• “Ya ampun… hari gini masih kirim-kiriman kartu pos?”

    Mungkin itu anggapan yang timbul saat pertama kali kamu mendengar ajakan berkirim dan bertukar kartu pos. Di zaman sekarang yang serba gampang, sebuah pesan dapat terkirim dalam hitungan detik — tak pedulu seberapa jauh si penerima berada.

    Lalu kenapa masih ada yang tertarik berkirim kartu pos, yang makan waktu berhari-hari untuk sampai?



    “Jangan dibandingkan dengan teknologi berkirim kabar zaman sekarang, karena bagi saya kartu pos yang wujudnya bisa disentuh ini jauh lebih bermakna dari sekedar SMS/email,” ujar Putri Fitria, salah satu penggagas Komunitas Card To Post.

    Di komunitas Card To Post, kamu bisa menemukan banyak manfaat dengan berkirim kartu pos sesama anggotanya. Komunitas ini merupakan sebuah gerakan online untuk mengajak siapa saja mengirimkan dan membangkitkan kembali masa kejayaan kartu pos. Mau nostalgia dengan masa lampau, di sinilah tempatnya.

    Komunitas ini berawal dari Rizki Ramadhan yang senang mengirimkan gambar

    Selengkapnya »dari Card To Post: Kartu Pos Masa Kini
  • Bukan pemandangan aneh jika hampir setiap lampu merah di Jakarta dihiasi dengan anak-anak kecil berkeliaran merajai jalanan tanpa pengawasan orangtua. Kota metropolitan sebesar ini menyimpan banyak kisah dari mereka yang mempertahankan hidup dengan mengamen, meminta-minta, bahkan mencopet.

    Tampaknya, di balik gedung-gedung megah yang menjulang tinggi, Jakarta bukan tempat yang ramah bagi mereka. Umurnya hanya berkisar 5-17 tahun, bahkan ada yang lebih muda lagi. Bermodalkan rasa kasihan dari penumpang bis kota, pengendara mobil pribadi atau siapa pun yang mereka temui, mereka berusaha mendapatkan hidup yang lebih baik.

    Isu tentang anak jalanan dan masyarakat miskin memang seakan tiada habisnya, namun apakah dalam praktiknya masih adakah orang yang tulus bekerja sebagai relawan untuk mereka?

    Savestreetchild adalah sebuah komunitas yang mengajak tangan-tangan independen untuk membantu dan merangkul berbagai lembaga tempat bernaungnya anak jalanan — yang kebanyakan telah mati suri karena

    Selengkapnya »dari Savestreetchild: Gerakan Peduli Anak Jalanan
  • Melakukan perjalanan jauh menggunakan transportasi umum menjadi alternatif yang tepat saat kamu memilih bersantai ketimbang mengeluh saat mengendarai mobil pribadi. Salah satunya dengan menggunakan bus.

    Selain dapat mengurangi kemacetan, kamu dapat menikmati pemandangan hijau di sepanjang perjalanan atau sekadar membaca buku dan (mungkin) mengarang puisi. Dengan harga tiket yang terjangkau, berbagai latar belakang sosial masyarakat dapat kamu temui.

    Tentunya, hal ini bisa menjadi pengalaman yang baru saat kemudian kamu memutuskan untuk mengenal dan mengobrol dengan orang yang baru saja kamu temui — yang duduk di sebelah.

    Begitulah yang dirasakan oleh BisMania Community, orang-orang yang memilih melakukan perjalanan dengan bus. Tak hanya itu, mereka juga mencintai bentuk bus, pengalaman perjalanannya dan menikmati setiap waktu yang dihabiskan di dalam bus.

    Singkatnya, komunitas ini tempat berkumpulnya para pecinta bus.

    Budi Kurniawan, bendahara BisMania Community bercerita tentang sejarah

    Selengkapnya »dari BisMania Community: Tempat Berkumpulnya Pecinta Bus
  • Akhir pekan biasa dimanfaatkan orang untuk beristirahat. Tak banyak yang meluangkan waktunya untuk berkumpul dan belajar. Maklum, mereka telah lelah bekerja lima hari penuh di kantor.

    Namun, berbeda dengan anggota dari Komunitas Senang Bicara (yang sebagaian besar merupakan pekerja kantoran). Mereka berkumpul untuk saling menginspirasi.

