BIN Gunakan Aplikasi Canggih Ini Bantu Penanggulangan Gempa Cianjur

Merdeka.com - Merdeka.com - Badan Intelijen Negara (BIN) mengaplikasikan Sistem Intelijen Bencana (SIBe) di lokasi gempa Cianjur. Penggunaan aplikasi ini sebagai langkah taktis dan strategis dalam memitigasi dampak bencana.

Sistem hasil pengembangan Pusat Penelitian dan Pengembangan (Pusllitbang) BIN ini mampu memonitor, mengumpulkan data, serta menyajikan informasi penting penanggulangan bencana untuk menjadi bahan bagi para pengambil keputusan dan relawan di lapangan.

Kapuslitbang BIN, Armi Susandi mengatakan aplikasi seperti ini pertama kali dioperasikan di Tanah Air. Dia mengklaim aplikasi seperti ini juga masih jarang dikembangkan oleh pakar di Dunia.

"SIBe yang dikembangkan BIN ini akan menjadi aplikasi yang sangat berguna bagi kita dalam menjalankan misi kemanusiaan membantu penanganan bencana di mana pun pada masa mendatang," kata Armi di Posko Bantuan Kemanusiaan BIN, jalan lintas Labuan - Cianjur, Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jumat (25/11).

Sejumlah fitur menarik dari SIBe, antara lain; dilengkapi pemetaan Zona Bahaya, Kerawanan, Kapasitas Respon, dan Risiko Gempa Bumi yang dapat dengan detail menggambarkan situasi kebencanaan.

"Dan juga yang pasti di dalam SIBe sudah ada layer dari populasi, infrastruktur termasuk sekolah, fasilitas desa, dan sebagainya. Sistem SIBe ini dirancang untuk bisa dibikin dedicated per lokasi," kata Armi.

Selain itu, Puslitbang BIN memasang Automatic Weather Station (AWS) pada SIBe sehingga langsung terhubung ke sistem server utama SIBe di Mabes BIN. Hal ini untuk memastikan ketepatan informasi prediksi cuaca dalam mendukung keberhasilan operasional pertolongan di wilayah terdampak bencana.

"Dari receiver Mabes BIN kita olah datanya dan kita ambil dalam bentuk website. Website ini juga interaktif, kita bisa klik saja dan kita bisa tahu apa yang kita inginkan. Baik pada saat monitoring, ataupun pada saat nanti penanganan bencana," jelas Armi.

"Penanganan bencana tentunya kita inginkan lokasinya itu aman dari cuaca ekstrem khususnya hujan lebat atau banjir," imbuh Armi.

SIBe juga mampu menganalisis informasi hoaks yang berkembang di tengah pengungsi dan masyarakat lokasi kejadian melalui survei. Survei ini dilakukan secara rutin dengan jaringan BIN di daerah. Dalam hal ini BINDA Jabar untuk gempa yang terjadi di Cianjur.

"Ini juga untuk memastikan informasi sekecil apa pun dapat terekam dalam sistem canggih milik BIN ini," tegas Armi.

Sementara itu, Kepala BIN Jend Purn (Pol) Budi Gunawan mengharapkan aplikasi digital pertama di daerah bencana ini dapat membantu operasional penanganan bencana di mana pun.

"Melalui aplikasi ini, diharapkan proses penangan bencana pasca kejadian dapat berlangsung dengan tepat dan efektif, serta berbagai dampak yang ditimbulkannya dapat diminimalkan, baik bagi para pengungsi maupun para relawan," ujar Budi Gunawan.

Diketahui, Korban meninggal dunia akibat gempa Cianjur, Jawa Barat bertambah menjadi 310 orang. Sementara, korban yang belum ditemukan sebanyak 24 orang. 24 orang yang belum ditemukan sudah diketahui identitasnya.

"Yang jumlah meninggal sampai saat ini menjadi 310 orang, dan yang masih belum diketemukan adalah 24 orang," kata Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers, Jumat (25/11).

Surhayanto menambahkan, 16.645 jumlah KK yang berada di tenda pengungsian baik terpusat dan mandiri. Harapannya, seluruh pengungsi korban gempa Cianjur bisa terlayani.

[ray]