Postingan Blog oleh Herry Gunawan

  • Jokowi Nyapres, Saatnya Tetua Pamit

    Megawati Soekarnoputri layak diberikan selamat. Jauh hari dari pemilihan presiden 2014, Ketua Umum PDI Perjuangan ini legowo dengan mencalonkan kadernya, Joko Widodo, yang saat ini menjabat Gubernur DKI Jakarta. Selesai sudah spekulasi bahwa Mega masih berminat atau tak rela melepas peluangnya menjadi capres kepada orang lain.

    Bahkan lewat perintah hariannya, tegas disampaikan: rakyat Indonesia, apalagi kader PDI Perjuangan tentunya, agar bersatu mendukung Jokowi meraih kursi presiden. Tak diragukan lagi keikhlasannya mencalonkan mantan Walikota Solo dua periode itu. Karena itulah Mega layak diberikan ucapan selamat.

    Gegap gempita dunia maya pun menyambut pencalonan Jokowi itu. Media sosial twitter, media berita online, dan bisa dipastikan televisi maupun media cetak edisi Sabtu (15/3), tak akan luput mengulas gairah ini. Berama-ramai menempatkannya sebagai berita utama.

    Dan bagi Mega, tampaknya dia sudah unggul dari lawan politiknya yang masih terus mengupayakan kerabat agar bisa lempang

    Selengkapnya »dari Jokowi Nyapres, Saatnya Tetua Pamit
  • Bunda Putri, dari Dunia Gelap ke Dunia Terang

    TIBA-tibaPresiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berang tatkala namanya dikaitkan dengansosok misterius bernama Bunda Putri. Ketua Umum Partai Demokrat itu membantah.“Saya bukan pejabat kecengan. Mau reshuffle ngomong dengan orang yang tidakjelas (Bunda Putri),” sanggahnya, dalam konferensi pers khusus.

    Lucu jugaKepala Negara bicara dengan, mungkin harapannya, rada gaul. Yaitu “kecengan”.Ah, mungkin maksudnya kacangan. Kalau “kecengan” kan berkonotasi jual tampang.Tapi mungkin juga ini yang dimaksud.

    Terlepasdari itu, rupanya SBY gerah dengan pernyataan Luthfi Hasan Ishaq, mantanPresiden Partai Keadilan Sejahtera yang kini dalam proses persidangan terkait kasusdugaan korupsi kuota impor sapi. Bunda Putri dikatakan sangat dekat dengan SBY.

    Mungkin sajainformasi kedekatan itu hanya jualan Bunda Putri. Namun siapa tak percaya,kalau yang mengenalkan kepadanya, kata Luthfi di pengadilan, adalah KetuaMajelis Syuro PKS, Hilmi Aminuddin. Di organisasi partai, posisi Hilmi sangatterhormat dan

    Selengkapnya »dari Bunda Putri, dari Dunia Gelap ke Dunia Terang
  • Ekonomi Metro Mini

    DENGAN bahasa dan istilah yang rumit-rumit, para pengusaha kakap yang wangi dan berdasi, membincangkan usaha kecil dan menengah di forum megah, hotel bintang lima. Kali ini pada APEC Business Advisory Council (ABAC) di Bali, yang menjadi rangkaian pertemuan 21 negara anggota APEC. Bermanfaat?

    Coba saja simak yang dituturkan oleh Erwin Aksa, anggota ABAC, seperti dipublikasikan sejumlah media nasional. “Usaha kecil dan menengah Indonesia perlu accelerate center yang harus ada di 21 negara anggota APEC.” Untuk mengembangkan usaha kecil, juga diperlukan “all in one e-commerce yang akan diadopsi dari Cina, Taiwan, dan Taipei.”

    Begitulah kalau pengusaha besar yang berbicara. Istilahnya muluk-muluk. Tapi kalau usaha kecil yang ditanya, kebutuhan mereka sebenarnya sederhana. Akses pasar dan modal. Setidaknya, itu muncul di lingkungan yang saya tahu tentang usaha kecil, yaitu pengusaha bunga hias di Rawa Belong, Jakarta Barat..

    Ini hanya satu contoh. Sudah lebih dari tiga generasi masyarakat di

    Selengkapnya »dari Ekonomi Metro Mini
  • Penangkapan Akil, Kintil Koleksi Mewah Wawan

    DI antara aksi luar biasa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada minggu ini, tertangkapnya Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, berpotensi jadi kisah panjang. Apalagi, KPK ikut cekal Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, kakak kandung Wawan, ke luar negeri demi kepentingan penyelidikan.

