Newsroom Blog

Bermain Dengan Bencana

Bencana memang bukan perkara main-main. Namun sebuah organisasi nirlaba Plus Arts asal Jepang tahu betul bagaimana cara bermain dengan bencana — tanpa menjadikannya main-main.

Plus Arts membuat pembelajaran tentang bencana, yang biasanya membuat kita merinding, menjadi pelajaran menyenangkan dengan sentuhan seni dan desain. Mereka, misalnya, membuat panduan menghadapi bencana dalam berbagai produk sehari-hari seperti sapu tangan, brosur, kalender, dan lain-lain, dengan grafis yang lucu dan memikat.

“Isu-isu sosial seperti edukasi bencana, apabila ditangani dengan seni, akan menghasilkan ide-ide yang fleksibel”, ujar Nagata Hirokazu, seorang produser yang juga ketua dewan Plus Arts, dalam lokakarya “Disaster Preparedness + Creative” 6-7 Desember 2012 kemarin, di Japan Foundation Jakarta.

Ada pula berbagai permainan, seperti kartu dan ular tangga, yang bertujuan mengajarkan pengetahuan dan prosedur penanganan bencana kepada anak-anak. “SHUFFLE”, salah satu permainan kartu yang mereka buat untuk edukasi penanggulangan bencana, memenangi penghargaan Kids Design 2010.

Tidak berkutat dengan pengetahuan saja, berbagai kemampuan menghadapi bencana juga disebarkan, antara lain dengan menggabungkan edukasi dan olahraga. Dalam program bernama “Bosai Pentathlon”, Plus Arts membuat kejuaraan yang menguji kemampuan menghadapi bencana seperti: berlari menggendong boneka seberat manusia; menembak target menggunakan alat pemadam api; juga mengangkat beban dengan tenda buatan dari kain tebal. Pemenang dengan rekor terbaik akan mendapatkan trofi dan hadiah.

Acara yang pernah mereka buat, yang tak kalah seru, adalah “Red Bear Survival Camp”. Anak-anak yang ikut serta dalam acara ini diberikan pelatihan berbagai kemampuan untuk bertahan hidup seperti teknik mengikat, memasak, membuat api, mengangkat beban, mengumpulkan air bersih, membuat kompor dan makanan darurat, dan lain-lain. Kemampuan tersebut lalu diuji.

Apabila mereka berhasil melakukannya mereka akan mendapatkan lencana — yang ternyata memang memikat bagi anak-anak.

Plus Arts berawal dari keterlibatan Nagata dalam edukasi penanggulangan bencana pada tahun 2005 (10 tahun setelah kejadian Gempa Bumi Besar Hanshin-Awaji yang menewaskan lebih dari 6 ribu jiwa). Pemerintah daerah Kobe mengajaknya bekerjasama membuat produk-produk edukasi penanggulangan bencana, khususnya gempa yang marak terjadi di Jepang, dalam format yang mudah dicerna bagi masyarakat, terutama untuk anak-anak.

Nagata lalu melakukan riset. Selain dengan menelusuri berbagai literatur dan catatan di internet, ia mewawancarai hingga 167 korban gempa di Kobe. Kepada mereka, ia mengajukan beberapa pertanyaan dasar seperti: bagaimana situasi saat terjadinya bencana, apa kesulitan yang dihadapi, bagaimana reaksi menghadapi bencana yang terjadi, dan apa yang perlu dipersiapkan seandainya ada lagi bencana yang terjadi.

Dari riset tersebut, ia menemukan berbagai pengetahuan berguna dalam menghadapi gempa, antara lain bahwa dongkrak bisa sangat berguna untuk mengangkat benda yang menimpa orang, kain tebal bisa dijadikan tandu dengan teknik yang tepat, dan koran yang diselipkan di bawah lemari bisa mengurangi kemungkinan terjatuhnya lemari.

Namun, pertanyaannya: bagaimana menyebarkan pengetahuan-pengetahuan tersebut? Dari situ, ide membuat Plus Arts pun muncul.

Apa yang telah Plus Arts kerjakan menarik perhatian banyak perusahaan. Tokyo Gas Patrol menggandeng Plus Arts untuk membuat edukasi serupa kepada para karyawannya. Bahkan Muji, salah satu perusahaan retail terbesar di Jepang, juga berminat.

Dengan Muji, Plus Arts membuat kampanye mitigasi bencana dengan menggunakan produk-produk Muji. Kampanye tersebut, menurut Nagata, mampu meningkatkan hingga 10 persen penjualan di Muji.

Program-program Plus Arts telah berkembang juga ke negara-negara lain, antara lain Mongolia, Guatemala, El Salvador, Bhutan, Thailand, juga Indonesia.

Bambang Surya Putra, Kepala Seksi Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, memuji upaya semacam ini karena mampu menambah kesiapan masyarakat pada saat bencana. “Bukan hanya tanggap darurat, tetapi juga mengarah pada upaya pengurangan risiko,” ujar Bambang dalam lokakarya tersebut.

Nagata menambahkan, apabila kegiatan seperti ini hendak dilakukan di Indonesia, diperlukan rencana kerja dan rencana anggaran yang matang. Selain itu, tentu perlu ada kepedulian dari masyarakat itu sendiri. Tanpa itu semua, upaya edukasi penanggulangan bencana akan sia-sia, katanya.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.