Biosensor Baru Deteksi Protein dan Antibodi Virus Corona dengan Cepat

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Para ilmuwan telah mengembangkan biosensor berbasis protein yang akan bercahaya ketika dicampur dengan komponen virus atau antibodi dari COVID-19 tertentu.

Terobosan ini diyakini dapat memungkinkan pengujian lebih cepat dan lebih luas dalam waktu dekat.

Menurut penelitian yang terbit di jurnal Nature tersebut, untuk mendiagnosis infeksi virus corona saat ini, sebagian besar laboratorium medis mengandalkan teknik yang disebut RT-PCR.

Namun, teknik ini memerlukan staf dan peralatan khusus. Selain itu, ia juga mengonsumsi persediaan laboratorium yang sekarang banyak diminati di seluruh dunia.

Dalam upaya untuk mendeteksi virus corona secara langsung pada sampel pasien tanpa perlu amplifikasi genetik, tim peneliti yang dipimpin oleh David Baker, profesor biokimia dan direktur di Institute for Protein Design di University of Washington Medicine, menggunakan komputer untuk merancang biosensor baru.

Mengutip Eurekalert, Jumat (29/1/2021) Perangkat berbasis protein ini mampu mengenali molekul spesifik di permukaan virus, lalu mengikatnya dan kemudian memancarkan cahaya melalui reaksi biokimia.

Sensitivitas

Tim peneliti UW juga menciptakan biosensor yang bercahaya saat dicampur dengan antibodi COVID-19.

Para peneliti mendapati bahwa sensor ini tidak bereaksi terhadap antibodi lain yang juga mungkin ada di dalam darah, termasuk yang menargetkan virus lain. Sensitivitas seperti ini penting untuk menghindari hasil tes positif palsu.

"Kami telah melihat di laboratorium bahwa sensor baru ini dapat dengan mudah mendeteksi protein atau antibodi virus dalam cairan hidung yang disimulasikan atau serum yang disumbangkan," ujar Baker.

Selanjutnya, kata Baker, dia dan tim peneliti akan memastikan bahwa biosensor ini dapat digunakan dengan andal dalam hal diagnosis.

Selain COVID-19, tim juga menunjukkan bahwa biosensor serupa dapat dirancang untuk mendeteksi protein manusia yang secara medis relevan, seperti Her2 (biomarker dan target terapi untuk beberapa bentuk kanker payudara) dan Bcl-2 (yang memiliki signifikansi klinis dalam limfoma dan beberapa lainnya). kanker lain), serta toksin bakteri dan antibodi yang menargetkan virus Hepatitis B.