    Penangkapan Wawan ini terkait dugaan suap terhadap Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar pada sidang sengketa Pilkada Kabupaten Lebak. Pasangan Partai Golkar kalah. Tak senang, kasusnya digugat dan masuk ke Mahkamah Konstitusi. Lembaga ini kemudian memutuskan keharusan pemungutan suara ulang.

    Wawan dikaitkan dengan kasus ini. KPK masih menyimpan perannya. Namun disebutkan, ada uang Rp 1 miliar yang diduga disiapkan untuk Akil, yang saat ini meringkuk di tahanan KPK.

    Asal tahu saja, Ketua DPD Golkar Banten adalah Hikmat Tomet, suami Atut Chosiyah atau kakak ipar Wawan.

    Tampaknya kasus Wawan, suami Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, tidak berhenti sampai di situ. Indikasinya bisa dilihat dari

    Selengkapnya »dari Penangkapan Akil, Kintil Koleksi Mewah Wawan
  • Petaka dari Mobil Murah

    MUMPUNG gairah mobil murah masih hangat, mari intip yang terjadi di Thailand. Negara ini punya program serupa, yaitu memberikan fasilitas keringanan pajak pada industri otomotif.

    Kebijakan ini diambil pemerintah Thailand setelah bencana banjir pada 2011 yang membuat industri otomotif mengkerut. Dari sini, keluarlah kebijakan: pembeli mobil pertama diperkenankan memiliki mobil murah itu.

    Serta-merta warga Negeri Gajah Putih memesannya. Menurut catatan IHS Global Automotive, perusahaan riset ekonomi global asal Amerika Serikat, ada sekitar 1,2 juta konsumen yang membeli dengan cara kredit.

    Dalam hitungan Bank Dunia, seperti dikutip kantor berita Reuters, potensi pendapatan pajak negara yang hilang mencapai $2,5 miliar. Tersedot oleh mobil murah karena mendapat pembebasan pajak.

    Ternyata, kebijakan tersebut memicu munculnya masalah baru. Sekitar 10 persen konsumen mobil murah sudah tak mampu membayar cicilan bulanan.

    Selanjutnya mudah ditebak. Penyaluran kredit konsumsi, khususnya untuk

    Selengkapnya »dari Petaka dari Mobil Murah
  • Wajah Pemerintah di Mobil Murah

    MENARIK saat menyimak keberatan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atas kebijakan mobil murah. Produk yang lahir melalui Peraturan Menteri Perindustrian itu memang pantas dikritisi karena aneh. Mengapa?

    Kebijakan mobil murah dan ramah lingkungan atau LCGC, sesuai aturan, mensyaratkan harga jualnya tidak lebih dari Rp95 juta. Kalaupun ada penyesuaian harga, maksimum 15 persen. Selain itu, bahan bakar yang digunakan memiliki kadar oktan minimum 92 alias tidak didesain menggunakan bahan bakar bersubsidi.

    Hampir semua merek mobil yang beredar di Indonesia dipastikan punya produk andalan mobil murah. Kisaran harganya mulai dari Rp70-an juta. Selama ini, dengan alokasi dana seperti itu, tentu Anda hanya bisa dapat kendaraan bekas. Tapi kali ini, produk baru plus iming-iming irit, yaitu satu liter berdaya tempuh 20 kilometer.

    Dengan harga tergolong murah, tingkat permintaan terhadap produk mobil murah bakal tinggi. Dampaknya mudah ditebak, jalan-jalan Jakarta yang sudah macet bakal makin padat.

    Selengkapnya »dari Wajah Pemerintah di Mobil Murah
  • Ekonomi Sehat, Tapi Lagi Meriang

    OPTIMISME dan ngeles rupanya beda tipis. Menko Perekonomian Hatta Rajasa yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional ini masih bilang ke media bahwa ekonomi Indonesia masih sehat.

    Mungkin saja, kalau hanya melihat angka statistik pertumbuhan yang masih di atas 5 persen. Tapi dengan mengatakan bahwa konsumsi dan pembangunan infrastruktur masih kencang, rasanya penjelasan seperti itu agak kurang jujur.

    Karena itu, pernyataan mirip kampanye itu mungkin lebih tepat disebut ngeles, bukan menebar optimisme. Mungkin lebih arif mengatakan bahwa ekonomi kita dalam tekanan. Dan selanjutnya bilang, “pemerintah sedang berusaha mengatasinya.”

