Bisakah masker bedah digunakan kembali?

·Bacaan 3 menit

Paris (AFP) - Berbagai otoritas kesehatan mengatakan senjata anti-Covid yang paling tersebar luas, yakni masker bedah, harus dibuang setelah sekali digunakan, namun keprihatinan lingkungan mendorong sejumlah ilmuwan mempertanyakan rekomendasi ini.

Ketika virus corona terus menyebar, masker di banyak tempat menjadi wajib dikenakan di angkutan umum, di toko-toko, dan di tempat kerja.

Tetapi biaya sudah menjadi masalah, seperti halnya fakta bahwa begitu banyak masker plastik sekali pakai berakhir di saluran air dan lautan.

Salah satu alternatifnya adalah masker kain yang bisa digunakan kembali, tetapi banyak orang lebih memilih masker bedah sekali pakai karena lebih ringan dan lebih murah per satuannya.

"Masker medis hanya untuk sekali pakai," kata Organisasi Kesehatan Dunia. "Buang masker itu segera, sebaiknya ke tempat sampah tertutup."

Tetapi dihadapkan kepada kelangkaan selama gelombang pertama pandemi Covid-19 pada Maret dan April, WHO dalam laporan Juni untuk "prosedur luar biasa" telah membolehkan masker disinfeksi sekali pakai untuk digunakan kembali.

Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan AS (FDA), dalam keadaan darurat, merekomendasikan uap hidrogen peroksida untuk mendekontaminasi masker N95 yang dikenakan oleh para petugas kesehatan.

Metode-metode lain untuk memurnikan masker sekali pakai adalah dengan memaparkannya ke suhu tinggi atau radiasi ultraviolet.

Tetapi metode ini tidak nyaman bagi orang-orang di daolam rumah, kata ahli mikrobiologi Prancis dan anggota Adios Corona, Denis Corpet.

Adios Corona -sekelompok ilmuwan yang memberikan informasi tentang Covid-19 kepada publik- memberi rekomendasi agar "meletakkan masker dalam amplop kertas dengan tanggal yang sudah ditandai dengan jelas, dan membiarkannya selama tujuh hari".

"Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa virus hampir semuanya mati dalam masker setelah tujuh hari," kata Corpet.

Sebuah studi yang diterbitkan The Lancet menyimpulkan bahwa hanya 0,1 persen virus di permukaan luar masker yang masih bisa dideteksi setelah satu pekan.

Namun demikian metode ini tidak sesuai untuk petugas-petugas layanan kesehatan yang terpajan pada viral load tinggi.

Peter Tsai, penemu bahan filter bermuatan elektrostatis N95, setuju dengan metode tujuh hari.

Namun dia menyarankan agar membiarkan masker bekas pakai di tempat terbuka selama satu sepekan sebelum digunakan kembali, sebuah siklus yang katanya bisa diulangi lima hingga 10 kali.

Masker sekali pakai juga bisa ditempatkan di oven, kata Tsai kepada AFP, idealnya pada suhu antara 70 dan 75 derajat Celcius yang tidak terlalu tinggi untuk menghindari pembakaran plastik, tetapi cukup panas untuk bisa membunuh virus.

Namun demikian mencuci masker di mesin cuci bukanlah ide yang baik.

"Mencuci tanpa deterjen mungkin tidak menghilangkan virus," kata Tsai. "Dan mencuci dengan deterjen akan menghapus muatan (elektrostatis)-nya" sehingga mengurangi efisiensinya.

Kelompok hak konsumen Prancis UFC-Que Choisir mencuci masker bedah pada suhu 60 derajat Celcius, memasukkannya ke pengering, dan menyetrikanya. Setelah 10 siklus seperti itu, masker masih menyaring setidaknya 90 persen partikel 3-mikron.

"Selain sedikit rajutan, masker bedah yang dicuci setidaknya seefisien masker kain terbaik," lapor UFC-Que Choisir pekan lalu.

Peneliti Philippe Vroman dari universitas teknik Ensait di Prancis sampai kepada kesimpulan yang sama.

Setelah lima kali pencucian, "praktis tidak ada perbedaan (filtrasi) untuk partikel berukuran 3 mikron," kata Vroman, berdasarkan hasil awal yang belum dipublikasikan dalam sebuah jurnal ilmiah ulasan sejawat.

"Dan saya lebih suka kita mengganti masker setiap empat jam dan mencucinya, ketimbang memakainya beberapa hari berturut-turut seperti yang dilakukan beberapa orang. Ini seperti pakaian dalam," kata dia.

Namun tidak semua ilmuwan setuju.

"Mencuci masker di rumah berpotensi menyebabkan kontaminasi sekunder dan menyebarkan virus jika pencucian tidak dilakukan dengan benar," kata Kaiming Ye, kepala departemen teknik biomedis pada Universitas Binghamton, New York.

Sampai penelitian lebih banyak lagi dipublikasikan mengenai masalah ini, anjuran resmi dari otoritas kesehatan tidak akan berubah.

"Masker bedah sekali pakai harus dibuang ke tempat sampah setelah digunakan," kata otoritas kesehatan Prancis DGS, tetapi menegaskan bahwa penelitian lebih banyak lagi sedang dilakukan.


abd/ech/mh/erc