Postingan Blog oleh Aam Amiruddin

  • Sidang Isbat di Hari Besar Islam Lainnya

    Mengapa sidang isbat tidak diadakan pula di hari Idul Adha dan/atau hari-hari besar Islam lainnya?
    (Aris, Jakarta)

    Isbat artinya “menetapkan, memastikan atau memutuskan”. Kementerian Agama RI biasanya melaksanakan sidang isbat untuk menetapkan atau memastikan waktu yang definitif jatuhnya awal Ramadan atau 1 Syawal (Idul Fitri).
    Sidang isbat Lebaran 18 Agustus. (TEMPO.CO)
    Mengapa hal ini dilakukan? Karena penetapan waktu ibadah dalam Islam ada yang merujuk pada peredaran bumi mengitari matahari seperti penetapan waktu-waktu untuk salat wajib. Tetapi ada juga yang penetapan waktunya merujuk pada peredaran bulan mengitari bumi seperti penetapan waktu Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, dll.

    Penetapan waktu ibadah yang merujuk pada peredaran bulan mengitari bumi ditandai dengan kemunculan hilal atau bulan sabit (Lihat QS 2:185). Ada dua metode untuk melihat hilal, yaitu hisab dan rukyat. Metode hisab artinya melihat hilal dengan pendekatan matematis; hilalnya tidak perlu dilihat dengan kornea mata, cukup dilihat dengan mata fikiran

    Selengkapnya »dari Sidang Isbat di Hari Besar Islam Lainnya
  • Tradisi Mudik Idul Fitri

    Adakah dalil khusus yang menganjurkan umat untuk mudik atau pulang kampung halaman saat Idul Fitri? Mengingat mudik sudah seperti “keharusan” di negeri kita.
    (Tri, Sorong)

    Idul Firi merupakan salah satu hari raya umat Islam. Idul Fitri artinya “kembali kepada fitrah atau kesucian”. "Idul Fitri" sendiri merupakan bahasa harapan, mudah-mudahan puasa yang telah dikerjakan selama satu bulan itu mampu mengembalikan manusia pada kesuciannya.
    Mudik, haruskah? (TEMPO.CO)
    Idul Fitri memiliki dua konteks; konteks ritual dan konteks kultural. Idul Fitri dalam konteks ritual dikerjakan secara seragam oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, yaitu dimulai dengan pengumpulan zakat fitrah, memperbanyak takbir, salat Idul Fitri sebanyak dua rakaat, dan saling mendoakan dengan ungkapan “Taqabballah minna wa minkum,” yang artinya, “Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah saya dan Anda,” bahkan dibarengi dengan saling memaafkan.

    Sedangkan dalam konteks kultural, pelaksanaan Idul Fitri diwarnai atau dipengaruhi oleh kultur atau

    Selengkapnya »dari Tradisi Mudik Idul Fitri
  • Waktu yang Pas untuk Berkhotbah

    Saya pernah salat Jumat di sebuah masjid dekat kantor. Karena khotbahnya terlalu lama, banyak pekerjaan saya terbengkalai untuk dibereskan hari itu.

    Pertanyaan saya, bagaimana idealnya waktu berkhotbah di masjid-masjid kota besar saat salat Jumat? Karena khotbah yang terlalu lama juga takut mengganggu tugas-tugas pekerjaan yang sudah menunggu dibereskan.

    (Kurnia, Jakarta)

    Mayoritas ulama sepakat bahwa khotbah Jumat merupakan syarat sahnya salat Jumat. Hal ini merujuk pada firman Allah, “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk salat Jumat, maka segeralah untuk mengingat Allah.“ (Al-Jumu’ah 62:9). Yang dimaksud  “mengingat Allah” adalah khotbah Jumat (Al-Mughni II/74),  dikuatkan pula dengan contoh Rasulullah SAW yang tidak pernah meninggalkan khotbah Jumat saat melaksanakan salat Jumat. 
    TEMPO.CO/Ilustrasi
    Rasulullah SAW apabila sedang khotbah Jumat tidak pernah panjang lebar atau bertele-tele. Khotbahnya singkat, padat, fokus namun mampu menggetarkan jiwa (Lihat hadits riwayat Muslim, Nasa’i, Ibnu

