BKKBN: Persepsi KB tantangan hadapi kehamilan tidak diinginkan

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) membeberkan bahwa persepsi keluarga terkait dengan penggunaan KB menjadi tantangan dalam menghadapi terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.

“Sebenarnya tidak ada pengaruh (alat kontrasepsi) yang membahayakan. Itu lebih kepada persepsi keluarga,” kata Direktur Analisis Dampak Kependudukan BKKBN Faharuddin saat ditemui di Kampung KB Tunagan, Desa Wangunjaya, Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, Kamis.

Menanggapi banyak terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan oleh seorang ibu, Faharuddin menuturkan bahwa adanya persepsi buruk mengenai penggunaan alat kontrasepsi dalam program KB, membuat ibu enggan menggunakannya karena dianggap memberikan dampak buruk bagi tubuh.

Baca juga: Harganas 2022 momentum tingkatkan layanan KB pasca-persalinan
Baca juga: BKKBN turunkan 200.000 tim pendamping keluarga layani peserta KB

Menurut Faharuddin, persepsi buruk itu dipicu oleh adanya isu-isu seputar penggunaan KB dalam masyarakat yang mengatakan bahwa alat kontrasepsi bisa berjalan di dalam tubuh ataupun memberi dampak fatal bagi ibu. Terkadang, keluarga pun memberikan edukasi yang salah dari adanya mitos tersebut.

Dari persepsi itulah, timbul ketakutan para ibu untuk mengikuti program KB meskipun mereka tidak mau atau tidak memiliki rencana memiliki anak kembali dalam jangka waktu tertentu.

Ia menjelaskan, ketakutan juga semakin diperkuat karena tidak adanya dukungan dari pihak suami.

"Sering ditemukan kasus bahwa suami yang menentukan banyaknya anak yang diinginkan, sehingga ibu tidak punya andil atas dirinya atau kesempatan untuk menggunakan kontrasepsi sesuai keinginan dan kondisi tubuhnya," katanya.

Akibatnya hal tersebut, menurut Faharuddin, banyak terjadi kehamilan yang tidak diinginkan dan berujung pada hal-hal yang membahayakan seperti kematian ibu, kematian anak, terjadinya kekerdilan pada anak (stunting) hingga gangguan psikologis ibu karena mental yang tidak siap untuk menambah jumlah anak.

Baca juga: BKKBN beri NIB untuk tingkatkan ekonomi keluarga akseptor KB
Baca juga: BKKBN sarankan jarak kehamilan ideal minimal tiga tahun

Menurut Faharuddin, pemakaian alat kontrasepsi memang akan berpengaruh pada berubahnya siklus menstruasi pada seorang perempuan karena adanya hormon yang berubah. Adapun dampak lain yang mungkin akan muncul sangat minim dan hanya terjadi pada beberapa orang saja karena kondisi tubuh yang berbeda-beda.

“Tapi secara keseluruhan, tidak ada alat kontrasepsi yang berbahaya bagi kesehatan. Lebih ke kecocokan masing-masing orang karena kondisi tubuhnya yang berbeda-beda,” katanya.

Faharuddin menambahkan BKKBN terus berusaha memberikan edukasi terkait bahaya kehamilan yang tidak diinginkan melalui sosialisasi dan edukasi Program Bangga Kencana sampai ke pelosok dan Kampung Keluarga Berkualitas (KB).

Baca juga: Kepala BKKBN tegaskan KB perlu partisipasi aktif dari suami
Baca juga: Dokter: Penggunaan pil kontrasepsi bantu regulasi suasana hati

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel