BKKBN: Bidan Papua semangat ikut pelatihan KB meski tempuh jarak jauh

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan bahwa para bidan di Papua memiliki semangat yang tinggi untuk mengikuti pelatihan KB meskipun harus menempuh jarak yang sangat jauh ke lokasi pelatihan.

“Jarak tempuh yang jauh, ruas jalan yang belum seluruhnya beraspal, dan terbatasnya moda transportasi merupakan elemen penting bagi para bidan di Papua dalam memperkuat kapasitas diri untuk memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak serta layanan akseptor KB kepada masyarakat,” kata Koordinator Bidang Latbang BKKBN Papua Eli Marni Tanjung dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Eli menuturkan Pelatihan Pelayanan Kontrasepsi bagi Bidan di Fasyankes Angkatan II Tahun 2022 Provinsi Papua digelar secara hybrid, yakni secara daring pada tanggal 24 Oktober-3 November 2022 dan luring tanggal 7-13 November 2022.

Baca juga: BKKBN minta bidan lebih berempati saat luruskan mitos kenalkan KB

Baca juga: BKKBN sediakan implan 1 batang tanpa pisau bedah tingkatkan minat KB

Tujuan dari pelatihan tersebut adalah untuk memperbaiki kualitas atau meningkatkan kapasitas serta meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan KB yang sesuai dengan standar pelayanan.

Di sisi lain, pelatihan diberikan karena berdasarkan data pencapaian akseptor pada pelayanan TNI Manunggal KB Kesehatan di Provinsi Papua tahun 2022, capaian KB yang paling diminati baru sebesar suntik sebanyak 9.092 atau 106,96 persen dan implan sebanyak 3.628 atau 194,22 persen, pil sebanyak 2.018 atau 128,86 persen, dan IUD sebanyak 1.034 atau 2154,17 persen.

Sebanyak 17 bidan yang berasal dari Kabupaten Sarmi, Keerom, Merauke, Mappi, Tolikara, Mamberamo Raya, Mamberamo Tengah, Jayawijaya, Mimika, Biak Numfor, Waropen dan Supiori menempuh jarak yang cukup jauh untuk mengikuti pelatihan tersebut.

“Mereka sebagai provider dan tim medis di lapangan setelah mendapatkan sertifikat nanti bisa melayani dan menjangkau akseptor yang lebih banyak lagi tentunya sesuai prosedur dan standar yang berlaku,” ucap Eli.

Ketua PD IBI Provinsi Papua Dionesia Pri Utami berharap para bidan bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya agar kompeten dan mendapatkan sertifikat dalam melakukan pelayanan di masyarakat.

Sebab bidan akan menjadi tonggak utama dalam bisa melakukan pemasangan implan, IUD, bahkan pencabutan secara terstandar, dengan prosedur yang sudah ditentukan yang diajarkan dalam pelatihan.

Bidan asal Kabupaten Jayawijaya, Papua Wery Ury mengaku senang mengikuti pelatihan tersebut, karena pelatihan yang diberikan pemerintah tidak selalu rutin dilakukan.

Pelatihan membantunya mendapatkan sertifikat untuk melakukan segala sesuatu yang mengenai implan dan AKDR secara otodidak berdasarkan ajaran dari fasilitator yang sudah punya sertifikat.

Sementara Bidan asal Kabupaten Supiori, Papua Martha Swabra merasa sangat senang karena dapat mengembangkan kemampuannya dan melayani masyarakat lebih banyak lagi.

“Saya bersemangat sekali ikut pelatihan ini, di kampung itu banyak yang butuh kita punya tenaga, sayang sekali kalau kesempatan ini tidak dimanfaatkan baik-baik,” kata Martha.

Baca juga: Kepala BKKBN: Bidan mesti edukasikan KB dengan cara santun

Baca juga: 1.000 bidan di DIY digandeng BKKBN tekan angka stunting