BKKBN tingkatkan BKB perkuat pencegahan stunting berbasis keluarga

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meningkatkan mutu program Bina Keluarga Balita dan Anak (BKB) sebagai inovasi untuk memperkuat pencegahan terjadinya kekerdilan (stunting) berbasis keluarga.

“Upaya percepatan penurunan stunting bertujuan agar anak-anak Indonesia tumbuh dan berkembang secara optimal, disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global,” kata Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN, Nopian Andusti dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Nopian menyebutkan bahwa inovasi yang dilakukan dalam program BKB adalah dibuatnya model kelas pengasuhan BKB.

Baca juga: BKKBN: Perkawinan dini sebabkan kecatatan anak dan ibu osteoporosis

Model kelas pengasuhan tersebut dibuat melalui penyempurnaan Buku Panduan Penyuluhan Bina Keluarga Balita Eliminasi Masalah Anak Stunting (BKB EMAS). Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan lewat model-model pola pengasuhan berbasis keluarga pada masyarakat.

Dalam menjalankan inovasinya, BKKBN bekerja sama dengan Tanoto Foundation, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Nopian mengatakan kehadiran model kelas pengasuhan BKB karena hingga kini permasalahan gizi utama yang masih dialami masyarakat Indonesia adalah terjadinya stunting yang berpotensi menghasilkan sumber daya manusia yang lemah dan tidak berdaya saing.

“Makanya, intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif harus terus dilakukan, khususnya di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak yang dimulai sejak awal konsepsi atau selama 270 hari masa kehamilan serta 730 hari setelah lahir,” ucap Nopian.

Senior Technical Adviser of Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation, Widodo Suhartoyo mengapresiasi kerja samanya dengan BKKBN yang berkomitmen menyusun inovasi itu sejak awal tahun 2022.

Baca juga: BKKBN dan 5 kementerian susun mekanisme turunkan stunting sampai ke RT

Baca juga: BKKBN: Tekan kawin dini agar stunting turun

Pengembangan buku penyuluhan BKB EMAS sudah melalui revisi dan proses yang panjang untuk memastikan kualitas. Pihaknya bersama BKKBN juga sudah melakukan uji keterbacaan terhadap model pembelajaran.

Widodo mengaku akan melakukan revisi buku penyuluhan, uji coba buku penyuluhan, pengembangan e-learning dan pelatihan bagi kader agar pencegahan stunting semakin mantap dilakukan oleh keluarga.

“Kegiatan ini merupakan proses untuk meningkatkan kualitas buku panduan penyuluhan bagi kader, juga sebagai bahan untuk pembelajaran orang tua dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengasuh anak dalam masa 1.000 HPK," ujar Widodo.