Bikin Buta dan Tak Bisa Sembuh, Kenali Penyebab Glaukoma

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVAGlaukoma merupakan penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan cairan dalam bola mata menjadi terlalu tinggi, sehingga dapat merusak serabut saraf mata pembawa sinyal penglihatan dari mata ke otak.

Penyakit ini menjadi penyebab utama kebutaan di seluruh dunia, tertinggi kedua setelah katarak. Bersifat kronis, glaukoma memberi dampak yang sangat besar terhadap kualitas hidup penyandangnya.

Mulai dari timbulnya perasaan cemas hingga depresi, karena adanya risiko kebutaan dan aktivitas sehari-hari penderita juga mengalami keterbatasan lantaran lapang pandang mereka terganggu.

Kehidupan sosial pun terkendala karena hilangnya penglihatan yang berangsur-angsur, serta harus bergantung kepada orang lain sehingga produktivitas penderita menjadi menurun.

Data terakhir Kementerian Kesehatan RI yang tercantum melalui laporan 'Situasi Glaukoma di Indonesia' pada 2019, memprediksi jumlah penderita glaukoma secara global pada 2020 mencapai 76 juta, atau meningkat sekitar 25,6 persen dari angka satu dekade lalu yang masih 60,5 juta orang.

Sementara di Indonesia sendiri, data yang sempat dirilis secara resmi barulah prevalensi glaukoma sebesar 0,46 persen atau setiap 4 sampai 5 orang per 1.000 penduduk.

Dokter Subspesialis Glaukoma JEC, Dr. Iwan Soebijantoro, SpM(K), mengatakan, kondisi glaukoma di Indonesia masih memprihatinkan lantaran penderita seringkali baru mencari pengobatan ketika sudah pada stadium lanjut.

"Karenanya, penatalaksanaan glaukoma sedini mungkin melalui pemeriksaan berkelanjutan dan pengawasan dokter ahli secara konstan sangatlah penting. Tak terkecuali, saat pandemi COVID-19. Tujuannya, agar progresivitas penyakit ini dapat dikontrol dan kerusakan saraf mata bisa diperlambat sehingga kebutaan pun tercegah," ujarnya saat JEC Eye Talks yang digelar virtual, Rabu 17 Maret 2021.

Lebih lanjut, dokter Iwan turut menjabarkan beberapa faktor yang dapat menyebabkan penyakit glaukoma ini.

"Faktor risiko utama adalah tekanan bola mata tinggi. Kemudian yang lainnya seperti orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas dan memiliki keluarga yang juga menderita glaukoma, bahkan 9 kali lebih berpotensi menderita penyakit mata ini," kata dia.

Penyebab lainnya, kata Iwan, seperti penderita miopia atau mata minus dan plus atau hipermetropia tinggi, pengidap penyakit degeneratif (diabetes melitus, hipertensi, dan kelainan kardiovaskular), pernah terkena cedera mata, pengguna steroid dalam jangka panjang, serta multifaktorial atau banyak yang belum diketahui.