    Misalnya yang terjadi pada sebuah Sabtu beberapa waktu lalu. Komunitas Senang Bicara mengadakan pertemuan (yang disebut dengan Kongkow Senang Bicara) di sebuah restoran. Kegiatan ini dimulai dengan saling berbagi cerita dari setiap orang yang hadir tentang masalah yang mereka hadapi ketika tampil di depan umum.

    Nila Kresna sebagai pendiri membuka acara. Dia membenarkan bahwa salah satu ketakutan terbesar yang umum terjadi (dan mungkin terjadi pada diri kita sendiri) adalah berbicara di depan orang banyak. “Sering kali tidak mengambil kesempatan tampil dan mengasah keterampilan berbicara di depan umum hanya karena rasa tidak percaya diri, takut gagal dan

    Selengkapnya »dari Komunitas Senang Bicara: Asah Keterampilan Tampil di Depan Umum
  • Komunitas pelari Jakarta Indo Runners bersama grup pemerhati lingkungan WWF mengajak masyarakat umum untuk berlari sembari meningkatkan kepedulian terhadap badak di Ujung Kulon. Acara yang bertajuk “Run Rhino Run” ini akan berlangsung pada 24 Juni 2012.

    Para pelari akan menempuh lintasan alami sepanjang 10 kilometer, melewati pedesaan dan pantai di kawasan penyangga Taman Nasional Ujung Kulon. “Ini merupakan kesempatan yang unik bagi Indo Runners” kata Yasa Chatab dari Indo Runners saat ditemui konferensi pers di Gloomy Café, fX.

    Sebagai pelari urban, komunitas Indo Runners mengeluhkan berlari di belakang bus dan menghirup asap kendaraan bermotor. Sangat sulit untuk menemukan kawasan hijau untuk berlari sambil menghirup udara segar di sekitar.

    Demikian pula badak bercula satu yang tinggal di Ujung Kulon. Populasinya saat ini hanya sekitar 50 ekor individu di alam liar. Mamalia besar terlangka di dunia ini, sedang berada di ambang kepunahan.

    Berminat mengikuti “Run Rhino Run”? Informasi

    Selengkapnya »dari Indo Runners Peduli Badak Melalui Lari
  • Zombie ternyata punya penggemar. Dua komunitas penggemar zombie di Indonesia, IZoC dan Kompi Zombie adalah sekumpulan orang yang kagum atas evolusi zombie dari masa ke masa. Mulai dari tokoh zombie di awal kemunculannya yang hanya mampu berjalan seperti layaknya mayat hidup, kemudian memakan manusia dan hingga kini, zombie pun bisa berlari dan melakukan parkour.

    Tak tanggung-tanggung, anggota dari kedua komunitas ini sudah mencapai ribuan di dunia maya. IZoC memiliki anggota sebanyak 1.100 secara online dan sekitar 50 orang anggota aktif, sering melakukan kegiatan offline. Sedangkan Kompi Zombie memiliki 2000-an di halaman Facebook mereka.

    Foto: IZoC (Indonesian Zombie Club)

    Pada dasarnya komunitas ini sama-sama berisikan orang-orang yang menyukai zombie. Namun, apa sih yang membedakan kedua komunitas ini?

    1.    IZoC (Indonesian Zombie Club)

    Membayangkan sebuah kota yang seluruh isi penghuninya terkena virus zombie dan hanya ada satu orang yang bertahan dari virus tersebut, mungkin tidak pernah terlintas di benak kita.

    Selengkapnya »dari Wabah Zombie Merebak di Indonesia
  • Chiptune Music: Memaksimalkan Medium yang Minimal

    Tulisan di Beranda Komunitas kali ini dipersembahkan oleh Gilang Nugraha, yang bergiat di komunitas pecinta musik chiptune di Indonesia. Penasaran apa itu musik chiptune, dan kegiatan komunitasnya? Yuk langsung simak tulisannya.


    Anda masih ingat rasanya bermain game video di era keemasan Nintendo dan Gameboy? Tampilan grafis 8 bit sederhana menemani Anda bermain Super Mario Bros, Legend of Zelda, atau Donkey Kong. Musik latar ceria yang terdengar menciut-ciut dan sedikit kasar menambah keasyikan dan semangat hingga level terakhir.

    Kenangan masa kecil menjadi alasan bagi beberapa orang untuk melestarikan musik chiptune — musik yang biasa terdengar di game video klasik — untuk dipadukan dengan aneka jenis alat musik lainnya.