    Sebab memang seperti itulah adanya. Tak perlu ditutupi, tapi juga tidak patut didramatisasi.

    Data-data yang ada memperlihatkan kondisi saat ini dengan gamblang. Konsumsi masyarakat, yang selama ini menjadi penopang terpenting dalam pertumbuhan ekonomi, diperkirakan bakal turun.

    Indikasinya bisa dilihat pada hasil survei Bank Indonesia. Survei itu menyebutkan

    Selengkapnya »dari Ekonomi Sehat, Tapi Lagi Meriang
  • Mengintip Ulasan Suze Orman Soal Investasi

    DI tengah gonjang-ganjing pasar keuangan dan makro ekonomi global seperti sekarang, mungkin banyak investor pemula yang bingung bagaimana menyikapi investasinya. Apalagi buat yang baru berniat menanam dana.

    Tadi pagi, secara kebetulan, ada ulasan Suze Orman yang dikenal sebagai guru keuangan personal di CNBC. Wanita yang punya program dengan namanya, “Suze Orman Show” itu menyarankankan tiga hal menarik terkait dengan investasi, terutama dalam situasi seperti sekarang.

    Berikut ini saya ulas kembali dengan menambahkan sedikit penjelasan dan contoh yang mudah-mudahan lebih relevan untuk kasus Indonesia. Maklum, Suze Orman adalah satu di antara 10 pesohor paling berpengaruh di dunia, lahir dan hidup di Amerika sehingga sudut pandang negaranya sulit dilepaskan.

    1. Gunakan perhitungan biaya dengan patokan dolar.
    Dolar Amerika, suka atau tidak,  merupakan mata uang acuan di pasar internasional. Orman menyarankan agar dalam investasi, kita menetapkan besaran tertentu, sekecil apa pun. Katakanlah

    Selengkapnya »dari Mengintip Ulasan Suze Orman Soal Investasi
  • Masyarakat Makin Enggan Menabung

    Pertumbuhan tabungan masyarakat di bank makin kecil. Pada semester pertama tahun ini yang berakhir Juni, hanya tumbuh 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, pada 2010 masih tumbuh 37 persen.

    Tabungan masyarakat yang tercantum sebagai dana pihak ketiga dalam pembukuan bank merupakan modal sangat penting bagi kegiatan perbankan. Bahkan hingga saat ini, lebih dari 90 persen sumber dana bank umum berasal dari uang masyarakat, baik dalam bentuk tabungan maupun deposito.

    Sampai semester pertama 2010, masyarakat masih sangat antusias menyimpan dananya di bank. Hal tersebut bisa terlihat dari pertumbuhannya yang mencapai 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Namun setelah itu, tingkat pertumbuhannya terus menurun.  Sampai akhirnya menyentuh 14 persen pada semester pertama tahun ini.



    Tentu banyak hal yang mungkin jadi penyebabnya. Bisa karena daya tarik perbankan yang makin redup di mata masyarakat atau memang publik makin teliti dalam memilih tempat untuk menyimpan

    Selengkapnya »dari Masyarakat Makin Enggan Menabung
  • Bijak Menyikapi Utang Properti

    Seorang teman berencana mengambil kredit untuk rumah pertamanya. Sejatinya, dia punya kemampuan membayar cicilan dengan jangka waktu 10 tahun. Tapi maunya malah 15 tahun. “Kalau bisa sih lebih dari itu,” tuturnya.

    Alasan yang disampaikan, karena kredit properti itu termasuk utang yang baik, seperti didengar selama ini.  Dalilnya, kenaikan nilai aset selalu lebih tinggi dibandingkan suku bunga pinjaman ataupun inflasi.

    Tentu asumsi itu tidak salah. Namun hati-hati, bisa melenakan.

    Sekadar ilustrasi, katakanlah suku bunga pinjaman rata-rata 10 persen per tahun. Dengan asumsi kenaikan harga 15 persen, berarti ada selisih 5 persen. Rasio kenaikan harga terhadap suku bunga masih positif.

    Dengan lain kata, sekiranya dalam situasi terburuk tak mampu melanjutkan kredit, rumah bisa dijual. Dengan rasio kenaikan yang positif itu, tentu ketika rumah dijual daya bayar masih kuat plus ada sisa.

    Begitulah kira-kira alur pemikirannya. Ada juga yang membandingkan kenaikan harga dengan inflasi, sehingga

    Selengkapnya »dari Bijak Menyikapi Utang Properti

Penomoran Halaman

(72 Artikel)