Postingan Blog oleh KontraS

  • Memperingati 300 Minggu Aksi Kamisan

    They're dancing with the missing..
    They're dancing with the dead..
    They dance with the invisible ones..
    One day we'll dance on their grave..
    They dance alone..

    - Sting-

    Seberapa pentingkah angka 300 untuk anda?  Setidaknya saya masih mengingat, uang dengan nominal itu pernah menjadi bekal saku saat dulu duduk di bangku SD. Cukup untuk membeli sarapan bubur dan makan “sego megono” saat jam istirahat.

    Hal lain dari angka “300” yang saya ingat adalah sebuah film dari adaptasi novel grafis Frank Miller yang konon mengangkat kisah peperangan 300 tentara Sparta melawan Persia.

    Angka 300 juga bisa menjadi kumpulan hari dalam hitungan waktu 10 bulan, jika satu bulan terdiri dari 30 hari.

    Bagaimana jika 300 kali itu adalah mewakili minggu?

    Artinya sudah kurang lebih enam tahun jika demikan. Bagaimana jika dalam waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar itu ada yang terus berdiri di depan Istana Presiden?

    Ini bukan rekayasa apalagi ingin mencari sensasi atau rekor Muri.

    Enam tahun itu mereka berdiri di

    Selengkapnya »dari Memperingati 300 Minggu Aksi Kamisan
  • Lima Salah Kaprah Hak Asasi

    Di tingkat konstitusional, Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia sudah mengalami perbaikan selama 12 tahun. Tetapi pada kenyataan, kondisi HAM masih tidak memuaskan. Kekerasan baru cenderung dibiarkan terjadi, sementara kekerasan lama tak pernah terselesaikan (seperti kasus Munir). Tak heran ketika pejabat tinggi kantor HAM PBB Navi Pillay datang ke Indonesia, dia memberi catatan keras kepada pemerintah.

    Salah satu penyebab kemandekan penegakan HAM adalah salah kaprah yang terjadi di kalangan pejabat, petugas hukum, serta masyarakat Indonesia. Apa saja salah kaprah itu?

    1. ‘HAM bertentangan dengan nasionalisme dan budaya lokal.’

    Hak asasi dianggap sebagai budaya Barat yang memuja individualisme dan mengganggu kesatuan Indonesia. Padahal, rasa kritis setiap orang datang dari ketiadaan pelayan negara. Atau hilangnya faktor penopang keberadaan setiap manusia.

    Daya kritis ini bisa muncul dari setiap orang yang berada di tengah komunitas dan bisa meluas hingga menjadi daya kritis bersama. HAM

    Selengkapnya »dari Lima Salah Kaprah Hak Asasi
  • Maria Katarina Sumarsih

    Namanya Maria Katarina Sumarsih. Ia lahir dari keluarga sederhana pada 5 Mei 1952, di Kabupaten Semarang. Ayahnya, Mitroredjo, adalah seorang petani yang berpesan kepada anak-anaknya untuk menjalani hidup sederhana serta terus mengejar ilmu pengetahuan yang tak lekang dimakan usia.

    Pada 1966, Sumarsih mendaftar ke sebuah Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Salatiga. Di kota itu dia berjumpa dengan seorang mahasiswa Universitas Satya Wacana bernama Arief Priyadi, yang kelak menjadi suaminya. Pada 5 Desember 1976, Sumarsih dan Arief menerima sakramen pernikahan di Gereja Santo Para Martir Jepang, Salatiga.

    Selang setahun mereka pindah ke Jakarta. Pada 15 Mei 1978, putra pertama mereka lahir. Mereka menamakannya BR Norma Irawan. Dua tahun kemudian, Wawan mendapat adik perempuan: BR Irma Normaningsih.

    Rutinitas Sumarsih makin padat ketika memutuskan bekerja sebagai pegawai negeri di Sekretariat Jenderal DPR RI. Dia sempat menjabat sebagai Sekretaris Fraksi Golkar di masa Orde Baru —

    Selengkapnya »dari Maria Katarina Sumarsih: Konsistensi Perjuangan Seorang Ibu Mencari Keadilan