Bima Arya Klaim Kasus Positif Covid-19 di Kota Bogor Turun karena Ganjil Genap

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan volume kendaraan mengalami penurunan selama diberlakukan ganjil genap di Kota Bogor. Tak hanya itu, tren harian kasus positif Covid-19 pun demikian seiring adanya pembatasan mobilitas masyarakat di Kota Hujan.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Bogor menunjukan bahwa kasus harian Covid-19 menurun 41,7 persen. Tren tersebut terlihat dari angka konfirmasi positif setiap harinya dari tanggal 6 sampai 14 Februari 2021.

Rinciannya, tanggal 6 sebanyak 187 kasus, tanggal 7 ada 178 kasus, tanggal 8 sebanyak 175 kasus, tanggal 9 sebanyak 174 kasus, tanggal 10 turun menjadi 165 kasus, tanggal 11 turun kembali sebanyak 150 kasus, tanggal 12 sebanyak 129 kasus, tanggal 13 128 kasus, dan hari turun di angka 109 kasus.

"Jadi kita lihat ada angka yang terus menurun dari minggu lalu. Kita masih akan pelajari besok dan beberapa hari ke depan. Tetapi trennya sudah terlihat, ada indikasi yang sangat kuat tren itu menurun,” jelas Bima saat meninjau hari terakhir penerapan ganjil genap di Gerbang Tol Exit Baranangsiang, Minggu (14/2/2021).

Penurunan kasus Covid-19, lanjut Bima, kemungkinan karena kebijakan ganjil genap. Selain itu, penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro di tingkat RT/RW.

"Kita melihat juga data-data di wilayah itu. Jadi titik-titik yang diperketat itu apakah memang berkurang jumlah positifnya. Kalau dugaan saya berkurangnya ini karena dua hal tadi. Karena di satu sisi digempur lewat ganjil genap, di sisi lain wilayah diperkuat dari PPKM,” katanya.

Ikuti cerita dalam foto ini https://story.merdeka.com/2303605/volume-5

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Ganjil Genap Diperpanjang?

Meskipun ganjil genap diklaim sukses menurunkan kasus Covid-19, namun Bima mengaku belum bisa memutuskan akan memperpanjang kebijakan tersebut. Sebab, harus melihat tiga faktor yakni dimensi, aspek kesehatan, dan aspek ekonomi.

"Faktor dimensi bisa mengurangi mobilitas warga. Kendaraan dari luar maupun dalam Bogor memang berkurang. Kedua, dari aspek kesehatan, saya tidak mau mengatakan ini berhasil karena masih harus melihat beberapa hari ke depan. Tapi terjadi tren penurunan kasus Covid-19 dari 187 ke 109 kasus," terangnya.

Kemudian aspek ekonomi, kata dia, harus menjadi perhatian ketika memperpanjang ganjil genap. Hal ini agar tidak mengganggu perekonomian warga terutama di sektor pariwisata dan jasa.

"Saya mau lihat data hotel, restoran, toko-toko, UMKM, pasar, dan lain sebagainya. Apakah bila ganjil genap setiap akhir pekan merugikan secara ekonomi. Atau kebijakan itu pun kondisi perekonomian tidak jauh berbeda," ujarnya.

"Jadi perlu hati-hati melihat data. Prinsip kita adalah analisis secara holistik, harus komprehensif. Untuk itu, selama dua hari ke depan kita akan dialog dengan PHRI, manajemen mal dan lainnya untuk meminta datanya," tambah Bima.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: