Bima Darurat Teror Panah

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Kejahatan jalanan teror panah baik di Kabupaten maupun Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) membuat resah masyarakat. Belum diketahui apakah ini terkait dengan aksi tawuran. Namun dalam dua bulan terakhir ini, aksi ini terbilang massif dan menjadi momok menakutkan.

Berdasarkan catatan kepolisian, dalam dua bulan terakhir ada ratusan anak panah dan ketapel berhasil disita. Pelakunya banyak berasal dari golongan anak yang masih berstatus pelajar SMP hingga SMA.

Terakhir, Jumat (22/4), Tim Puma Satreskrim Polres Bima menangkap empat anak muda dengan tiga di antaranya masih di bawah umur. Mereka ditangkap karena diduga melakukan penganiayaan dengan menggunakan parang dan panah.

Penangkapan keempat terduga pelaku masing-masing inisial MF Alias HB (20), US alias RG (18), KP Alias FS (17), dan DR (16) yang merupakan warga Desa Talabiu, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima dilakukan berdasarkan laporan pengaduan tentang tindak pidana penganiayaan tanggal 21 April 2022.

"Kejadian itu menimpa dan melukai salah satu korban AG (17) warga Desa Rabakodo," kata Kapolres Bima AKBP Heru Sasongko. Dikutip dari Antara, Jumat (22/4).

Kejadian itu berawal saat korban bersama 11 temannya menuju jalan baru Panda menggunakan sepeda motor, sesampai di tempat kejadian perkara (TKP) tiba-tiba korban serta teman-temannya langsung diadang para terduga pelaku dengan menggunakan motor. Mereka tanpa basa-basi langsung memukul korban, namun berhasil ditangkis korban.

Setelah itu, terduga pelaku datang dari arah belakang langsung membacok korban dengan sebilah parang, sehingga korban lari mengamankan diri ke lesehan di sekitar TKP.

Para pelaku kemudian mengejar rekan-rekan korban dengan menggunakan motor, sehingga mengalami luka gores di kepala bagian kiri akibat sabetan parang. Korban melaporkan kejadian yang menimpa dirinya ke SPKT Mapolres Bima.

Mendapat informasi, anggota kepolisian segera melakukan penyelidikan dan segera menangkap para terduga pelaku dan membawanya ke Mapolres Bima untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan sementara, terduga pelaku yang berinisial MF alias HB ini membawa panah lengkap dengan busurnya, dan sempat memanah korban dan teman korban. Sedangkan US alias RG membawa sebilah parang yang digunakan untuk melukai korban.

"Aksi keempat terduga ini dilakukan di jalan baru Panda, Kamis (21/4), pukul 17.30 WITA, dan saksi yang merupakan salah satu teman korban tak luput dari sabetan sebilah parang yang melukai bagian kiri lehernya," tuturnya.

Polisi Akui Belum Bisa Hentikan Permasalahan

Kepala Bidang Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto mengajak segenap komponen masyarakat untuk mendukung penghentian aksi teror panah, yang menjadi momok menakutkan dalam dua bulan terakhir di Kabupaten dan Kota Bima.

"Sebenarnya polisi sudah melakukan banyak upaya untuk mengatasi hal ini. Mulai dari upaya preemtif, preventif hingga represif sekalipun. Namun semua itu belum juga bisa menghentikan permasalahan," kata Artanto dikutip melalui keterangan tertulis yang diterima di Mataram.

Karena itu, Artanto mewakili jajaran yang bertugas di wilayah hukum Kabupaten dan Kota Bima berharap dukungan dan keterlibatan segenap komponen masyarakat, termasuk meminta perhatian dari pemerintah.

"Mari kita dudukkan bersama, melihat apa yang menjadi biang persoalan dan bagaimana solusi pergerakannya," ujar dia. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel