BKKBN-Kedubes Tunisia teken MoU bangun keluarga berkualitas

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Kedutaan Besar Tunisia untuk Indonesia bekerja sama dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) sebagai upaya membangun keluarga berkualitas.

“BKKBN dan National Family Planning and Population of Tunisia (ONFP) telah menandatangani nota kesepahaman dengan ruang lingkup Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana dan Kependudukan,” kata Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN Muhammad Rizal Martua Damanik di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan lewat kerja sama yang dibangun, BKKBN nantinya mengundang Kedubes Tunisia melalui ONFP untuk berdiskusi lebih jauh dalam berbagi upaya-upaya dalam mempercepat pembangunan bangsa yang berkualitas.

Dari sisi BKKBN sendiri, praktik baik Indonesia akan dijabarkan melalui program Keluarga Berencana, Pembangunan Keluarga serta program pengurangan populasi dan kekerdilan pada anak (stunting).

Sejumlah usaha yang dilakukan pihaknya terkait menurunkan stunting melalui pembentukan Satgas Penurunan Stunting, penguatan konvergensi berbagai pihak baik antar kementerian/lembaga, pihak swasta dan akademisi, pembentukan Program Mahasiswa Peduli Stunting dan Bapak Asuh Anak hingga inovasi DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) pun akan disosialisasikan.

Secara terpisah, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyatakan telah membuka peluang kerja sama kepada seluruh negara dunia untuk mengentaskan permasalahan dalam keluarga melalui itikad baik masing-masing negara.

Lewat kerja sama dengan berbagai negara, Indonesia bisa mengadopsi upaya-upaya baik ataupun berinovasi dalam menciptakan dan mengawal keluarga menjadi kuat, bahagia dan sejahtera, sebagaimana yang dijabarkan dalam indeks pembangunan keluarga (I Bangga).

“Kita sangat bisa bekerja sama dengan berbagai negara. Untuk itu, kita bisa mengadopsi bagaimana mewujudkan family planning untuk menjadi family welfare atau keluarga yang kuat,” katanya.

Duta Besar Tunisia untuk Indonesia Riadh Dridi mengatakan keberhasilan Tunisia dalam program KB dan kesehatan reproduksi telah berkontribusi mengontrol pertumbuhan demografi, memperluas jangkauan kontrasepsi, mengontrol fertilitas serta meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

Sejak dapat merdeka pada tahun 1956, Tunisia berusaha sekuat tenaga memberikan pelayanan KB pada keluarga meski diterpa minimnya struktur dan sumber daya kesehatan. Bagi Tunisia KB berkaitan sangat erat dengan perkembangan ekonomi negara.

Salah satu upaya yang dilakukan negaranya, kata Dubes, adalah memberikan pelayanan KB melalui mobil unit pelayanan KB keliling yang mereka namakan L'équipe mobile (EM) dan La clinique mobile (CM), yang mengakibatkan angka kesuburan total (TFR) di Tunisia berhasil turun dari tujuh pada tahun 1964 menjadi lima pada tahun 1984.

Dirinya berharap dengan bertukar pikiran bersama Indonesia dapat memberikan dampak yang positif dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan dan keseimbangan dalam keluarga dan masyarakat.

“Di Tunisia, partisipasi perempuan dalam pendapat saya, akan mengakselerasi pembangunan peradaban untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan khususnya pada program Bangga Kencana dan program penurunan stunting. Tunisia punya pengalaman yang baik untuk dikolaborasi, bagaimana meningkatkan partisipasi perempuan di Indonesia,” demikian Riadh Dridi.


Baca juga: Atlet RI raih prestasi membanggakan di kejuaraan Kempo di Tunisia

Baca juga: KBRI Tunis gelar program "Academic Mindset" untuk mahasiswa Indonesia

Baca juga: Produsen kurma Tunisia ingin buka pabrik di Indonesia

Baca juga: Tunisia minati 'furniture' Indonesia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel