BKKBN: Kebebasan pilih kontrasepsi berdasarkan hasil skrining

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan kebebasan memilih alat kontrasepsi bagi Pasangan Usia Subur (PUS) tetap disesuaikan berdasarkan hasil skrining kesehatan dan syarat yang berlaku.

“Ibu yang habis melahirkan bisa memilih kontrasepsi jangka panjang atau pendek, tentunya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Sudah ada alur pelayanan KB setelah diedukasi,” kata Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Eni Gustina dalam Peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.

Eni menyatakan BKKBN terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan teknologi untuk memberikan hasil yang terbaik bagi kenyamanan keluarga, dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Alat kontrasepsi yang ada telah tersedia dalam jenis yang lebih banyak dan berkualitas baik.

Beberapa alat kontrasepsi itu terdiri dari suntikan, implan, IUD, pil hingga kondom. Pemasangannya pun masing-masing dapat dilakukan tiga bulan sekali maupun sebulan sekali. Peningkatan jenis dan mutu KB merupakan upaya untuk meningkatkan minat ibu langsung memasang kontrasepsi setelah melahirkan.

Baca juga: BKKBN dekatkan nakes-keluarga entaskan kebutuhan KB yang tak terpenuhi

Baca juga: KB dan posyandu gerbang utama kontrol kematian ibu

Setiap ibu memiliki kebebasan untuk memilih alat kontrasepsi yang ingin digunakan. Namun, Eni menegaskan semua harus tetap melihat kondisi kesehatan ibu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti alergi.

Selama ibu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, Eni menjelaskan bahwa tenaga kesehatan akan melakukan skrining kesehatan sambil mengedukasi manfaat KB dan jenis KB yang dipilih. Semua hal seperti tata laksana pemakaian, efek samping hingga cara menyembuhkannya pun akan diberikan sebagai bentuk pemenuhan 12 hak reproduksi bagi perempuan.

“Setelah diedukasi kontrasepsi apa sesuai kebutuhan, lalu diskrining sesuai kesehatannya. Jadi kalau misalnya punya penyakit tertentu, tidak boleh pakai kontrasepsi hormonal. Kita edukasi yang tidak hormonal tapi tetap berdasarkan pilihan alat kontrasepsinya,” katanya.

Dalam kesempatan itu Eni turut mengingatkan saat ingin memakai KB, setiap perempuan harus memperhatikan berat badannya. Sebab berat badan akan mempengaruhi efektivitas yang ditimbulkan oleh alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

“Alat kontrasepsi itu diciptakan berdasarkan rata-rata berat badan. Jadi kalau terlalu berat sekali, hormon yang dikeluarkan dari alat kontrasepsi sudah tidak bisa menjaga untuk dia tidak akan hamil,” kata Eni.

Baca juga: Pemkot Bekasi bagikan 16.560 kondom cegah penularan HIV

Baca juga: BKKBN-TNI perluas layanan KB di daerah tinggi kasus stunting