BKKBN perkuat sistem manajemen risiko SPIP untuk mengatasi stunting

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyambut Hari Keluarga Nasional 2022 dengan membangun dan memperkuat sistem manajemen risiko yang merupakan bagian dari Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Terintegrasi (SPIP) guna mempercepat penurunan prevalensi stunting.

“Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kapasitas dan membangun komitmen para pimpinan tinggi madya, pejabat pimpinan tinggi pratama BKKBN pusat dan provinsi dalam menerapkan manajemen risiko di lingkungan unit kerja masing-masing,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Rabu.

Hasto menuturkan pelaksanaan seluruh program dan kegiatan yang dijalankan harus berorientasi pada hasil dengan fokus kepada prioritas, target yang dicapai dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca juga: BKKBN: Remaja dapat berkontribusi cegah kekerdilan

Komitmen dalam menerapkan manajemen risiko juga harus diawali dengan pengembangan budaya sadar risiko, sosialisasi kepada seluruh pejabat atau pegawai dan komitmen untuk menyediakan sumber daya guna melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan manajemen risiko guna mendukung pencapaian visi, misi dan sasaran BKKBN.

Lewat manajemen dan mitigasi risiko yang menjadi bagian dari SPIP, diharapkan semua pencapaian visi dan misi BKKBN, termasuk percepatan penurunan angka stunting dapat menyentuh target 14 persen di tahun 2024.

Dengan berpegang teguh pada data yang benar, tepat sasaran dan tim pendamping keluarga (TPK) yang telah BKKBN bentuk untuk mengawal keluarga, sehingga setiap ibu dan anak mendapatkan tindakan (treatment) langsung sesuai kondisi yang ada di lapangan.

Hasto menambahkan penyelenggaraan SPIP meliputi Penilaian Mandiri (PM) dan Penjaminan Kualitas (PK) serta evaluasi atas Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) yang dilakukan oleh BPKP mencakup penilaian secara terintegrasi termasuk Manajemen Risiko Indeks (MRI).

“Hasil penilaian baseline maturitas penyelenggaraan SPIP terintegrasi pada BKKBN Tahun 2021 sebesar 3,056, dengan nilai Manajemen Risiko Indeks (MRI) sebesar 2,741. Terdapat beberapa kriteria dengan nilai di bawah 3,000 untuk segera ditindaklanjuti oleh seluruh unit kerja dalam upaya meningkatkan nilai maturitas SPIP BKKBN tahun 2022,” kata dia.

Baca juga: BKKBN: Presiden minta intervensi kekerdilan dilakukan secara terpadu

Baca juga: BKKBN: Program KB bantu ibu beri jarak kehamilan cegah kekerdilan

Kesadaran dan komitmen terhadap pentingnya tata kelola menjadi faktor penting dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga, diperlukan kolaborasi agar anggaran tepat sasaran dan tujuan dapat tercapai.

Hasto berharap penandatanganan komitmen bersama penerapan manajemen risiko yang diikuti oleh pejabat tinggi bisa memperkuat integritas seluruh BKKBN yang ada di pusat hingga daerah untuk mencegah terjadinya stunting pada anak-anak Indonesia.

“Komitmen bersama tersebut ditandatangani oleh para pejabat pimpinan tinggi madya, pejabat pimpinan tinggi pratama BKKBN pusat dan provinsi yang saya saksikan langsung. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya agar semangat integritas seluruh pimpinan BKKBN tetap terjaga,” ujar Hasto.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel