Bisakah Konsumsi Herbal Berbarengan dengan Obat dari Dokter?

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Beberapa waktu belakangan ini, masyarakat di tanah air mulai kembali mengonsumsi ramuan herbal seperti kunyit, temulawak hingga jahe. Mulai dikonsumsinya ramuan herbal tersebut lantaran ketiganya diketahui dapat membantu memelihara sistem imunitas di masa pandemi COVID-19 seperti saat ini.

Namun, tidak sedikit timbul pertanyaan di masyarakat apakah bisa mengonsumsi bersamaan dengan obat yang telah diresepkan oleh dokter? Terkait hal itu, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr. Inggrid Tania, Msi angkat bicara, dia menyebut bahwa banyak herbal yang bisa dikonsumsi komplementer dengan obat resep dokter.

Tapi kata dia, tidak untuk semua kondisi yang dialami oleh pasien. Misalnya, penderita diabetes yang mendapat obat penurun gula darah dari dokter kemudian ia bisa mengonsumsi suplemen kesehatan yang bersifat antioksidan.

"Tetapi mereka harus tetap berhati-hati. Sebab, kalau obat farmasi modern sangat kuat untuk menurunkan gula darah, maka harus dilihat juga suplemen itu bisa ikut menurunkan gula darah juga karena jamu atau herbal yang mengandung tanaman obat seperti empon-empon sifatnya bisa menurunkan gula darah," kata Iggrid dalam virtual conference, Kamis 26 November 2020.

Inggrid menambahkan, "Tapi harus dilihat per individu seberapa tinggi gula darahnya, seberapa turun gula darahnya dari resep dokter. Kemudian seberapa turun gula darah jika ditambah mengonsumsi herbal jadi semua ada perhitungan dan risk and benefitnya," ujar dia.

Konsultasi ke dokter

Inggrid juga menjelaskan penting untuk berkonsultasi dengan dokter. Hal ini untuk mengetahui bagaimana penggunaan obat herbal dan obat dari dokter agar tepat.

"Ketika dokter memberi obat resep dia harus cerita dia konsumsi herbal jadi itu akan dikaji dokternya bagaimana cara mengombinasikannya," katanya.

Selain itu, kata Inggrid pertimbangkan juga kemungkinan adanya interaksi di antara dua jenis obat tersebut. Misalnya, mengonsumsi obat dari resep dokter dan herbal kalau sama-sama bisa menurunkan gula darah, harus dicari perannya secara optimal.

"Kita juga harus waspada interaksi negatif misalnya ketika seseorang mengonsumsi pengencer darah, ketika mengonsumsi jahe harus dikonsultasikan ke dokter, karena jahe juga punya efek mengencerkan darah," tuturnya.

Inggrid juga mengutarakan agar masyarakat tidak konsumsi obat kimia digabung dengan herbal yang memiliki mekanisme yang berlawanan. Misal orang diabetes berobat ke gizi klinik dan mendapatkan resep untuk menangani obesitasnya.

"Kalau kita mengonsumsi obat yang meningkatkan nafsu makan maka kontradiktif," jelas dia.

Inggrid juga mengingatkan untuk memberikan jarak waktu antara konsumsi obat herbal dengan obat obat resep dokter. Ini dimaksudkan untuk meminimalisasi dampak negatif.

"Waktu meminum untuk meminimalisasi dampak negatif adalah memberi jarak selama 1-2 jam usai mengonsumsi herbal atau obat dokter," kata dia.