BKKBN ajak pemuda pahami kesehatan reproduksi

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengajak para pemuda untuk memahami mengenai masalah kesehatan reproduksi guna mencegah perilaku berisiko pada remaja.

"Kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi ini luas maknanya karena mencakup kesehatan fisik, mental, dan sosial," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo pada acara webinar "Saatnya Pemuda Bersuara" yang diakses secara daring di Jakarta, Sabtu.

Hasto mengatakan bahwa terdapat tiga risiko ancaman dasar kesehatan reproduksi remaja atau disebut dengan Triad KRR yakni narkoba, seks bebas serta HIV/AIDS .

"Masa remaja merupakan momentum yang baik untuk membudayakan kebiasaan baik terutama dalam menjaga kesehatan reproduksi agar terhindar dari tiga risiko ancaman dasar kesehatan reproduksi remaja yakni narkoba, seks bebas serta HIV/AIDS," katanya.

Baca juga: Lansia punya peran dalam mencegah anak terkena kekerdilan

Baca juga: BKKBN: Lansia meningkat bukti keberhasilan pembangunan manusia

Terkait hal itu, BKKBN berkomitmen untuk terus memperluas cakupan layanan informasi dan konseling tentang kesehatan reproduksi khususnya bagi para remaja di Tanah Air.

"BKKBN juga akan memperluas cakupan layanan informasi dan konseling tentang gizi, tentang keterampilan hidup dan lain sebagainya. Tentunya dengan melibatkan konselor sebaya baik di tingkat pusat maupun yang ada di daerah," katanya.

Dengan menggencarkan program edukasi dan sosialisasi, kata dia, diharapkan akan dapat menurunkan perilaku berisiko pada remaja.

"Saya juga menyerukan kepada seluruh perwakilan BKKBN di daerah, serta seluruh pihak terkait lainnya, agar bisa memfasilitasi remaja untuk mengimplementasikan modul 'Tentang Kita'," katanya.

Modul "Tentang Kita" tersebut, kata Hasto membahas tentang berbagai hal termasuk juga salah satunya tentang kesehatan reproduksi.

Modul tersebut kata dia dikelompokkan menjadi tiga, atas dasar pengelompokan usia pemberian intervensi, yaitu modul "Berani" untuk intervensi pada kelompok umur 10-14 tahun dan modul "Beraksi" untuk usia 15-19 tahun.

"Selain itu juga modul 'berkolaborasi' untuk mereka yang berusia 20-24 tahun, seluruh ini harus disosialisasikan kepada para remaja dan pemuda," katanya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menambahkan, pihaknya mengajak seluruh pemuda di Tanah Air untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba guna mewujudkan generasi unggul dan berkualitas.

Menkes menjelaskan bahwa pemuda merupakan generasi penerus harapan bangsa yang berperan penting dalam program pembangunan negara.

"Pada saat ini terdapat beberapa masalah terkait perilaku berisiko yang ada di tengah para pemuda, misalkan masalah kekerasan, perundungan, penyalahgunaan narkoba hingga penyebaran penyakit menular seksual," katanya.*

Baca juga: BKKBN: Bidan berperan strategis dalam penanganan stunting

Baca juga: Kader: Pengetahuan ayah di Suku Asmat penyebab ibu takut ikuti KB

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel