Bitcoin dan Saham Stabil saat Sentimen Suku Bunga Meningkat

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin naik hampir menuju USD 43.000 atau sekitar Rp 615,88 juta (asumsi kurs Rp 14.323 per dolar AS) pada Selasa dan naik sekitar 3 persen selama 24 jam terakhir. Beberapa cryptocurrency alternatif (altcoin) seperti MATC dan FTM naik sekitar 14 persen selama periode yang sama, itu menunjukkan risiko yang lebih besar di kalangan investor.

Dilansir dari Coindesk, Rabu (12/1/2022), sentimen bullish mulai kembali ke pasar kripto dan ekuitas, setidaknya untuk jangka pendek.

Indikator teknis menunjukkan BTC berada pada level paling jenuh jual sejak Desember, yang dapat mendorong beberapa pedagang untuk membeli saat penurunan, meskipun kenaikan dibatasi hingga USD 45.000 atau sekitar Rp 644,55 juta.

Aksi jual memiliki dampak negatif pada saham penambangan kripto selama beberapa bulan terakhir. Saham perusahaan pertambangan yang terdaftar di AS seperti Marathon Digital Holdings (MARA), Riot Blockchain (RIOT) dan Bit Digital (BTBT) masing-masing telah turun lebih dari 50 persen sejak 10 November.

Namun, beberapa penambang tampaknya tidak terpengaruh oleh penurunan harga. Misalnya, perusahaan penambangan bitcoin Bitfarms yang membeli 1.000 bitcoin di harga USD 43,2 juta atau sekitar Rp 618,81 miliar selama minggu pertama Januari.

Data Blockchain menunjukkan lebih banyak pedagang menjual BTC dengan mengalami kerugian, atau di bawah harga beli mereka.

"Pada Mei 2021 (selama aksi jual yang tajam) kami telah melihat jenis perilaku serupa ketika pasar terus menjual dengan kerugian untuk jangka waktu yang lama,” tulis CryptoQuant dalam sebuah posting blog pada hari Selasa, seperti dikutip dari Coindesk Rabu, (12/1/2022).

Daftar harga terbaru berdasarkan data dari Coindesk:

Bitcoin (BTC): USD 41.785, +2,33 persen

Eter (ETH): USD 3,239, +5,02 persen

S&P 500: USD 4.713, +0,92 persen

Emas: USD 1,822, +1,31 persen

Penutupan harian Treasury 10-tahun: 1,74 persen

Meningkatnya Korelasi Bitcoin dengan Saham

Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat
Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Data menunjukkan korelasi selama 90 hari Bitcoin dengan indeks S&P 500 mendekati level tertinggi dalam waktu sekitar satu tahun. Beberapa analis khawatir risiko ekonomi makro yang dihadapi ekuitas dapat membebani harga kripto pada 2022.

“Cryptocurrency setara dengan saham pertumbuhan, mereka sensitif terhadap dinamika suku bunga,” kata Analis di FxPro Alex Kuptsikevich kepada Coindesk melalui email.

Analis lain memperkirakan korelasi bitcoin dengan indeks S&P 500 pada akhirnya akan menurun pada 2022.

“Korelasi Bitcoin dengan ekuitas tidak akan bertahan tahun ini karena saham hanya beberapa poin persentase dari rekor tertinggi, sementara bitcoin turun sekitar 40 persen,” kata Analis di Oanda, Edward Moya.

Moya memperkirakan pemulihan ekonomi di negara-negara di luar AS akhir tahun ini dapat menyebabkan dolar melemah. Pada gilirannya, dolar yang lebih rendah akan mengurangi tekanan inflasi dan memberikan dukungan untuk aset yang dianggap berisiko seperti cryptocurrency dan saham.

Dalam jangka panjang, faktor ekonomi akan terus mempengaruhi harga kripto dan ekuitas, terutama karena investor mendapatkan eksposur pada kedua aset.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel