Bitcoin Diprediksi Melonjak ke Posisi Rp 535,08 Juta

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Melonjak 24 persen dari posisi terendah, bitcoin mengabaikan berita tentang larangan penggunaan uang kripto di China. Melihat hal ini, harga mata uang digital tersebut diperkirakan berada di kisaran USD 34.000 atau sekitar Rp 491,77 juta (asumsi kurs Rp 14.463 per dolar AS) -USD 37.000 atau sekitar Rp 535,08 juta.

Seperti dilansir Forbes, Senin (28/6/2021), uang kripto terkemuka di dunia ini jatuh ke level terendah atau USD 28.600 pada 22 Juni 2021. Meski demikian, bitcoin berhasil naik ke USD 35.517 tiga hari kemudian.

Secara luas, pedagang bitcoin menciptakan dasar untuk pemulihan aksi harga atau batas atas sehingga momentum penurunan tak terjadi terus menerus.

Penembusan harga terjadi pada 13 Juni 2021, dengan bitcoin memiliki kenaikan harga ke level tertinggi atau setara dengan USD 41.341, meski akhirnya kembali tenggelam di bawah garis tren.

Kegagalan trendline untuk menjadi level support setelah persilangan awal menjadi pendorong penurunan sehingga bitcoin berada di level terendah pada 22 Juni 2021. Hal ini terjadi di tengah berita sentimen hawkish di Federal Reserve Amerika zsrikat ditambah larangan penambangan bitcoin di China .

Pada saat penulisan, bitcoin diperdagangkan di angka USD 33.000 setelah mencapai resistensi jangka pendek pada rata-rata pergerakan eksponensial.

Keberhasilan ini bisa menjadi peluang bitcoin untuk mengalami kenaikan cepat ke USD 41.000. Pengamat pasar juga akan mengawasi grafik bulanan, hal ini dimulai pada Juni atau setara dengan USD 36.893 menurut platform perdagangan derivatif keuangan Inggris IG.

Prediksi JPMorgan

Bitcoin - Image by Allan Lau from Pixabay
Bitcoin - Image by Allan Lau from Pixabay

Sebelumnya, penjualan saham yang berkaitan dengan bitcoin antara Juni dan Juli memiliki kemungkinan menjadi tekanan baru pada cryptocurrency atau uang kripto, menurut JPMorgan Chase & Co.

Seperti dilansir Bloomberg, Kamis, 24 Juni 2021, arus lemah dan dinamika harga akibat aksi jual investor membuat penurunan harga bitcoin terjadi secara signifikan beberapa minggu terakhir.

Tak hanya itu, penjualan saham di Grayscale Bitcoin Trust setelah berakhirnya penguncian enam bulan bisa menjadi angin sakal tambahan, seperti diungkapkan ahli strategi JPMorgan.

Bitcoin berada di bawah tekanan beberapa hari terakhir. Pada Selasa 22 Juni 2021, harga mata uang kripto ini bahkan berada di bawah USD 30.000. Hal ini tak terlepas dari kekhawatiran mengenai penggunaan energi terkait penambangan yang dilakukan.

Tak hanya itu, tindakan keras China yang diperluas juga membuat mata uang digital ini turun 1,1 persen atau berada di angka USD 32.709 atau sekitar Rp 472,32 juta (asumsi kurs Rp 14.440 per dolar AS) pada Kamis, 24 Juni 2021. Angka tersebut turun 50 persen dari rekor tertingginya, yakni hampir USD 65.000 pada pertengahan April.

"Meskipun koreksi minggu ini, kami enggan untuk meninggalkan pandangan negatif kami untuk bitcoin dan pasar crypto secara lebih umum. Meskipun ada beberapa peningkatan, sinyal kami tetap bearish secara keseluruhan," kata ahli strategi JPMorgan.

Secara terpisah, Chief Executive Officer DoubleLine Capital LP Jeffrey Gundlach mengatakan di Twitter, bila hal ini merupakan masalah besar. Terlebih jika bitcoin ditutup di bawah USD 30.000. Kemampuan untuk mempertahankan level dianggap oleh beberapa orang sebagai kunci tren masa depan uang kripto.

Nilai wajar bitcoin berdasarkan perbandingan volatilitas versus emas terlihat dalam kisaran USD 23.000 hingga USD 35.000 untuk jangka menengah, tulis ahli strategi JPMorgan.

"Ini masih akan membawa penurunan harga ke level USD 25.000 sebelum momentum jangka panjang akan memberi sinyal kapitulasi," kata ahli strategi JP Morgan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel