Bima Arya Ungkap Perlu Sistem Rujukan Pasien COVID-19 di Jabodetabek

Daurina Lestari, Muhammad AR (Bogor)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, perlu adanya sistem rujukan untuk mengatasi kelangkaan tempat tidur akibat tingginya kasus COVID-19 di Jabodetabek.

“Jadi kemarin itu ada usulan dari Provinsi Jakarta, katanya Pemerintah Pusat diminta bahasanya mengambil alih. Tapi saya kira poinnya begini, harus ada koordinasi yang lebih intens lagi untuk mengatasi kelangkaan keterisian tempat tidur, salah satunya aplikasi sistem rujukan,” kata Bima Arya dalam dialog bertajuk ‘Kesiapan Rumah Sakit Darurat Daerah’ yang digelar Satgas Penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Jakarta, Rabu 27 Januari 2021.

“Jadi warga itu bisa tahu yang kosong di mana. Datanya harus selalu diperbarui. Saya itu sering ditelepon warga Jakarta, kawan-kawan atau saudara. Mereka bilang Jakarta penuh (ruang isolasi/ICU), Bogor bagaimana,” tambahnya.

Menurut Bima, di Kota Bogor sudah membangun sistem rujukan itu. Tapi harus ditingkatkan lagi sehingga warga bisa meng-update secara realtime.

“Saya pikir kalau di Jabodetabek ada sistem itu kan bagus bisa menolong warga. Tapi tantangannya memang bagaimana supaya data itu update. Kalau kosong ya kosong, kalau isi ya terisi. Semuanya harus diperbaharui oleh fasilitas kesehatan,” jelas Bima.

Baca juga: ICW Minta Kapolri Listyo Bongkar Praktik Korupsi Internal Polri

Pemkot Bogor, kata Bima, terus berikhtiar untuk menekan bed occupancy ratio (BOR) yang angkanya sempat melebihi 80 persen. Pemkot Bogor pun sudah mengoperasikan RS Lapangan, lalu meminta seluruh rumah sakit rujukan menambah ruang isolasi dan ICU.

“Tapi kita tidak berhenti di sini, kita juga masih mempersiapkan tempat isolasi untuk OTG. Ada hotel yang sekarang dalam proses percepatan untuk bisa digunakan sebagai tempat isolasi OTG,” katanya.

Bima mengatakan, per hari ini BOR di Bogor ada di angka sekitar 70 persen. Memang masih di atas ambang batas.

“Tetapi saya melihat ada progres di sini. Rutin kami koordinasi dengan pimpinan RS untuk memastikan usaha-usaha mereka untuk menambah ruang isolasi dan ICU tadi,” katanya.

Lebih jauh Bima Arya memprediksi, hingga akhir 2021 nanti Kota Bogor akan mencatatkan 11.000 kasus positif akumulasi. Sehingga diperlukan langkah-langkah untuk mengantisipasi skenario terburuk terjadi.

“Ini sudah kita hitung dari sekarang, nambah di RS mana saja. Jadi setiap RS itu kita cek maksimal tambah berapa sampai Desember. Kalau RS sudah mentok kapasitasnya, baru kita buat di mana lagi untuk menambah ICU tadi,” ujar Bima.