Newsroom Blog

Berita Buku Minggu Ini, 26 Januari 2014

Setiap akhir pekan, kami akan memilihkan berita-berita atau tautan terbaik soal buku dan membaca untuk Anda yang terjadi dalam sepekan terakhir.

Berita atau tautan ini bisa soal penerbitan buku baru, pernyataan atau wawancara dari seorang penulis, resensi, atau hal-hal menarik untuk merayakan asyiknya membaca.

Berikut link pilihan kami pekan ini:

Menonton percakapan dua penulis besar
Penulis Kanada Margaret Atwood berbincang dengan peraih Nobel Sastra 2013 Alice Munro lewat Google Hangout. Mereka membahas buku yang sedang dibaca Munro sekarang, (The Once and Future Great Lakes Country karya John L Riley) sampai tentang situasi Munro mulai menulis cerita pendek di Kanada pada 1950an-1960an.

Alice Munro memenangkan Nobel Sastra pada 2013 lalu lewat karya-karyanya yang bertempat di Kanada. Lansekap danau, terutama Lake Huron, sering muncul dalam cerita-ceritanya. Munro bukan hanya maestro cerita pendek, ia mengangkat format tersebut, sebuah bentuk tulisan yang dianggap kurang bergengsi dibandingkan novel, ke tingkat yang tinggi.  Margaret Atwood adalah seorang penulis Kanada yang karya-karyanya banyak menyerempet tema fiksi sains dan posisi perempuan dalam kemajuan teknologi.

Menyenangkan melihat dua perempuan yang berteman dan menggeluti bidang yang sama membahas sesuatu yang mereka kerjakan dengan baik. Selain tentu saja melihat bahwa koneksi internet di Kanada juga kadang tak selancar seperti yang dibayangkan tentang koneksi internet di negara-negara dunia pertama.



Tahun membaca perempuan
Ajakan di akun Twitter milik Joanna Walsh lewat tagar #readwomen2014 tampaknya mulai menjadi sebuah gerakan tersendiri. Harian The Guardian pun memberi sorotan khusus dengan artikel berjudul 'Tahun membaca perempuan dideklarasikan di 2014'.

Fokusnya tentu tak mengabaikan penulis pria, tapi sebuah ajakan untuk menyoroti karya-karya penulis perempuan. Vida, organisasi Amerika di bidang perempuan dan sastra, menghitung ada ketidakseimbangan akut antara bagaimana karya penulis pria dan wanita diterima dan dihargai di masyarakat. Jauh lebih banyak buku oleh penulis pria yang diresensi dan diberi sorotan, dan alhasil lebih banyak dibaca dan dibeli. Belum lagi menghitung karya penulis perempuan kulit berwarna.

Kami juga menyoroti awal gerakan ini lewat Berita Buku Minggu Ini edisi dua pekan lalu. Dan dalam dua pekan itu, ternyata gerakan yang diprakarsai Joanna Walsh telah mendapat perhatian dari media-media di dunia. Berikut daftarnya.

Tahun 2013 sudah punya delapan momen bersejarah buat perempuan di dunia sastra. Mungkin sudah saatnya  menjadikan prestasi  para perempuan di daftar itu jadi awal banyak prestasi penulis perempuan lainnya di 2014.


Novel modern dari dunia
Jika selama ini novel-novel yang mendapat perhatian banyak didominasi oleh penulis Amerika Serikat dan Inggris, mungkin situs The Modern Novel ini bisa membantu Anda yang ingin membaca karya-karya dari banyak negara lain.

Situs ini mendaftar sekitar 800 penulis dalam berbagai bahasa dari berbagai negara di dunia yang menghasilkan karya sejak awal abad 20. Daftar ini akan terus berkembang. Indonesia sudah ada di daftar. Coba lihat, siapa nama penulis novel modern kita yang terdaftar di situs tersebut? Klik di sini.


Antara buku dan musik
The Guardian memiliki seri baru, The Book Tuner yang memasangkan antara novel-novel hebat dengan album yang punya nuansa sesuai.

Jika Anda suka dengan konsep seperti ini, seri Literary Jukebox dari Brainpickings milik Maria Popova juga menawarkan hal serupa. Popova menawarkan kutipan dari sebuah buku favorit yang dipasangkan dengan lagu bertema mirip.


Unduh gratis buku seni
Getty Publications baru saja mengumumkan peluncuran Virtual Library, tempat pembaca bisa dengan bebas memilih dan mengunduh lebih dari 250 buku seni dari katalog penerbit. Situs Open Culture yang sudah mengecek koleksinya menemukan buku-buku tentang seniman Paul Cézanne dan karya-karya cat airnya di masa tua. Jika tak cukup, mash ada 474 buku seni gratis dari The Metropolitan Museum of Art and the Guggenheim.


Jane Austen, Ikon Feminis
Mempertanyakan semangat feminisme dalam karya-karya Jane Austen, menurut dosen Devoney Looser, bukan hanya perdebatan lama, tapi sangat tua. Namun, dalam kolomnya di Los Angeles Review of Books, Looser memetakan bagaimana Jane Austen, dan karya-karyanya, menjadi bagian dari pergerakan sosial kelompok perempuan pada tahun 1900an di Inggris.



PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.