Bisnis olahraga pacu kuda semakin suram akibat Covid

·Bacaan 3 menit

London (AFP) - Bisnis pacuan kuda telah terpukul parah oleh pandemi virus corona dan akan menghadapi masa-masa yang lebih sulit di masa depan, demikian menurut penilaian direktur balap Ascot, Nick Smith.

Industri pacuan kuda di Inggris menyumbag sekitar 4 miliar (Rp74,7 triliun) untuk perekonomian setiap tahun, mempekerjakan ribuan orang dalam bisnis di pedesaan.

Perdagangan yang kuat pada penjualan tahunan baru-baru ini di rumah lelang utama Eropa, Tattersalls menawarkan secercah harapan di masa-masa sulit.

"Luar biasa bagus karena kami mengkhawatirkan yang terburuk," kata ketua Tattersalls Edmond Mahony kepada AFP.

Tetapi arena balap yang terkenal di dunia termasuk Ascot, Newmarket dan Goodwood mendapat pukulan keras karena penonton dilarang akibat aturan untuk membatasi penyebaran virus corona.

Pemilik masih dapat hadir tetapi selain melihat kuda mereka berpacu, itu adalah pengalaman yang hambar karena bar dan restoran tutup - yang berarti 70 persen dari pendapatan untuk pacuan kuda.

Jumlah hadiah uang juga sangat terpukul.

Sepuluh balapan teratas mengalami penurunan tajam sebesar 63 persen dari 10,3 juta pound menjadi 3,8 juta pound, menurut angka yang diberikan oleh British Horseracing Authority.

Tidak heran bila Ralph Beckett, ketua National Trainers Federation, khawatir 10 persen dari 500 anggota dapat dipaksa untuk menyerahkan lisensi mereka.

Direktur balap Ascot Smith mengatakan kondisi itu membuat frustrasi karena tidak ada penonton dan tidak dapat menawarkan perbaikan langsung untuk masalah uang hadiah.

Sebagian besar dari hadiah uang berasal dari retribusi pada taruhan tetapi bandar taruhan sendiri telah terpukul keras oleh Covid-19.

Balapan langsung sudah ditangguhkan selama berbulan-bulan awal tahun ini dan ribuan toko taruhan saat ini ditutup di bawah lockdown baru.

Satu dorongan baru-baru ini untuk industri ini adalah pendapatan tambahan dari para bandar taruhan, yang sekarang harus membayar lebih banyak untuk hasil dan gambar TV.

William Woodhams, CEO taruhan Fitzdares, mengatakan biaya hak medianya telah meroket sejak awal tahun.

Namun, Smith mengatakan itu tidak akan menyelesaikan masalah keuangan secara keseluruhan tahun depan.

“Proyeksi terbaik pada 2021 tidak bagus, malah tahun depan akan lebih buruk,” ujarnya.

"Pungutan subsidi akan bertahan lama, hak siar media hanya berlaku sejauh ini dan kami perlu penonton kembali dan pekerjaan bisa kembali bergulir untuk membalikkan keadaan."

Beberapa di industri menyukai pendekatan yang lebih tegas, menekan bandar taruhan untuk berkontribusi lebih banyak.

"Ada sedikit keuntungan dari pendapatan taruhan yang diinvestasikan dibandingkan dengan di luar negeri. Kami harus memperbaiki model yang rusak," kata manajer Qatar Racing David Redvers kepada AFP mengenai penjualan Tattersalls bulan lalu.

"Jika ada sesuatu yang baik untuk bisa keluar dari tahun yang konyol dan mengerikan ini, itu adalah perasaan yang tulus dan sudah cukup.

"Mereka (pemilik dan peternak) bersiap untuk memasukkan uang ke dalam biaya hukum, kami telah melihat bandar judi memiliki tim hukum yang kuat dan akan berjuang mati-matian.

"Kami harus memastikan kami bertarung dalam cara yang benar sehingga bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar bila kembali ke arena pacuan."

Redvers mengatakan bahkan kesuksesan di pengadilan tidak akan datang pada waktu yang tepat bagi beberapa orang di industri ini.

“Iya pasti ada korban,” kata dia. "Pelatih, pemulia, dan dealer akan menghadapi jalan buntu.

"Tidak semua orang memiliki sumur minyak dan mereka yang memiliki restoran tidak mampu menghabiskan 30.000 pound untuk Lot 1377 ketika mereka merumahkan staf."

Ahli pelatihan John Gosden mengatakan bahwa seluruh industri harus bekerja sama untuk melewati masa-masa sulit.

"Kita harus sangat waspada terhadap kondisi masyarakat dan sangat sadar bahwa mereka harus menghidupi dan menjaga keluarga mereka," kata dia.

"Kami harus mencari orang-orang muda yang mencoba memulai hidup mereka dalam keadaan yang sangat sulit."