Bisakah Penyakit Mulut dan Kuku Hewan Menular ke Manusia?

Merdeka.com - Merdeka.com - Kementerian Kesehatan melaporkan temuan penyakit mulut dan kuku (PMK). Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tidak perlu khawatir karena penyakit mulut dan kuku hanya terjadi pada hewan.

Ahli Kesehatan Masyarakat Veteriner IPB (Institut Pertanian Bogor), drh Denny W Lukman menjelaskan lebih detail soal penyakit mulut dan kuku. Dia membenarkan penyakit tersebut hanya terjadi pada hewan dan tidak menular ke manusia.

"PMK tidak menular ke manusia, jadi tidak masuk dalam kategori Zoonosis," katanya kepada merdeka.com, Selasa (10/5).

Denny menyebut, penyakit mulut dan kuku sangat menular. Penyakit ini disebabkan virus Aphtovirus dari famili Picornaviridae. Ada tujuh setotipe virus yakni O, A, C, SAT 1, SAT 2, SAT 3, dan Asia 1. Virus penyebab penyakit mulut dan kuku yang pernah ada di Indonesia tahun 1983 hanya serotipe O.

Menurutnya, hewan yang terserang penyakit mulut dan kuku ialah Ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba, rusa), babi, unta, dan beberapa hewan liar. Secara percobaan, virus penyakit mulut dan kuku dapat menginfeksi antara lain kelinci, marmut, tikus, dan hamster.

Bagi hewan yang terjangkit penyakit mulut dan kuku, gejala klinis yang muncul seperti demam tinggi bisa mencapai 41 derajat Celcius, pembengkakan limfoglandula mandibularis, dan hipersalivasi (air liur berlebihan). Kemudian adanya lepuh dan erosi sekitar mulut, moncong hidung, lidah, gusi, kulit sekitar kuku dan puting kambing.

Denny mengatakan daya tahan virus penyebab penyakit mulut dan kuku sangat bervariasi. Namun umumnya mereka bertahan pada air yang tergenang hingga 50 hari, rumput 74 hari, tanah 26 sampai 200 hari, feses kering 48 hari, dan feses basah 8 hari. Lalu cairan feses (manur) 34 sampai 43 hari, bahkan dalam limfonodus, sumsum tulang, tetesan darah, jeroan bisa bertahan beberapa bulan.

Virus penyebab penyakit mulut dan kuku banyak terdapat dalam jaringan, sekresi dan eksresi sebelum dan pada waktu timbulnya gejala klinis. Penyakit ini bisa menular ke hewan lain. Penularannya melalui kontak dengan hewan atau bahan tercemar, jalur inhalasi (pernafasan), ingesti (mulut/makan) dan melalui perkawinan alami ataupun buatan.

Meski sangat menular, penyakit mulut dan kuku dapat dikendalikan. Upaya pengendaliannya antara lain, jika ada hewan demam tinggi atau sakit segera laporkan ke Dokter Hewan atau Puskeswan atau Dinas. Kemudian jika hewan sakit dipisahkan dan jangan dijual, tidak memotong hewan sakit, menjaga kebersihan kandang, alat, dan orang yang menangani hewan.

Daging Tanpa Tulang dan Limfoglandula Mengandung Virus PMK?

Denny menjelaskan, secara ilmiah telah dibuktikan oleh penelitian yang telah dipublikasi bahwa virus penyakit mulut dan kuku tidak dapat bertahan hidup dalam daging (deboned and deglanded) yang telah mengalami rigor mortis. Namun, masih bertahan hidup pada hati, ginjal, rumen, dan darah yang dibekukan.

Sepanjang daging deboned and deglanded serta telah dilayukan (pH<6.0), risiko adanya virus di daging dapat diabaikan atau negligible risk.

"Jika ingin memastikan bahwa pada daging tidak ada virus yang aktif, maka harus dilakukan pengujian secara biakan bukan uji PCR," katanya.

Tips untuk Konsumen Rumah Tangga

konsumen rumah tangga
konsumen rumah tangga.jpg

Denny menegaskan penyakit mulut dan kuku bukan zoonosis artinya tidak dapat menular atau menginfeksi ke manusia. Jadi mengonsumsi daging dan susu yang telah dimasak aman dan sehat.

Penyakit mulut dan kuku banyak terdapat dalam darah, air liur, dan jeroan hewan seperti sapi, kambing, domba, dan babi yang sakit dan sangat potensial menularkan ke hewan yang peka.

Bagi konsumen, daging dan jeroan yang dibeli jangan dicuci agar jika terjadi cemaran virus. Daging harus langsung dimasak dengan merebus pada air (kuah) yang mendidih selama minimal 30 menit atau daging langsung disimpan dalam kulkas minimal 24 jam agar pH (keasaman) daging mencapai di bawah pH 6 yang dapat menginaktivasi virus penyakit mulut dan kuku.

"Jika daging akan dibekukan maka daging wajib dimasak (rebus mendidih minimal 30 menit) terlebih dahulu atau disimpan dalam kulkas minimal 24 jam," jelasnya.

Sementara untuk susu sapi atau kambing harus dimasak mendidih minimal 5 menit sambil diaduk perlahan (supaya tidak ada bagian yang hangus di dasar panci). Kemudian talenan, pisau, wadah yang kontak dengan daging dan jeroan mentah harus dicuci dengan deterjen.

"Kebersihan tangan dan tempat sebelum, selama, dan setelah menangani daging dan jeroan atau memasak harus senantiasa dijaga," tutupnya. [fik]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel