, Biden yang bersemangat dan mantan presiden Barack Obama menuduh Trump sunguh salah dalam menangani pandemi.

"Donald Trump tidak akan seketika melindungi kita semua. Dia bahkan tidak bisa mengambil langkah-langkah dasar dalam melindungi dirinya sendiri," kata Obama, merujuk kepada dirawatnya Trump akibat Covid-19 tiga pekan silam.

Tetapi presiden terus menunjukkan kepercayaan diri.

Menandaskan bahwa dia akan menjadi pelayan yang lebih baik bagi perekonomian negara, dia mengatakan kepada pendukung di North Carolina, "Pemilu ini adalah pilihan antara pemulihan super Trump dan depresi Biden."

"Covid, covid, covid," kata Trump pada Sabtu, mengeluhkan media yang terpaku kepada masalah tersebut.

Tanggapan Biden: Trump sendiri harus lebih terpaku kepada masalah itu.

"Donald Trump berkata, dan masih berkata, 'Ini akan hilang. Kita sedang belajar bagaimana menghadapinya,'" kata Biden Sabtu di negara asalnya Pennsylvania, sebuah negara bagian suara mengambang yang menentukan.

"Kita tidak belajar bagaimana menjalaninya. Anda meminta kita untuk belajar bagaimana mati dengannya."

Tetapi baik Partai Republik maupun Demokrat mewaspadai pemungutan suara setelah kemenangan mengejutkan Trump pada 2016 ketika dia mengalahkan Hillary Clinton.

bbk/jm