Arena

Mencari Solusi Masalah Wasit Indonesia

Ilustrasi (ANTARA/Rekotomo)


Ditulis oleh: Sirajudin Hasbi


Wasit berkualitas di Indonesia masih terlalu sedikit jumlahnya untuk dapat memimpin pertandingan liga Indonesia yang begitu banyak. Sementara itu, wasit yang tak kompeten dapat memicu keributan akibat protes dari pemain, ofisial dan penonton.

Apa yang perlu dilakukan oleh PSSI, Komite Wasit dan operator liga terkait hal ini?

Tak Perlu Wasit Asing


Wacana penggunaan wasit asing di liga Indonesia sudah mengemuka sejak lama. Hanya ada 17 wasit yang secara kualitas layak di LSI sehingga diperlukan wasit bagus dari luar negeri.

“Faktor besar kekerasan kepada wasit karena wasit itu sendiri kurang berkualitas. Karena itu untuk menutupi kekurangan wasit yang berkapasitas bagus, kami setuju dan menganggap perlu wasit asing,” ujar Roberto Rouw, ketua Komite Wasit PSSI. 

Sebagai tindak lanjut, wasit asal Korea Selatan dan Australia pun dijajaki untuk bertugas di LSI. Alasannya, wasit dari kedua negara itu memiliki kualitas yang cukup bagus, berada di bawah naungan AFC, tapi tidak terlalu mahal. Namun, hingga paruh kedua LSI berjalan sejauh ini belum juga ada tanda-tanda wacana ini terlaksana.

Langkah menggunakan wasit asing ini merupakan pilihan instan layaknya naturalisasi pemain. Naturalisasi dilakukan karena federasi tidak serius menggarap pembinaan pemain muda. Wasit asing digunakan karena PSSI dan Komite Wasit jarang melakukan pelatihan untuk pembinaan wasit sepak bola.

Setiap wasit asing dibayar $1000 per pertandingan, sekitar Rp10 juta — dua kali gaji wasit lokal yang dibayar Rp5 juta.

Ada dua hal negatif dari penggunaan wasit asing. Pertama, biaya mahal akan semakin memberatkan dalam pembiayaan. Karen selama ini masih ada kasus keterlambatan pembayaran gaji wasit. Selain itu, perbedaan gaji yang signifikan akan menimbulkan kecemburuan di kalangan wasit lokal.

Kedua, penggunaan wasit asing tidak memberikan pembelajaran yang berarti bagi wasit lokal. Wasit asing hanya akan berdampak pada pertandingan liga, tidak sampai pada tahap perbaikan kualitas wasit lokal.

Oleh karena itu, PSSI dan Komite Wasit perlu fokus memperhatikan pembinaan wasit lokal. Dana yang ada untuk membayar wasit asing bisa dialokasikan untuk pembinaan wasit lokal saja. Biaya pelatihan wasit akan semakin terjangkau atau bahkan bisa gratis sehingga makin banyak peserta.

Juga diperlukan adanya pemantauan wasit secara serius di setiap divisi. Ini penting untuk memantau kualitas wasit yang bisa dipromosikan. Thoriq Alkatiri, sebagai contoh, pada mulanya berkarir sebagai wasit di Divisi I tetapi kini dia sudah menjadi salah satu wasit terbaik di LSI.

Ketegasan Komite Wasit

Komite Wasit perlu tegas dalam menjalankan sistem promosi dan degradasi bagi wasit.

Sejauh ini, Komite Wasit sudah cukup baik. Aeng Suarlan dan Muhaimin yang dinilai telah melakukan kesalahan saat memimpin pertandingan, didegradasi kelasnya ke Divisi Utama dan untuk sementara tidak lagi boleh memimpin pertandingan di kasta tertinggi.

Aeng Suarlan bermasalah ketika memimpin laga antara Sriwijaya FC melawan Persiba Balikpapan di awal kompetisi. Sementara Muhaimin merupakan wasit yang mengeluarkan keputusan kontroversial saat menunjuk titik penalti bagi PBR dan akhirnya dipukul oleh Pieter Rumaropen dalam pertandingan PBR menghadapi Persiwa di stadion Siliwangi.