    Chiptune (juga dikenal dengan nama lain chipmusic atau micromusic) sebenarnya bukanlah genre musik, melainkan jenis fidelasi suara yang dihasilkan menggunakan suatu media atau perangkat keras tertentu. Chiptune dibuat dari format suara yang yang telah disintetiskan atau

    Selengkapnya »dari Chiptune Music: Memaksimalkan Medium yang Minimal
  • Saat masih kecil, kita diajarkan untuk memiliki impian pekerjaan saat dewasa nanti. Beragam jenis cita-cita pun terlontar, mulai dari ingin menjadi pemadam kebakaran, masinis, pelaut hingga ingin memiliki toko kue.

    Kami bertanya kepada fans Yahoo! Indonesia di Facebook mengenai cita-cita mereka. Berikut ini lima jawaban paling populer yang kami dapat:

    1. Dokter

    Meskipun menggapainya tak semudah mengimpikannya, dokter ternyata masih menjadi cita-cita yang paling populer di anak-anak. Entah mungkin karena pengaruh mudahnya mengikuti tren cita-cita keren teman-teman lainnya saat masih kecil. Namun, setelah dewasa tidak sedikit orang yang harus meninggalkan impian mereka sebagai dokter dan memilih karier yang lebih cocok dengan karakter diri sendiri.

    2. Pilot

    Seberapa sering kamu diajak oleh ayah dan ibu melihat pesawat di bandara? Kebiasaan untuk melihat pesawat lepas landas dan terbang di angkasa ternyata bisa menjadi salah satu acuan keinginan seseorang untuk berkarier sebagai seorang pilot

    Selengkapnya »dari 5 Cita-cita Terpopuler di Masa Kecil
  • Jika sebagian besar waktu senggang kamu banyak dihabiskan untuk menonton film di bioskop, ini saat yang tepat untuk bergabung dengan Moviegoers Indonesia.

    Komunitas ini mengajak kamu menyaksikan film yang sedang diputar di bioskop dengan teman-teman yang punya minat sama.

    Moviegoers Indonesia
    Hingga saat ini, Moviegoers Indonesia telah mengadakan tujuh kali nonton bareng. Komunitas ini resmi mengadakan nonton bareng pertama kali saat pemutaran film "The Raid" di Blitz Megaplex, Grand Indonesia pada 24 Maret 2012.

    “Yang mendaftar cukup banyak, kita sampai harus pesan satu studio untuk menampungnya,” kata Rivki, salah satu penggagas komunitas Moviegoers Indonesia.

    Awalnya dari ketidaksengajaan. Mereka mampu mengumpulkan orang-orang lewat media sosial hingga 25 orang setiap kali kopi darat. Melihat semakin banyaknya peminat yang ingin mengikuti kegiatan nonton bareng, akhirnya dibentuklah komunitas Moviegoers Indonesia.

    Rivki mengungkapkan berbagai keuntungan yang didapat saat nonton bareng dengan Moviegoers

    Selengkapnya »dari Moviegoers Indonesia: Tidak Lagi Menonton Sendirian
  • Perbincangan tentang pelestarian lingkungan dan perawatan bumi memang tidak akan ada habisnya. Begitu banyak faktor, kepentingan, dan ketidaksadaran yang membuat upaya melestarikan sumber kehidupan sering kali gagal.

    Salah satu contohnya adalah plastik, musuh utama bumi yang penggunaannya sehari-hari makin mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, hampir setiap hari seorang manusia bisa memproduksi sampah plastik begitu banyak. Padahal, sampah plastik memakan waktu ratusan tahun untuk terurai.

    Beberapa waktu lalu, kami sempat bertanya pada pembaca Yahoo! di Facebook, tentang bagaimana cara mereka untuk mengurangi konsumsi plastik dalam hidup sehari-hari. Inilah beberapa tanggapan mereka.

    Ami Wong Endi: Bawa tas sendiri dong.

    Ginanjar Hidayatullah: Beli barang atau sesuatu bawa tas sendiri, jadi pas beli langsung dimasukkan ke tas :)

    Dwi Yuniarsi: Kalau belanja banyak, minta kardus. Kalau nggak terlalu banyak pakai kantong belanjaan yang selalu sedia dalam tas, kalau cuma 1-2 barang ditenteng saja

    Selengkapnya »dari Cara Mengurangi Plastik

Penomoran Halaman

(70 Artikel)