Bikin Jenderal Bintang 4 Ngamuk, Pentolan Kopassus Dicopot

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kiprah seorang Perwira Tinggi (Pati) Tentara Nasional Indonesia (TNI) tentu tak hanya tergantung pada prestasinya saja. Faktanya, karier seorang perwira TNI dengan pangkat bintang sangat dipengaruhi juga oleh atasannya.

Sebuah kisah keberanian lahir dari sosok Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Agum Gumelar, Purnawirawan Pati TNI Angkatan Darat yang menghabiskan kariernya bersama satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Jebolan Akademi Militer Nasional (AMN) 1969 ini adalah rekan satu angkatan mantan Gubernur DKI Jakarta dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI (Purn.) Sutiyoso, dan mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Jenderal TNI (Purn.) Wiranto.

Dikutip VIVA Militer dari buku otobiografi "Agum Gumelar: Jenderal Bersenjata Nurani", Agum tak hanya dikenal sebagai seorang prajurit TNI yang kenyang dengan pengalaman tempur. Pria kelahiran Tasikmalaya 17 Desember 1945 ini juga sarat kemampuan dalam hal intelijen.

Sesuai dengan julukannya, "jenderal bersenjata hati nurani", Agum dikenal sangat berpegang teguh pada kebenaran. Saat bertugas di sejumlah operasi militer seperti di Sarawak hinga Timor-Timur, Agum lebih memilih mengalahkan musuh lewat jalur diplomasi daripada menggunakan senjatanya.

Suatu ketika saat Agum menduduki posisi sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, ia memberikan pernyataan yang sangat membuat gempar. Waktu itu, Agum masih berpangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI, di era Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia (RI) kedua, Jenderal TNI (Purn.) Soeharto.

Pada saat rapat pimpinan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Agum berbicara mengenai kelompok pendukung Petisi 50, yang dibentuk pada 5 Mei 1980 silam.

Kelompok Petisi 50 adalah penentang penggunaan filsafat negara Pancasila oleh Presiden Soeharto terhadap lawan-lawan politiknya. Tak hanya itu, Agum juga menyinggung soal sikap memusuhi Megawati Soekarnoputri dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga tidaklah tepat.

"Kalau kita menganggap Megawati dan para pendukungnya musuh, kalau kita menganggap Gus Dur dan pengikutnya musuh, kalau kita menganggap kelompok petisi 50 musuh dengan pengaruh-pengaruhnya musuh, maka sesungguhnya kita kebanyakan musuh," ujar Agum.

"Padahal falsafah Cina Sun Tzu, menyatakan bahwa seribu kawan masih kurang, satu musuh kebanyakan," katanya.

Pernyataan Agum ini jelas membuat Soeharto kesal. Sebab Soeharto sangat memusuhi tokoh-tokoh pendukung petisi 50 semisal Letjen TNI (Mar) (Purn.) Ali Sadikin, Jenderal Pol. (Purn.) Hoegeng Imam Santoso ataupun Letjen TNI (Purn.) Muhammad Jasin.

Bukan cuma sosok-sosok itu saja. Soeharto juga tidak sejalan dengan Megawati yang notabene adalah putri Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, dan Gus Dur sebagai ulama besar Nahdatul Ulama.

Sebagai akibat dari pernyataannya yang sangat keras, Agum pun dicopot dari jabatannya sebagai Danjen Kopassus. Ia kemudian dipindah tugaskan sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) I/Bukit Barisan, Pangdam VII/Wirabuana, atau yang sekarang bernama Kodam XIV/Hassanudin.

Setelah rezim Orde Baru runtuh pasca pengunduran diri Soeharto sebagai Presiden RI, Agum sempat ditunjuk menjadi Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), dengan pangkat Letnan Jenderal (Letjen) TNI.