BKKBN: Kondom harus diperkenalkan sebagai cara cegah HIV/AIDS

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan kondom harus diperkenalkan sebagai cara untuk mencegah meluasnya penularan akibat HIV/AIDS di tengah-tengah masyarakat.

“Kita perlu promosi pemakaian kondom karena ada peningkatan penularan HIV/AIDS, kita tahu ada berita yang viral sekali di mana jumlah atau prevalensi HIV/AIDS di beberapa daerah itu tinggi sekarang,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam temu media yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis.

Hasto menuturkan bahwa beberapa daerah mulai menunjukkan kenaikan kasus HIV/AIDS, oleh karenanya kondom terutama pada remaja harus digencarkan sebagai alat untuk mencegah penularan penyakit seksual ataupun kehamilan yang tidak diinginkan.

Hal tersebut dimaksudkan agar penerus masa depan bangsa, tidak memiliki kualitas yang buruk dan dapat memahami pentingnya kesehatan reproduksi bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Selain itu, kondom juga harus diperkenalkan sebagai alat untuk mencegah kehamilan yang tidak sehat, terjadinya stunting pada anak hingga mencegah terjadinya kematian ibu dan bayi.

“Terlebih seandainya ditempat yang kita tidak inginkan ada seperti Pekerja Seks Komersial (PSK), itu kalau mereka liar maka HIV/AIDS akan sangat berbahaya, itu yang bisa saya tambahkan,” kata Hasto.

Baca juga: Tanya KB pada "Ask the Lady"

Baca juga: BKKBN: Banyak negara tertarik belajar program KB Indonesia

Rantai pasok dalam distribusi kondom di Indonesia sendiri, katanya, sudah sangat jelas. Pemberian diberikan secara gratis oleh pemerintah yang diedarkan melalui dinas kesehatan sampai ke fasilitas kesehatan di daerah terkait.

Semua data terkait penggunaan kondom yang diberikan pada Pasangan Usia Subur (PUS) dijamin sudah teregistrasi dalam sistem yang dikelola oleh BKKBN. Di tambah lagi, saat ini setiap rumah sakit dituntut untuk memiliki program Keluarga Berencana (KB).

Di mana program itu saat ini juga difokuskan dberikan pada ibu setelah melahirkan, atau dalam konseling pernikahan pada pasangan usia muda.

“Kondom bisa dibagi melalui konseling pernikahan sehingga kalau usianya terlalu muda tapi mau menikah dan usia yang muda tapi sudah menikah, ini menjadi sasaran yang baik untuk bisa mensosialisasikan penggunaan alat kontrasepsi yang sederhana,” ujarnya.

Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Eni Gustina menambahkan beberapa wilayah yang terdeteksi mengalami peningkatan kasus HIV/AIDS adalah Papua dan Jawa Barat.

Hal tersebut menunjukkan tingginya hubungan seks yang dilakukan oleh masyarakat. Di tambah dengan Kementerian Kesehatan yang tidak mengadakan distribusi kondom para pekerja seks meski di sejumlah tempat kondom sudah bisa dibeli mandiri.

“Meskipun kita tahu di beberapa minimarket itu bebas, tapi penggunaan kondom sangat rendah sehingga kasus HIV menjadi sangat tinggi,” ujarnya.

Eni menekankan BKKBN tidak dapat bekerja sendirian untuk mengontrol terjadinya seks bebas tanpa kondom. Namun, dia mengajak semua kementerian/lembaga serta pihak dalam masyarakat yang terkait untuk bertanggung jawab memberikan kontrol kepada pemanfaatan dari alat kontrasepsi sehingga bisa menjadi role model bagi negara lain.

“Meski didominasi penduduk Muslim, kita tetap mengadakan pelayanan kontrasepsi dengan mempertahankan alat kontrasepsi diutamakan dan dimanfaatkan untuk pasangan, di luar itu harus ada legalitas sendiri oleh institusi dalam masyarakat sehingga kita harus mulai memberikan edukasi pada keluarga,” katanya.

Baca juga: Pemkot Bekasi bagikan 16.560 kondom cegah penularan HIV

Baca juga: Mayoritas orang Indonesia berhubungan seks tanpa alat kontrasepsi