BKPM Klaim Investasi di RI hingga Kuartal III Lampaui Negara Tetangga

Daurina Lestari, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 1 menit

VIVA – Staf Ahli BKPM Bidang Peningkatan Daya Saing Penanaman Modal, Heldy Satrya Putera, menjelaskan, resesi ekonomi secara global saat ini tidak bisa dibandingkan dengan resesi-resesi era sebelumnya.

Karena, banyak hal yang sebelumnya sudah terjadi mulai dari perang dagang Amerika Serikat dan China, hingga timbulnya pandemi COVID-19 di awal tahun ini.

"Dan menyebabkan kontraksi yang cukup besar tidak hanya kepada Indonesia, tetapi juga kepada negara-negara lainnya di dunia. Arus investasi secara global bahkan turun antara 30-40 persen," kata Heldy dalam telekonferensi, Kamis 12 November 2020.

Heldy menjelaskan bahwa secara global terjadi penurunan arus investasi akibat dampak pandemi COVID-19. Namun, khusus untuk kawasan ASEAN, investasi di Indonesia nyatanya masih mengalami pertumbuhan.

Bahkan, porsi investasi di Indonesia sejak Januari-September 2020, disebut-sebut masih lebih besar dibandingkan beberapa negara tetangga. "Indonesia masih mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam dalam nominal," ujarnya.

Baca juga: Kasus Video Porno Mirip Gisel dan Jedar Naik ke Tahap Penyidikan

Heldy menambahkan, Indonesia masih memimpin nilai investasi yang masuk ke dalam negeri selama tiga tahun terakhir, meskipun Vietnam mengalami pertumbuhan konsisten dan memiliki porsi investasi masuk terhadap GDP paling tinggi.

Berdasarkan data BKPM hingga kuartal III-2020, tercatat bahwa realisasi investasi di RI sudah mencapai sebesar Rp611,6 triliun. Secara persentase, jumlah itu sudah mencapai 74,8 persen, dari target pada 2020 sebesar Rp817,2 triliun.

"Sehingga dengan pencapaian ini kami cukup optimis untuk bisa mencapai target realisasi investasi di tahun 2020 ini," kata Heldy.

Di sisi lain, Heldy berharap bahwa kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai suatu peluang, untuk memulihkan perekonomian nasional yang terdampak pandemi COVID-19 khususnya dari sektor investasi.

"Ini sebetulnya suatu peluang yang harus kita manfaatkan untuk memulihkan dampak dari pandemi COVID-19, dan melakukan perbaikan-perbaikan setelahnya," ujarnya. (art)