BKSDA Sumatera Selatan pulihkan kawasan Suaka Margasatwa Dangku

Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumatera Selatan fokus memulihkan kawasan Suaka Margasatwa Dangku di Musi Banyuasin (Muba) untuk mencapai Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Muba Yusmono di Sekayu, Senin, mengatakan pemulihan SM Dangku ini bagian dari upaya pemerintah di bidang konservasi untuk mencapai Indonesia's FOLU Net Sink 2030.

"Kegiatan pemulihan ekosistem di wilayah SM Dangku itu dilakukan dengan penanaman pohon yang direncanakan melibatkan banyak pihak pada 27 September mendatang," katanya.

Pihak yang terlibat di antaranya Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel, Pemkab Muba, UPT Kementerian LHK Lingkup Provinsi Sumsel, TNI dan Kepolisian, Mitra Balai KSDA Sumsel, dan masyarakat.

Baca juga: PTBA-BKSDA Sumsel berdayakan masyarakat sekitar kawasan konservasi

"Lokasi penanaman bertempat di SM Dangku, areal Sungai Biduk Desa Dawas, Kecamatan Keluang, Kabupaten Muba. Lokasi ini merupakan Blok Rehabilitasi SM Dangku yang telah menerapkan mekanisme kemitraan konservasi bersama Kelompok Tani Hutan Konservasi (KTHK) Sidomulyo," katanya.

Ia mengatakan akses ke lokasi dari Sekayu sekitar 2 jam melewati Desa Tanah Abang – Saud – Simpang PPKS – SM Dangku. Kondisi jalan dari Sekayu ke simpang PPKS beraspal sedangkan dari PPKS ke SM Dangku jalan tanah.

"Kelompok tani yang berlokasi di SM Dangku ada tiga kelompok yang sudah Perjanjian Kerja Sama (PKS) yaitu KTHK Maju Bersama luas wilayah 54 hektare dengan jumlah 27 Kepala Keluarga (KK), KTHK Sidomulyo luas wilayah 118,19 hektare dengan jumlah 51 KK, dan Gapoktanhut Jrangkang Hutan Lestari luas wilayah 145,61 hektare dengan jumlah 76 KK," katanya.

Baca juga: BKSDA wajibkan warga sekitar SM Sugihan tanam pohon pascakarhutla

Pj Bupati Muba Apriyadi menyambut baik langkah pemulihan SM Dangku tersebut karena selama ini sudah ditemui warga bertempat tinggal di kawasan tersebut secara ilegal.

“Artinya sudah ada yang masuk dan beraktivitas di SM Dangku. Setelah sekian lama, perlu ada pemulihan,” kata dia.

Indonesia's Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030 merupakan suatu kondisi di mana tingkat serapan karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya sudah berimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi yang dihasilkan sektor tersebut pada tahun 2030.

FOLU Net Sink 2030 dapat dicapai melalui 11 langkah operasional mitigasi sektor FOLU, yaitu pengurangan laju deforestasi lahan mineral, pengurangan laju deforestasi lahan gambut, pengurangan laju degradasi hutan lahan mineral, pengurangan laju degradasi hutan lahan gambut.

Baca juga: BKSDA Sumsel usulkan pembentukan tim penanganan konflik satwa-manusia

Kemudian pembangunan hutan tanaman, sustainable forest management, rehabilitasi dengan rotasi, rehabilitasi non-rotasi, restorasi gambut, perbaikan tata air gambut, dan konservasi keanekaragaman hayati.