Sebelum memimpin kembali, keduanya harus membuat surat pernyataan untuk melakukan tugasnya dengan baik. Selain itu, juga perlu dilakukan tes kesehatan untuk melihat kebugaran fisiknya (sebab bisa saja selama menunggu sanksi dan tugas baru, keduanya tidak menjaga kebugaran).

Evaluasi terhadap kinerja wasit ini memang perlu terus dilakukan oleh Komite Wasit secara berkesinambungan. Evaluasi bisa berarti sanksi degradasi bagi wasit atau bahkan bisa sampai dicabut lisensinya. Juga bisa menjadi sarana untuk mempromosikan wasit dari divisi bawah yang memiliki kualitas baik.

Menghilangkan Korupsi Dalam Pembinaan Wasit

Baik PSSI dan Komite Wasit perlu menyeriusi pembinaan wasit, termasuk untuk menghilangkan praktek korupsi yang kerap terjadi dalam proses pembinaan wasit.

Selain ada isu suap wasit untuk jual beli hasil pertandingan, ada pula isu pungutan liar dalam perekrutan. 

Mantan wasit Sumarwoko menceritakan bagaimana dia pernah gagal memperoleh lisensi C1 wasit nasional tahun 1995 lantaran tidak bersedia membayar sejumlah uang di luar biaya pendaftaran agar diluluskan. Pada 1997 akhirnya lisensi itu dia dapatkan setelah menyerah — bersedia membayar pungutan.

Menjadi wasit nasional membutuhkan pelatihan berjenjang dari tingkat kabupaten/kota dan biaya yang tidak sedikit, seperti yang dijelaskan oleh Fajar Ikhsan Nugroho, wasit PSSI Yogyakarta. Di tingkat kabupaten/kota, lisensi C3 bisa diperoleh dengan mengikuti pelatihan dari Pengurus Cabang (Pengcab) PSSI. Calon wasit harus mengikuti tes kebugaran standar FIFA, yakni berlari 6x40 meter dan 20x150 meter dalam waktu 30 detik per 150 meter, melengkapi persyaratan administrasi, serta membayar biaya sekitar Rp1,5 juta. Kalau lulus diperbolehkan memimpin pertandingan di tingkat kabupaten/kota.

Seorang wasit bisa mengambil kursus lisensi C2 yang diselenggarakan oleh PSSI di tingkat Pengurus Provinsi (Pengprov). Syaratnya tidak jauh berbeda, hanya biayanya lebih mahal yakni sekitar Rp3 juta. Wasit yang sudah memiliki lisensi C2 ini bisa memimpin pertandingan di tingkat provinsi, seperti Popda, Porprov, dan lainnya.

Baru setelah itu diperbolehkan mengurus lisensi C3 nasional. Persyaratannya kurang lebih sama tetapi dengan biaya yang cukup mahal, sekitar Rp8 juta. Oleh karena itu banyak wasit muda yang kesulitan untuk memenuhi biaya administrasi ini. Juga karena takut banyak pungutan liar yang membuat alokasi dana membengkak. Wasit dengan lisensi C3 inilah yang bisa memimpin pertandingan level nasional, seperti liga amatir dan liga Indonesia.

Bagi wasit yang sudah mengantongi lisensi C3 dan masih berusia di bawah 30 tahun ada kesempatan untuk mengikuti kursus wasit FIFA yang diselenggarakan oleh AFC. Ini seperti yang diperoleh oleh wasit termuda Indonesia berlisensi FIFA, Agus Fauzan Arifin yang baru berusia 26 tahun.


BACA JUGA:


Permasalahannya Sudah Seperti Kanker


Agen Pemain yang Ikut Mengatur


Kiat Pemain Sepak Bola Indonesia di Bulan Puasa


Bagaimana Klub-klub Terkaya Dunia Mengelola Keuangannya


Klub Terbaik di Indonesia


Akhir Filosofi Tiki-taka?


Menebak Posisi Neymar di Barcelona


Pekerjaan Rumah Jose Mourinho di Chelsea

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.