Bisakah Mendukung Pariwisata Domestik di Tengah Pembatasan Perjalanan Ketat karena Covid-19?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 menimbulkan dilema luar biasa bagi sektor pariwisata di dalam negeri. Keinginan membangkitkan bidang yang jadi sumber pendapatan sekitar 34 juta tenaga kerja terbentur aturan pembatasan perjalanan demi menekan penyebaran infeksi virus yang angka penularannya belum juga menurun.

Meski begitu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyatakan, pemulihan sektor pariwisata tak bisa menunggu vaksinasi selesai. Ia pun menyebut masyarakat bisa berpartisipasi dalam pemulihan lewat beberapa cara.

Salah satunya dengan memberdayakan sport tourism. Dengan digelar secara hibrid, masyarakat bisa ikut serta dalam tempat yang terpisah-pisah.

"Saya misalnya lari di Labuan Bajo, atau renang, saya bisa di sana, (Anda) bisa berenang di rumah, kita terhubung lewat virtual platform. Ini sudah jadi transformasi, sistem hibrid jadi andalan," kata Sandiaga dalam Jumpa Pers Akhir Tahun 2020 di Jakarta, Selasa sore, 29 Desember 2020.

Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo menambahkan, konsep bekerja dari destinasi-destinasi wisata bisa turut ambil bagian. Fenomena itu dilihatnya menjanjikan.

"Ada fenomena baru, kerja dari destinasi. Bisa saja memilih kerja dari destinasi tertentu, misal dari Bali," ujarnya.

Sandi pun menambahkan, 80 persen staf ekspatriat sebuah lembaga keuangan bahkan sudah bekerja dengan konsep tersebut. "Ini peluang bagi industri pariwisata, bekerja dari destinasi pariwisata bisa dilakukan dengan aman," ucapnya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Tak Bisa Dikompromi

Ilustrasi penerapan CHSE di tempat wisata di Bali. (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)
Ilustrasi penerapan CHSE di tempat wisata di Bali. (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)

Meski demikian, Sandiaga menekankan bahwa kesehatan adalah prioritas utama. Sebagai penyintas Covid-19, ia mengaku paham betul penerapan protokol kesehatan tak bisa diabaikan.

"Jangan lengah, jangan abai. Jika sudah berwisata, tolong jangan berkompromi. Kesehatan tidak bisa dikompromi," ia menegaskan.

Sementara, Wamenparekraf menyatakan bahwa penerapan kebiasaan baru, yakni menjalankan 3M dan K4, sudah tidak bisa ditawar lagi. Yang bisa dilakukan oleh pengusaha pariwisata adalah beradaptasi, termasuk di dalamnya melanjutkan program sertifikasi CHSE. Pemerintah masih akan menggratiskan sertifikasi tersebut di tahun depan.

"Ketika konsumen lihat logo tersebut, masyarakat bisa merasa yakin lokasi itu aman. Ini juga terikat standar protokol kesehatan untuk dunia usaha," kata Angela.

Tips Liburan Aman Bebas Covid-19

Infografis 8 Tips Liburan Akhir Tahun Minim Risiko Penularan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 8 Tips Liburan Akhir Tahun Minim Risiko Penularan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: