BKI dorong hilirisasi dalam deklarasi Hari Komoditas Perkebunan

PT Badan Klasifikasi Indonesia/BKI (Persero) berupaya meningkatkan hilirisasi produk perkebunan dalam deklarasi Hari Komoditas Perkebunan untuk meningkatkan nilai tambah dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Direktur Utama PT BKI Rudiyanto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin, mengatakan saat ini produk komoditas perkebunan di hulu belum berkolaborasi dengan industri hilir meskipun telah berkontribusi besar terhadap devisa negara dan perekonomian nasional dan daerah.

“Melalui acara ini diharapkan dapat mendukung upaya peningkatan standar produktivitas komoditas perkebunan di hulu, menjadikan komoditas perkebunan dan turunannya lebih diterima, sehingga akan meningkatkan ekspor dan investasi di dalam negeri,” kata Rudiyanto dalam seminar Peran Standardisasi dan Produktivitas Hasil Komoditas Perkebunan dalam Meningkatkan Nilai Ekspor Nasional yang diselenggarakan oleh PT BKI bersama Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, dan anggota Forum Komunikasi Dewan Komoditas Perkebunan.

Baca juga: Menko Airlangga sebut hilirisasi komoditas perkebunan picu daya saing

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto dalam sambutan di seminar tersebut menyatakan bahwa salah satu kebijakan yang sedang difokuskan oleh pemerintah adalah hilirisasi komoditas, tidak terkecuali sektor pertanian dan perkebunan.

"Terlebih, saat ini dunia sedang menghadapi berbagai krisis dan tantangan global. Maka dari itu, pemerintah fokus untuk memastikan ketersediaan, aksesibilitas, dan keterjangkauan komoditas pertanian," katanya.

Airlangga mengemukakan pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh sektor pertanian pada kuartal II tahun 2022, dengan proporsi sebesar 12,98 persen. Pertanian sendiri menjadi sektor paling tangguh terhadap pandemi COVID-19 dan mampu menambah penyerapan tenaga kerja sebesar 50 ribu.

Baca juga: Jusuf Kalla mengusulkan Sumbar fokus majukan perkebunan rakyat

Airlangga Hartarto juga mengesahkan Deklarasi Hari Komoditas Perkebunan yang digalakkan oleh Dewan Komoditas Perkebunan dan Kadin Indonesia. Ke depan, Hari Komoditas Perkebunan ini akan diperingati setiap tahun pada tanggal 29 September.

Ia menambahkan jika besarnya peran sektor pertanian terhadap perekonomian nasional didukung oleh kontributor utama dari subsektor perkebunan. Subsektor perkebunan sendiri menyumbang sebesar 27 persen terhadap PDB pertanian, yaitu sekitar Rp560 triliun. Tidak hanya itu, subsektor perkebunan juga menyerap sebesar 44 persen di tenaga kerja pertanian, dan 15 persen dari tenaga kerja nasional.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Bobby Gafur Umar mengatakan sektor perkebunan adalah salah satu sektor dengan pangsa terbesar dan sumber mata pencaharian bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Subsektor perkebunan mengelola sekitar 129 komoditas perkebunan dan hanya delapan komoditas strategis antara lain kopi, karet, kelapa Sawit, teh, kakao, kelapa, rempah dan atsiri yang berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi nasional. Kinerja ekspor komoditas perkebunan yang didominasi sawit dan karet tercatat tumbuh tinggi.

“Komoditas perkebunan sebagai sumber pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja petani, mendorong agribisnis dan agroindustri serta pengembangan wilayah, maupun penyangga kelestarian lingkungan,” kata Bobby.

Baca juga: Komunitas Petani Bali Jengah sulap lahan kosong jadi perkebunan pepaya

Sementara itu Ketua Komite Tetap Standardisasi dan Produktivitas A. Aziz Pane menyebutkan perkebunan telah memberikan manfaat yang besar dalam berbagai bidang, tak terkecuali devisa negara. Subsektor perkebunan seperti karet dan kelapa sawit telah menyumbangkan devisa negara lebih dari Rp350 triliun.

Kontribusi tersebut akan menjadi jauh lebih besar bila diakumulasikan dengan devisa dari komoditi, kopi, kakao, lada, kelapa dan komoditas perkebunan lainnya yang diolah di industri hilir dalam negeri.

“Dengan melakukan hilirisasi, dapat membantu meningkatkan produktivitas dimana akan meningkatkan kesejahteraan petani perkebunan. Industri komoditi perkebunan dengan produsen harus sama-sama diuntungkan. Contohnya perusahaan akan merasa terbantu dalam penyediaan bahan baku, sementara pekebun akan lebih bersemangat dalam memproduksi karena kepastian pangsa pasar,” kata Aziz.