BKKBN dorong peningkatan edukasi laktasi sasar ibu pekerja

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mendorong pemberian edukasi secara menyeluruh di berbagai daerah terkait dengan manajemen laktasi pada bayi dengan menyasar para ibu yang mengasuh sambil bekerja.

“Dalam sebuah penelitian, stunting ini akan mengurangi dua sampai tiga persen PDB negara tertentu. Oleh karena itu, kita perlu melakukan penguatan program-program intervensi pencegahan stunting,” kata Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN Irma Ardiana dalam Webinar Promosi dan KIE Pengasuhan 1.000 HPK yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu.

Ia menuturkan pola pengasuhan yang diterapkan dalam keluarga, dapat memengaruhi tumbuh kembang anak dan menjadi hal yang sangat kritikal untuk diperhatikan.

Untuk mendukung proyek prioritas nasional yang dituangkan ke dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, BKKBN meningkatkan promosi laktasi pada para ibu, terutama perempuan yang bekerja dari kota sampai tingkat desa.

Hal itu untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi ibu dan bayi dalam membangun sebuah hubungan mendalam dan pemberian ASI eksklusif bisa diberikan sampai anak berusia dua tahun.

“Sesuai rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), minimal sampai enam bulan dan bisa dilanjutkan sampai usia dua tahun,” katanya.

Baca juga: Ibu perlu bekal pengetahuan tentang ASI lewat kontak dengan konselor

Irma menekankan para ibu harus mengetahui bahwa laktasi atau teknik menyusui, dipengaruhi oleh banyak sekali variabel. Variabel itu adalah seberapa sering frekuensi ibu memberikan ASI pada bayi dan asupan gizi yang dikonsumsi ibu sehingga memengaruhi banyak tidaknya ASI yang diproduksi.

Variabel lainnya yakni tanda kecukupan pemberian ASI bagi bayi, kesehatan ibu saat menyusui dan berbagai penyebab lainnya yang menimbulkan masalah saat menyusui.

“Kita memberikan penyuluhan, memberikan sosialisasi kepada kelompok-kelompok binaannya, terutama ibu-ibu yang saat ini mungkin sedang hamil atau pada calon-calon pengantin dan juga termasuk ibu yang sudah memiliki baduta,” ucapnya.

Manajemen dan teknik menyusui, katanya, harus betul-betul diperhatikan terutama pada masa 1.000 HPK anak.

Ia mengatakan bila pengasuhan dan asupan gizi yang diberikan pada anak tidak dimaksimalkan, maka anak dapat lahir dalam kondisi stunting.

“Persoalan stunting ini bukan masalah persoalan bangsa sekarang saja, tetapi ini menyangkut masa depan kita,” ucap Irma.

Baca juga: IDAI minta Pemerintah segera buat aturan terkait donor ASI
Baca juga: RUU KIA dorong pengetahuan ibu tentang menyusui bayi