    Selengkapnya »dari Waktu yang Pas untuk Berkhotbah
  • Cara Kaum Muslim Salat Sebelum Perintahnya Diturunkan

    Mengenai sejarah Islam, saya belum ada gambaran, bagaimana cara kaum muslim melakukan ritual sebelum perintah salat diturunkan? Yang saya tahu, Nabi Muhammad suka menyendiri di Gua Hira sebagai salah satu ritualnya.
    (Irshad, Kalimantan Barat)

    Sesungguhnya salat sudah diajarkan sejak Nabi Ibrahim A.S. Hal ini diketahui dari doanya, “Ya Allah, jadikanlah aku dan anak cucuku menjadi orang-orang yang selalu mendirikan salat.” (Ibrahim 14:40).
    Muslim Kuba sedang melakukan salat setelah berbuka puasa.di Havana, 3 Agustus 2012. (REUTERS/Desmond Boylan)
    Teknik pelaksanaan salat yang dilakukan Nabi Ibrahim A.S. berbeda dengan tata cara salat yang diwajibkan kepada Rasulullah SAW saat Isra Mi’raj, karena setiap nabi diberi tata cara ibadah yang berbeda, “Untuk setiap umat, kami berikan aturan ibadah dan jalan yang terang” (Al-Maidah 5:48).

    Ketika salat belum diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW, beliau melakukan salatnya seperti yang dilakukan Ibrahim A.S. karena agama yang dianut Nabi SAW sebelum diangkat menjadi rasul adalah Al-hanifiyyah yaitu mengikuti ajaran atau keyakinan dan cara ibadah yang

    Selengkapnya »dari Cara Kaum Muslim Salat Sebelum Perintahnya Diturunkan
  • Mengutarakan Pendapat Saat Khotbah Jumat

    Saat sedang khotbah Jumat, seandainya kita tidak sepaham dengan pendapat sang imam, bolehkah kita menginterupsi dan mengutarakan pendapat kita? Atau ada forum lain yang bisa mengakomodasi itu?
    (Januar, Jakarta)

    Apabila khatib telah naik mimbar, maka seluruh otoritas forum itu milik khatib. Artinya, hanya khatib yang punya wewenang untuk berbicara.
    Salat Jumat. (TEMPO.CO/Illustrasi)
    Seorang khatib bukan hanya sekedar menyampaikan khotbah, bahkan dia boleh menegur jamaah Jumat yang mengobrol atau melakukan kesalahan dalam beribadah. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah SAW ketika beliau menegur seorang sahabat yang masuk masjid langsung duduk tanpa salat sunah terlebih dahulu. Rasulullah menegurnya dengan, “Qum far ka’ rak’ataini!” (Berdirilah, lakukan salat sunah dua rakaat!). Jadi khatib boleh menegur saat ia sedang berkhotbah.

    Sebaliknya apabila kita menjadi jamaah Jumat, maka tidak diperkenankan berbicara walau niatnya menegur orang yang mengobrol. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berbicara kepada temannya pada saat

    Selengkapnya »dari Mengutarakan Pendapat Saat Khotbah Jumat
  • Azan Subuh Berkumandang, Tapi Masih Minum

    Saat waktu sahur, lalu azan subuh berkumandang. Apakah saya masih boleh minum/makan? Atau terhitung sejak azan tersebut, sudah tidak boleh ada lagi yang masuk ke mulut?
    (Rangga Hadimulyo, Jakarta)

    Puasa dimulai dari terbit fajar, yaitu berbarengan dengan masuknya waktu subuh dan berakhir saat terbenam matahari yaitu berbarengan dengan masuknya waktu magrib. Ketentuan ini merujuk pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 187. Saat azan subuh berkumandang, berarti pada waktu itu juga kita harus menghentikan makan, minum dan segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa.
    TEMPO.CO/Ilustrasi
    Kita dianjurkan untuk sahur walaupun hanya dengan seteguk air. Ini berlaku untuk puasa wajib ataupun sunah. Rasulullah SAW bersabda, “Bersahurlah kamu karena sesungguhnya sahur itu berbarokah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

    Sebelum azan subuh biasanya kita mengenal istilah imsak.Sebagian besar orang Indonesia masih beranggapan bahwa waktu imsak adalah 10 menit menjelang azan subuh yang ditandai dengan bunyi sirine di beberapa

    Selengkapnya »dari Azan Subuh Berkumandang, Tapi Masih Minum
  • Lebaran Berbeda, Masihkah Kita Berpuasa?

