BioNTech Tahun Ini Akan Produksi 2 Miliar Dosis Vaksin COVID-19

Ezra Sihite, DW Indonesia
·Bacaan 2 menit

Pembuat vaksin corona Jerman BioNTech dan raksasa farmasi AS Pfizer mengatakan akan meningkatkan produksi vaksin Covid-19 hingga 2 miliar dosis tahun 2021. Demikian disebutkan dalam sebuah pernyataan yang dirilis Senin (11/1) di Jerman dan Amerika Serikat.

Sebelumnya BioNtech dan mitranya Pfizer menargetkan produksi 1,3 miliar dosis untuk 2021. Namun permintaan terhadap vaksin dengan tingkat efikasi di atas 95 persen itu terus meningkat.

BioNTech mengatakan, peningkatan produksi akan dicapai melalui perbaikan proses produksi, sekaligus peningkatan kapasitas pada pemasok dan mitra-mitra produksi. Dokumen rencana peningkatan produksi telah diserahkan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS, SEC.

BioNTech mengatakan pabrik barunya di kota Marburg Jerman, akan mulai berproduksi pada bulan Februari, dengan kapasitas produksi tahunan hingga 750 juta dosis vaksin.

50 juta dosis vaksin sudah diproduksi

BioNTech menyatakan Minggu (10/1), sejauh ini sudah 50 juta dosis vaksin diproduksi dan sekitar 33 juta dosis vaksin yang telah didistribusikan. Untuk tahun 2021 direncanakan total produksi mencapai 2 miliar dosis, yang cukup untuk memvaksinasi 1 miliar orang, karena satu orang perlu dua dosis vaksin.

Seorang juru bicara BioNTech mengatakan, sisanya yang belum didistribusikan masih menunggu diambil pemesannya, karena harus mempersiapkan kapasitas penyimpanan lebih dulu. Vaksin BioNtech/Pfizer harus disimpan pada suhu minus 70 derajat Celcius.

Saat ini, vaksin BioNTech/Pfizer diproduksi di kantor pusat BioNTech di kota Mainz, Jerman, di pabrik di Belgia, dan di beberapa pabrik di AS.

Vaksin BioNTech/Pfizer adalah vaksin Covid-19 pertama yang mendapat izin penggunaan dari otoritas kesehatan Uni Eropa. Selain itu, vaksin tersebut juga sudah disetujui untuk digunakan di AS, Inggris, Arab Saudi serta setidaknya 19 negara lain.

Vaksin juga ampuh terhadap varian baru

Vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh BioNTech juga dapat melindungi dari virus corona yang mengalami mutasi dan muncul di Inggris serta Afrika Selatan, demikian menurut studi awal laboratorium terbaru yang dilakukan para peneliti di Pfizer dan University of Texas, AS.

Pada 20 partisipan yang divaksinasi, antibodi yang dihasilkan berhasil melawan virus yang bermutasi. Meskipun tes ini hanya dilakukan dalam kondisi laboratorium dan kelompok uji yang terbatas, para peneliti mengatakan data-datanya cukup meyakinkan.

Varian virus corona yang baru ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan terbukti bisa menular jauh lebih cepat, walaupun tidak mengakibatkan gejala penyakit yang lebih berbahaya. Namun karena penularannya cepat, situasi ini bisa membuat rumah sakit dan fasilitas kesehatan kewalahan. Situasi seperti itu bisa membahayakan keselamatan pasien.

hp/as (dpa, afp, rtr)