Bitcoin Melambung di Atas 20 Ribu Dolar, Incaran Investor Awam?

Renne R.A Kawilarang, DW Indonesia
·Bacaan 2 menit

Bitcoin adalah mata uang kripto yang paling terkenal, tapi juga paling mendebarkan. Minggu yang lalu, nilai Bitcoin menembus angka 20 ribu dolar AS dan mencatat kenaikan 170 persen pada tahun ini.

Setelah muncul sebagai mata uang digital 12 tahun lalu, Bitcoin kini memang sudah mulai diterima secara luas, bahkan oleh para investor internasional. Sejarah mata uang kripto ini memang selalu penuh gerakan naik turun yang sensasional.

Tahun 2011 misalnya, nilainya tiba-tiba meroket 11.000% dari hanya 0,003 dolar menjadi 35 dolar AS hanya dalam beberapa bulan saja, tetapi di bulan-bulan berikutnya anjlok lagi 90%. Dua tahun kemudian pada 2013, Bitcoin sudah mencatat nilai 250 dolar AS dan pada akhir tahun menembus nilai 1.000 dolar. Dua tahun kemudian, Bitcoin tertatih-tatih lagi pada nilai 150 dolar.

Apa yang membuat Bitcoin berjaya di mata investor pada 2020?

Sebuah survei oleh Fidelity terhadap 800 investor dan institusi besar di AS dan Eropa menemukan bahwa lebih dari seperempatnya menyimpan Bitcoin. Fidelity sendiri, yang mengelola aset sebesar 3,3 triliun dolar AS, bulan Agustus mengatakan akan meluncurkan dana investasi Bitcoin pertamanya. Padahal sebelumnya banyak manajer investasi yang menyebut Bitcoin hanya uang mainan saja.

Bulan Oktober lalu, jasa pembayaran digital Paypal memungkinkan pelanggannya membeli dan menjual Bitcoin. Sejak itu, mata uang kripto ini menjadi kejaran investor konvensional, dan nilainya naik hampir 70 persen dalam hitungan satu bulan.

Mania Bitcoin ini telah mendorong beberapa proyeksi liar yang berkisar antara 25.000 hingga 300.000 dolar per satu Bitcoin sampai akhir tahun depan. Pasokan Bitcoin sendiri secara efektif menurun.

Apakah Bitcoin investasi yang aman?

Pandemi corona sempat memukul bisnis Bitcoin, yang nilainya anjlok 40% hanya dalam satu hari pada bulan Maret. Tapi belakangan, mata uang kripto itu nilainya bergerak dari rekor ke rekor. Perubahan harga yang sangat besar menunjukkan bahwa Bitcoin memang masih jauh dari aset matang untuk menjadi investasi. Tapi di mata penggemarnya, Bitcoin tetap merupakan primadona, terutama karena tidak ada otoritas yang bisa mengatur nilai tukarnya. Sekalipun banyak pihak memperingatkan, Bitcoin juga rentan terhadap peretasan.

Menurut konsultan pasar uang Bloomberg, pergerakan harian Bitcoin rata-rata menunjukkan kenaikan 2,7% tahun ini, masih lebih tinggi daripada harga emas yang mencatat kenaikan rata-rata harian 0,9%. Terlepas dari suasana boom Bitcoin, tetap saja aset digital ini terkonsentrasi hanya di sedikit tangan, yang menambah ketidakstabilan nilai tukarnya.

Bitcoin sering dibandingkan dengan emas, sebagai simpanan klasik untuk melindungi diri dari pengaruh inflasi. Tetapi para pengamat menilai, pergerakan naik Bitcoin saat ini tidak terlalu berkaitan dengan kekhawatiran inflasi, melainkan lebih karena aksi spekulasi para pemburunya, yang mengharapkan lonjakan nilainya pada tahun depan.

(hp/ as)