Newsroom Blog

Akhir Kata untuk Commet

Terhitung sejak 3 Desember 2012, kartu Commet dinyatakan wafat — dalam usia yang belum sampai satu tahun. Dengan rasa duka yang sedalam-dalamnya, izinkan saya mewakili para pencinta komuter untuk mengenang riwayat beliau.

Kartu Commet (singkatan “commuter electronic ticket”, tiket elektronik komuter) lahir pada tanggal 1 Februari 2012. Ia meneruskan darah orangtuanya: KTB (Kartu Tanda Berlangganan) dan KLS (Kartu Langganan Sekolah), yang merupakan kartu langganan bulanan untuk pengguna tetap kereta komuter.

Pada akhirnya, nasib Commet memang mirip komet. Melejit cepat kemudian hilang dari pandangan.

Awalnya, kehadiran Commet membawa secercah harapan bagi para pencipta dan pencintanya, bahwa kartu ini dapat menjadi benih sukses sistem tiket elektronik, sebagaimana di kota-kota besar lain di dunia. New York sudah menjalankan sistem elektronik sejak 1994. Hongkong sejak September 1997. Singapura? 2001.

Tetapi di Jakarta, sampai tahun 2012 tiket masih manual. Tiket dijual di loket, lalu ditunjukkan ketika masuk peron (untuk dilubangi). Tiket lalu dilubangi sekali lagi di dalam kereta, dan diserahkan kepada petugas saat penumpang keluar stasiun. Ketinggalan zaman. Maka itulah kehadiran kartu Commet ini merupakan satu kemajuan berarti.

Commet berfungsi sebagai alat pembayaran pengganti uang tunai, dengan sistem yang serupa dengan pulsa telepon seluler prabayar. Pemilik kartu Commet mengisi saldo di dalam kartu, lalu saldo tersebut akan berkurang setiap kali pengguna menggunakan kereta.

Dengan kartu Commet, pengguna cukup menempelkan kartu pada mesin sensor ketika masuk peron stasiun keberangkatan, lalu melakukan lagi hal serupa ketika keluar peron di stasiun tujuan. Cepat dan praktis. Penumpang tidak perlu lagi mengeluarkan uang receh atau menerima kembalian. Pengelola tidak lagi perlu mencetak kertas tiket dan menyediakan penjaga tiket berlapis tiga. Rekaman seluruh perjalanan tercatat dengan baik di sistem.

Secara teknis, sistem elektronik juga memungkinkan pengelola untuk memberikan pelayanan yang lebih adil dan memuaskan. Tarif kereta bisa ditetapkan berdasarkan jarak atau zona, yang tentunya lebih meringankan bagi para pengguna kereta ketimbang sistem tarif rata selama ini.

Namun, sayangnya, sejak lahir hingga menutup mata selama-lamanya, kartu Commet tidak mampu merebut hati pelanggan. Hidupnya luntang-lantung tidak jelas. Betapa tidak? Sejak awal-awal kehadiran, Commet sudah menambah kerepotan baru. Para pengguna diminta mengisi formulir dan melampirkan fotokopi kartu identitas — padahal data seperti itu tidak diperlukan dalam penggunaan transportasi publik.

Keluhan terhadap kartu Commet dari komunitas KRL Mania sudah disuarakan semenjak awal pelaksanaan. Keluhannya bermacam-macam. Misalnya sering bermasalah, petugas sering tidak mengerti masalah, dan belum ada sterilisasi stasiun.

Potensi-potensi kartu Commet untuk memberikan kenyamanan pada pengguna juga tidak dikembangkan. Pengguna rutin kartu Commet sama sekali tidak mendapatkan insentif tarif. Sistem tarif pun tetap rata, tidak disesuaikan dengan jarak.

Dalam keterangannya, PT KCJ lantas mengatakan bahwa kebijakan menarik kartu Commet berkaitan dengan rencana penerapan sistem e-ticketing menyeluruh akan diterapkan pada 2013. Padahal, PT KCJ baru saja bulan lalu (1-5 November 2012) memasarkan kembali 5.000 unit kartu Commet, lalu hendak menariknya kembali.

Kartu Commet belum juga berarti, tetapi sudah mati. Duka terdalam untuk beliau. Akhir kata, semoga penerusnya nanti tidak mati muda dan sia-sia juga.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.