    Kalau lebaran berbeda, masihkah kita harus puasa di saat orang lain sudah lebaran?
    (Rahanny, Jakarta)

    Pertanyaan ini memang patut dikemukakan terlebih beberapa tahun ini di Indonesia sering terjadi perbedaan penanggalan 1 Syawal antara pemerintah dengan beberapa ormas Islam.

    Siapa orang yang tidak mendambakan kesamaan dan kekompakan dalam menjalankan ibadah shaum, khususnya dalam memulai shaum tersebut atau saat Idul Fitri tiba. Tetapi telah sama-sama kita sadari bahwa ternyata dalam penentuan awal Ramadan atau Idul Fitri sampai saat ini masih terjadi perbedaan. Semestinya, kita mafhum jika perbedaan merupakan sunnatullah.
    iStockphoto/Ilustrasi
    Oleh karenanya, janganlah sampai perbedaan tersebut membawa bencana. Justru jadikan semua itu aksesori yang menghiasi kehidupan bersama dalam bingkai ukhuwah Islamiah (persaudaraan dalam Islam). Tinggal bagaimana kita mewujudkannya dalam kedewasaan berpikir dan bertindak.

    Allah SWT mengingatkan di dalam Alquran, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak

    Selengkapnya »dari Lebaran Berbeda, Masihkah Kita Berpuasa?
  • Mimpi Basah Setelah Sahur

    Bagaimana kalau mimpi basah abis sahur? Apakah puasa saya tetap sah sampai Magrib?
    (Bamby, Semarang)

    Apabila kita sedang berpuasa, melakukan sesuatu yang membatalkan puasa tanpa kesadaran atau tanpa kesesengajaan, misalnya makan atau minum, maka puasanya tidak batal karena dilakukan tanpa kesengajaan atau tanpa kesadaran.

    Mimpi basah terjadi tanpa niat dan tanpa kesengajaan orang yang mengalaminya. Mimpi basah terjadi karena proses biologis ketika kapasitas sperma sudah melewati ambang batas, maka sperma itu keluar lewat mimpi, yang kemudian disebut mimpi basah.
    Jupiterimages/Ilustrasi
    Karena mimpi basah itu terjadi di luar kesengajaan atau kesadaran kita, maka hukumnya sama seperti kita makan atau minum tanpa sengaja. Oleh karena itu, puasanya tetap sah dan harus dilanjutkan hingga magrib.

    Ada beberapa aktivitas yang mungkin oleh sebagian orang dinilai dapat membatalkan puasa, termasuk mimpi basah. Padahal jika merujuk pada keterangan-keterangan yang sahih dari Nabi Muhammad SAW ternyata hal tersebut tidaklah

    Selengkapnya »dari Mimpi Basah Setelah Sahur
  • Dua Niat, Satu Kali Puasa

    Apabila saya mesti membayar puasa yang batal pada bulan Syawal, bolehkah saya membayarnya dengan niat puasa sunah Syawal plus niat bayar puasa wajib? Jadi dua niat, tapi satu kali puasa.
    (Alfan, Surabaya)

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berpuasa Ramadan, lalu melaksanakan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka pahalanya seperti puasa setahun." (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah). Hadits ini menegaskan bahwa puasa 6 hari pada bulan Syawal itu sunah.
    AP Photo/Mukhtar Khan/Ilustrasi
    Puasa Syawal bisa dikerjakan secara terpisah-pisah atau bertutrut-turut, yang penting masih pada bulan Syawal.

    Sementara puasa qadha hukumnya wajib karena puasa tersebut dilakukan sebagai pengganti untuk puasa yang tidak bisa kita lakukan di bulan Ramadan karena sakit, bepergian atau kalau pada kaum wanita,  karena menstruasi (lihat QS Al-Baqarah 2:185).

    Jelaslah bahwa puasa Syawal dan qadha itu kedudukan hukumnya berbeda; maka tidak diperbolehkan satu aktivitas puasa dengan dua niat; niat Syawal dan niat bayar qadha.

    Selengkapnya »dari Dua Niat, Satu Kali Puasa