BKKBN: Tenaga medis Afghanistan tertarik pada BPJS dan sunat perempuan

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan tenaga medis asal Afghanistan yang mengikuti pelatihan keluarga berencana merasa tertarik pada layanan kesehatan yang diberikan oleh BPJS dan sunat perempuan yang dilakukan di Indonesia.

“Di negara kami nyaris tidak ada sistem asuransi kesehatan. Apalagi yang massal dan nasional seperti BPJS, kami sungguh kagum,” kata Dokter asal Afghanistan Abdullah Shenware dalam keterangan tertulis BKKBN yang diterima ANTARA di Jakarta, Selasa.

Dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kesehatan Ibu dan Anak serta KB yang diikuti oleh 38 tenaga medis dari Afghanistan di Yogyakarta pada hari Senin (7/11), peserta mengunjungi Puskesmas Gedongtengen untuk melihat dan mempelajari pelayanan dasar kesehatan masyarakat di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Abdullah mengatakan hampir seluruh pasien Puskesmas dilayani dengan skema pembiayaan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).

Hal yang paling menarik baginya adalah jangkauan pelayanan kesehatan hingga pelosok daerah karena hal itu belum bisa dinikmati seutuhnya oleh warga Afghanistan, ujarnya.

Baca juga: BKKBN: Bidan Papua semangat ikut pelatihan KB meski tempuh jarak jauh

Baca juga: BKKBN dorong pendamping keluarga di Palu optimalkan edukasi KB

“Pusat kesehatan level terbawah yang kami kunjungi ini sungguh lengkap pelayanannya,” katanya.

Dokter Kandungan asal Afghanistan Fariha Anoosh mengaku takjub Indonesia memiliki buku Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) tentang perawatan kesehatan ibu hamil yang sengaja dimintanya dari Puskesmas Gedongtengen untuk dijadikan bahan penyuluhan di tempat kerjanya nanti.

“Akan saya gandakan dan bagikan kepada teman-teman di rumah sakit sebagai panduan memberikan penyuluhan,” ucapnya

Fariha turut takjub dengan adanya Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) untuk melindungi perempuan. Sebab di negaranya, pembatasan-pembatasan terhadap kaum perempuan sangat berpengaruh terhadap rendahnya kontribusi dokter, perawat, dan bidan perempuan Afghanistan dalam memajukan derajat kesehatan masyarakat.

Plt. Direktur LSM Rifka Annisa, Indah Wahyu Andari menjelaskan bahwa terdapat tiga aliran pemahaman mengenai sunat perempuan yang berbeda di Indonesia.

Perbedaan budaya kedua negara dalam memperlakukan perempuan jelas berbeda, kata dia, namun di Indonesia ada yang memandang sunat perempuan bukanlah ajaran agama, sehingga tidak perlu dilakukan bila hanya merugikan kaum perempuan.

Sedangkan pandangan lainnya menyatakan hal tersebut adalah ajaran agama yang wajib dilaksanakan atau sebagai adat yang dilakukan secara simbolis dengan menyayat sedikit kulit ari perempuan di atas clitrois atau bahkan digantikan dengan mengiris kunyit.

Kepala Perwakilan BKKBN DI Yogyakarta Shodiqin menyatakan akan membantu menyiapkan pelaksanaan pelatihan pun dapat belajar banyak dari para peserta.

“Kami tugaskan personil kami untuk mendampingi peserta selama proses pembelajaran dan berinteraksi untuk membuka wawasan,” kata Shodiqin.

Baca juga: BKKBN: Capaian KB baru di empat daerah di Sumbar di bawah 10 persen

Baca juga: BKKBN: Kebebasan pilih kontrasepsi berdasarkan hasil skrining