Newsroom Blog

Andrea Sebaiknya Membalas Dengan Tulisan

Tempo/Agung Pambudhy


Oleh Sirajudin Hasbi


“Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi alhamdulillah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi bestseller dunia,” kata novelis Andrea Hirata (“Laskar Pelangi”) dalam suatu konferensi pers seperti yang dikutip oleh salah satu media nasional terkemuka.

Sepenggal pernyataan itu sontak jadi kontroversi yang ramai diperbincangkan sepekan terakhir.

Damar Juniarto, seorang publisis, menulis sanggahan terhadap pernyataan Andrea. Dia menuliskannya dalam blog Kompasiana miliknya, dengan judul “Pengakuan International Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya”.

Ada tiga poin utama sanggahan Damar. Pertama, kata Damar, klaim Andrea mengenai penulis Indonesia yang mendunia — setelah seratus tahun penantian — patut diperdebatkan. Sebabnya, Andrea mengesampingkan nama besar seperti Pramoedya Ananta Toer, satu-satunya sastrawan Indonesia yang hingga kini pernah menjadi nominasi peraih Nobel Sastra.

Ada pula nama lain seperti NH Dini, Chairil Anwar, Ahmad Tohari, Sutan Takdir Alisjahbana dan sastrawan penting Indonesia lainnya.

Kedua, Andrea mengatakan “The Rainbow Troops” (versi bahasa Inggris “Laskar Pelangi”) diterbitkan oleh Farrar, Straus and Giroux (FSG) — sebuah penerbit terkenal yang telah menerbitkan banyak karya sastra dari sastrawan termasyhur dunia. Damar bilang, klaim ini salah. Yang menerbitkan bukanlah FSG melainkan Sarah Crichton Books.

Sarah Crichton Books adalah merek turunan (imprint) milik FSG yang menerbitkan buku-buku yang berat ke sisi komersial. Andrea Hirata membantah tegas sanggahan Damar yang satu ini. Dia bilang, dirinya hanya memiliki kontrak penerbitan dengan FSG, sementara Sarah Crichton Books membantu dalam proses penyuntingan.

Ketiga, Damar menyoroti label “International Best Seller” dalam sampul “The Rainbow Troops”. Butik Yayinlari, penerbit yang mendistribusikan novel ini di Turki ini telah mencantumkan label “International Best Seller” di sampul. Artinya, setidaknya buku tersebut telah terjual 70 persen dari cetakan awal. Namun, secara global sebenarnya masih patut dipertanyakan karena sejauh ini novel ini baru dicetak ulang di Vietnam padahal menurut Maggie Tiojakin yang ditanyai oleh Damar, label bestseller biasanya baru berhak dicantumkan di novel yang telah dicetak ulang di lebih dari 10 negara.

Baik Damar maupun Andrea patut dihargai dalam hal sanggah-menyanggah ini. Sebab, Damar berusaha memberikan informasi yang belum diberikan media lain (demi kebaikan iklim keterbukaan dan pentingnya riset). Sementara Andrea, dia telah menginspirasi pemuda Indonesia untuk berkarya nyata mengenalkan Indonesia ke dunia, setidaknya 78 negara yang menjadi target pemasaran novel “The Rainbow Troops”.

Namun, yang disayangkan adalah perkembangan terbaru dari masalah ini. Andrea Hirata dengan didampingi oleh Ihza Law Firm menuntut Damar Juniarto ke jalur hukum atas tuduhan pencemaran nama baik. Jujur saja, ini bukan sikap yang bagus bagi seorang penulis seperti Andrea Hirata.

Di masa lalu, banyak penulis hebat kita, seperti Pramoedya Ananta Toer, yang harus sering berurusan dengan hukum bahkan diasingkan lantaran tulisannya menyinggung penguasa. Tetapi kalau dulu penulis yang dituntut, kini terbalik: penulis yang menuntut karena tersinggung.

Sebaiknya Andrea Hirata bersikap lebih bijak lagi. Sebagai penulis dia hendaknya paham betul pentingnya berbalas tulisan. Ya, tulisan dibalas tulisan atau melakukan kritik di atas kritik yang ditujukan padanya. Itu tentunya elegan.

Dengan membalas tulisan dengan tulisan, Andrea sebenarnya akan bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk berdebat dengan mengedepankan intelektualitas, bukan adu kuat di mata hukum kita yang masih lemah pada si kuat dan merasa paling berkuasa atas si miskin.

Andrea bisa pula menanggapi semua kritik yang ditujukan kepadanya dengan menuliskan karya baru. Karya yang betul-betul sastra, tidak sekadar novelisasi kisah hidupnya seperti yang dia tulis dalam tetralogi Laskar Pelangi maupun Sebelas Patriot. Dibanding bersusah payah mengajukan gugatan hukum yang menguras banyak energi, alangkah baiknya energi positif miliknya disalurkan untuk menulis karya sastra baru yang mewarnai khazanah sastra Indonesia yang mulai minim karya sastra bermutu.

*) Penulis adalah penggemar sepak bola dan penggemar sastra, tinggal di Yogyakarta

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.